Hidden Marriage With Hot Teacher

Hidden Marriage With Hot Teacher
Kabar Buruk


__ADS_3

"Ada apa, Dok?" tanya Becca saat menyadari perubahan raut wajah Laila.


Laila menghela nafas panjang seraya menelan ludahnya dengan kasar, sebelum menjelaskannya kepada ibu hamil tersebut, kemudian dia meletakkan alat USG-nya setelah memeriksa kandungan Becca. Perawat membersihkan gel dingin yang tersisa di perut Becca, setelah selesai ibu hamil itu duduk berhadapan dengan Laila.


Perasaan Becca sudah tidak enak sejak tadi, apalagi melihat wajah Laila yang terlihat sangat serius, membuat hatinya semakin ketar-ketir.


"Mohon maaf, saya harus menyampaikan berita kurang mengenakan ini. Tapi, mohon untuk kuat dan sabar ya, Becca," ucap Laila sambil  menatap beberapa foto USG yang tergeletak di atas mejanya.


Nafas Becca rasanya sudah sesak saat mendengar ucapan Dokter Laila. Jantungnya berdetak tidak karuan, dan dia berusaha kuat untuk menerima kenyataan yang kemungkinan akan menyakitkan untuknya.


Laila menunjukkan salah satu foto USG lalu melingkari satu titik di foto itu, "ada miom yang tumbuh di dinding rahimmu, ukurannya sudah besar.  Miom memiliki potensi risiko komplikasi kehamilan. Komplikasi yang kemungkinan dialami seperti nyeri perut saat hamil, pendarahan, keguguran hingga bayi lahir prematur. Bayimu sangat kuat, Becca. Jarang ada janin yang bertahan saat rahim ibunya memiliki Miom," jelas Laila sambil menatap Becca dengan yang terlihat sedih dan tidak berselang menangis.


Dunia Becca seolah akan runtuh, ketika mendengar kabar yang membuatnya sangat terkejut. Tubuhnya langsyng melemas, seolah tidak ada tenaga di dalamnya.


"Apakah penyakitku ini sangat berbahaya untuk bayiku?" tanya Becca dengan suara parau di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Karena Miom di dalam rahimmu sudah berukuran 10 cm sangat berbahaya untukmu dan juga bayimu, harus segera di lakukan operasi pengangkatan miom, untuk itu kamu harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, agar kami tim dokter segera melakukan tindakan," jelas Laila lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Becca yang semakin terisak sedih.


"Sabar, ya. Kamu adalah wanita dan calon ibu yang kuat." Laila memberikan kata-kata penyemangat untuk Becca yang sedang di landa kesedihan.


"Terima kasih, Dokter," ucap Becca di sela isak tangisnya.


*


*


Untuk meredakan rasa sakit di area perutnya, dokter memberikan obat peredanyeri dan beberapa obat lain untuknya.


Becca mengusap air matanya yang terus membasahi pipi. Dia duduk di lobby rumah sakit sambil merenungi nasibnya. Tidak berselang lama, Laila datang menghampirinya sambil memberikan sebotol air minum padanya.


"Terima kasih, Dokter," ucap Becca dengan lirih, menerima sebotol air itu.

__ADS_1


"Kenapa dokter ada di sini?" tanya Becca.


"Jam prakteku sudah habis, hanya tinggal melakukan visit ke beberapa pasien yang baru melahirkan. Oh ... iya, aku dengar kamu menolak di operasi, kenapa?" tanya Laila.


"Aku tidak ingin kehilangan bayiku, Dok."


"Aku paham, tapi keputusanmu juga sangat membayakanmu sendiri," jelas Laila.


"Tidak apa-apa, yang penting aku tidak kehilangan bayiku," jawab Becca dengan suara yang bergetar. Begitu berat cobaan yang harus di lalui, ataukan ini adalah karma dari perbuatannya selama ini? tanya Becca di dalam hati.


Untuk sejenak dua wanita berbeda usia itu saling diam, dan sibuk dengan pemikiran masing-masing, tapi tidak berselang lama Becca mengungkapkan sebuah perkataan yang membuat Laila sangat terkejut.


"Dok, jika suatu saat aku tiada tapi bayiku sudah lahir ke dunia ini. Apakah dokter mau mengadopsi anakku? Karena aku tidak memiliki siapa pun lagi," ucap Becca dengan lirih dan kedua matanya berkaca-kaca.


"Astaga, Becca! Jangan berbicara seperti itu. Yakin, kalau miom yang di dalam rahimmu itu akan mengecil atau luruh dengan sendirinya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yang penting kamu terus berdoa kepada Tuhan." Laila langsung memeluk wanita hamil itu dengan erat, menyalurkan kekuatan kepadanya. Sesama wanita, tentu Laila juga turut merasakan yang di rasakan oleh Becca.

__ADS_1


Becca menumpahkan tangisnya di pelukan wanita setengah baya itu, dia merasakan kehangatan di sana, seperti di peluk oleh ibunya sendiri.


__ADS_2