
Malam harinya. Lesta berkumpul di ruang keluarga bersama suami dan kedua mertuanya. Mereka ngombrol santai membahas kuliahnya.
"Kamu jadi mengambil fakultas bisnis 'kan?" tanya Ansel pada menantunya.
"Iya, Pi," jawab Lesta diiringi dengan anggukan kepala.
"Syukurlah." Ansel bernafas lega, karena menantunya suatu saat bisa membantunya di perusahaan.
"Kenapa Papi terlihat senang? Jangan bilang kalau Papi suatu saat akan menyuruh Lesta mengikuti jejak kak Zahra," tuduh Mattew, menatap ayahnya dengan penuh selidik.
"Memangnya kenapa? Asalkan Lesta nggak keberatan, Papi rasa tidak akan masalah. Ya 'kan Lesta." Ansel menjawab, lalu meminta dukungan dari menantunya.
"Iya, Papi," jawab Lesta patuh dan hal itu membuat Mattew berdecap kesal.
Melihat suaminya marah, Lesta pun segera mengelus tangan kekar itu dengan lembut. Berharap kalau Mattew tidak marah. Lagi pula kedua mertuanya sangat baik dan menerima dirinya apa adanya tanpa membedakan kastanya, jadi tidak ada salahnya kalau dia membalas kebaikan kedua mertuanya dengan cara berbakti dan mengikuti ucapan mereka selama masih di jalan yang baik.
"Mattew, kamu juga nggak boleh marah pada istrimu. Lagi pula semua ini baru rencana," tegur Melisa pada putranya.
"Iya, Mi, maaf," ucap Mattew, kemudian berdiri dari duduknya sambil menarik tangan Lesta.
"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Melisa pada anak dan menantunya yang akan beranjak dari sana.
"Mau bikin dede bayi yang gemes," jawab Mattew tanpa filter.
__ADS_1
Wajah Lesta bersemu merah saat mendengar jawaban suaminya yang absurd, kemudian dia mencubit gemas lengan Mattew.
"Bisa tidak bicaranya itu di filter!" omel Lesta, namun suaminya hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Dasar anak edan!!! Sana pergi ... jangan lupa berikan kami cucu kembar!" ucap Ansel mengusir anak dan menantunya, tapi berujung request cucu kembar dengan sangat antusias.
"Siap, Papi! Kalau perlu aku akan memberi kembar 4 seperti Oma Jeje yang punya anak kembar 4," jawab Mattew sambil berjalan menggandeng tangan istrinya menuju anak tangga.
"Gasss!!!!" seru Ansel ikut absurd.
"Papi!" tegur Melisa pada suaminya.
"He he he he, maaf, sayang. Aku terlalu bersemangat," jawab Ansel tertawa pelan.
__ADS_1
Lesta mengerucutkan bibirnya ketika sudah sampai di kamar. Dia juga melepaskan tangan suaminya yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Sayang, kamu marah?" tanya Mattew pada istrinya yang berjalan menuju ranjang.
"Lebih tepatnya malu! Karena kamu ngomongnya nggak pakai filter!" sungut Lesta mendudukkan diri di tepian ranjang, seraya menatap jengkel pada Mattew yang berjalan ke arahnya sambil melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya.
"Kamu mau apa?" tanya Lesta heran, seraya menggeser duduknya, menatap waspada pada Mattew yang terlihat seperti singa jantang yang siap menerkam mangsanya.
"Tentu saja ingin mengadon bayi. Yuk!" ajak Mattew. Tanpa menuggu persetujuan istrinya, Mattew langsung mendorong tubuh Lesta hingga jatuh terlentang di atas ranjang, dengan cepat dia menindih tubuh yang sudah menjadi candunya itu.
"Sayang!" pekik Lesta saat suaminya berusaha menyibakkan baju tidurnya beserta dua kaca mata busa yang menutupi gunung kembarnya.
Mattew tidak mendengarkan pekikan istrinya, karena dia sudah di kuasai gairah.
"Ah ..." Lesta mendessah nikmat saat suaminya menyesap pucuk dadanya secara bergantian dan sangat rakus.
Kemudian ...
Emak Otor mau jemurin baju dulu ya🤣😜
Jangan lupa vote dan like-nya,😘
__ADS_1