
Lesta beserta suami dan kedua mertuanya pergi ke rumah sakit, mereka berempat duduk di satu mobil yang sama. Heboh. Itulah yang sedang terjadi di dalam mobil tersebut ketika Melisa menghubungi Dokter Laila.
"Ha ha ha, Laila, pokoknya menantuku nanti harus kamu periksa dengan baik! Putraku sangat hebat bukan, sekali menyemburkan benihnya langsung jadi berudu. Apa kabar dengan putramu? Kok, sampai sekarang masih asyik men-jomblo?" Melisa pamer sekaligus mengolok temannya itu melalui sambungan telepon.
Lesta dan Mattew saling pandang dan menaikkan kedua bahu bersamaan ketika mendengar percakapan heboh antara emak-emak itu. Sedangkan Ansel fokus menyetir sesekali menyahuti percakapan istrinya dengan Laila.
"Hati-Hati, kelamaan menjomblo bisa mengakibatkan cairan bisa berubah menjadi odol! ha ha ha," sahut Ansel lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hei, kalian berdua awas saja ya!" Laila terdengar jengkel di ujung telepon sana.
"Meskinpun Reqi jomblo tapi dia happy dan tajir melintir, mau model wanita seperti apa tinggal tunjuk, tapi sayangnya Reqi mempunyai tipe wanita yang sangat paripurna, jadi dia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan."
"Kata orang tua zaman dulu, kalau kebanyakan milih nanti biasanya akan mendapatkan jodoh yang jauh dari kriterianya," jawab Melisa.
"Ya enggak dong!" balas Laila, yang tidak percaya dengan mitos seperti itu.
"Ya, semoga enggak, takutnya nanti dia malah dapat jodoh kayak Becca. Aduh, amit-amit jeng, pokoknya," sahut Melisa sambil mengetuk kepala, lalu beralih mengetuk lututnya dan dia melakukannya berulang kali.
"Memang kenapa dengan Becca?" tanya Laila. Pebicaraan mereka yang tadinya hanya guyonan kini beralih menjadi serius, ketika membahas 'Becca'.
__ADS_1
"Pokoknya panjang cerita, nanti aku ceritakan kalau kita bertemu," ucap Melisa, kemudian mengakhiri panggilan tersebut setelah mendapatkan persetujuan dari Laila.
"Mi, nggak usah menceritakan tentang masalah Becca." Mattew mengingatkan ibunya, agar tidak menceritakan keburukan orang lain.
"Mami cuma mau berbagi pengalaman saja sama Laila. Biar dia lebih waspada untuk memilih menantu, jangan hanya melihat fisik dan materi, tapi juga harus melihat hati dan sifat baik atau tidaknya," jawab Melisa, tanpa menoleh ke belakang karena kedua matanya kini fokus pada layar ponselnya, membaca pesan di grup WA keluarga Clark.
Mattew mengangguk sebagai jawaban, lalu melirik istrinya yang menggeser duduk, menjauh darinya. Sepertinya Lesta kesal dengannya karena dia menyebut nama Becca.
Mattew mengulurkan salah satu tangannya, menggenggam tangan istrinya dengan erat, lalu berbisik mesra, "maaf ya, aku nggak sengaja menyebut namanya."
"He-em!" balas Lesta dengan singkat, padat dan jelas.
Perjalanan mereka menuju rumah sakit akhirnya berakhir, ketika mobil yang di kendarai Ansel telah terparkir rapi di depan lobby rumah sakit. Mereka berempat keluar dari mobil mewah berwarna hitam dan melangkah masuk ke rumah sakit tersebut, menuju ruang praktek Laila secara bersamaan.
Sampai di depan ruang praktek Laila, mereka berempat duduk di ruang tunggu, menunggu giliran. Suasana di ruang tunggu tersebut tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa ibu hamil di sana untuk mengecek kandungan secara rutin.
*
*
__ADS_1
Sementara itu, di dalam ruang praktek, Laila saat ini sedang memeriksa kondisi Becca.
"Kondisi kamu mulai menurun, Becca. Seharusnya kamu harus segera di operasi pengangkatan miom, apalagi kamu sudah mengalami pendarahan, yang bertanda kalau penyakitmu semakin parah," ucap Laila menatap iba pada wanita yang terbaring di atas tempat tidur pasien.
"Kalau aku di operasi maka taruhannya adalah bayiku. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada bayiku, Dok. Biarkan aku tersiksa, yang penting bayiku sehat dan selamat. Anggap saja ini adalah karma dari perbuatan masa laluku," jawab Becca menahan sakit di area perutnya.
Selalu itu yang di ucapkan oleh Becca jika di bujuk Laila untuk segera melakukan operasi pengangkatan miom rahim. Tapi, semua itu sudah menjadi keputusan Becca, dirinya ingin memaksa pun tidak mungkin.
"Becca bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Laila seraya membantu Becca duduk dan turun dari tempat tidur.
"Boleh, Dokter," jawab Becca.
"Tentang masa lalumu," ucap Laila.
Mendengar ucapan Laila, Becca seketika langsung bungkam, bibirnya terkatup rapat. Meski dia pernah mengatakan pada Laila kalau dirinya hamil di luar nikah, akan tetapi dia sama sekali tidak menceritakan masa lalunya yang buruk kepada siapa pun.
***
Jangan lupa tekan like, komentar, vote dan dukungan lainnya.
__ADS_1