
Mattew dan Lesta merebahkan diri di atas tempat tidur saat malam hari telah menyapa. Pasangan suami istri itu tidur dengan posisi terlentang sambil menatap langit-langit kamar.
"Sayang." Mattew memiringkan badannya, menghadap pada istrinya yang masih terlihat marah kepadanya. "Dosa tahu kalau terlalu lama marah sama suami." Mattew berkata sambil meletakkan salah satu tangannya di atas perut Lesta dengan pelan dan hati-hati.
"Dosa juga bagi suami yang menyebut nama mantan kekasihnya di hadapan istri!" balas Lesta tidak mau kalah. Dia melirik suaminya dengan sengit.
"Aku 'kan sudah minta maaf. Lagian aku juga nggak akan menyebut namanya kalau kamu nggak memancing aku," jawab Mattew sambil menggeser posisinya, merapat ke tubuh istrinya. salah satu kakinya kini di tumpangkan di atas kedua paha istrinya. Dia ingin mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Jadi, aku yang salah?" Lesta semakin tajam menatap suaminya.
"Ya ... nggak gitu maksudnya, hanya saja ..." Mattew menjeda ucapannya saat tangannya dengan nakal membuka satu persatu kancing baju tidur yang dikenakan oleh Lesta.
"Hanya saja apa?" Lesta tidak sabar menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"Hanya saja ... kamu malam ini sangat cantik dan sexy," lanjut Mattew berbisik di dekat telinga istrinya, sekaligus mengecup cuping telinga istrinya dengan lembut.
Tubuh Lesta meremang, saat suaminya mengecup cuping telinganya. Dia menggeliat pelan saat tangan Mattew mengelus perut ratanya dengan gerakan abstrak dan sensual.
__ADS_1
"Emh ... jangan mencari kesempatan dalam kelonggaran!" Lesta berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang kini merambat turun menyentuh titik sensitifnya.
"Aku sedang nyari pahala. Lagian kamu 'kan istri aku, kenapa nggak mau aku sentuh?" Mattew menatap Lesta dengan lekat, kemudian mengungkung tubuh istrinya dengan gerakan cepat. Salah satu tangannya dijadikan tumpuan agar dirinya tidak menindih Lesta, dan satu tangannya lagi bergerak nakal, menyentuh titik sensitif istrinya.
"Karena kamu nggak cinta sama aku," jawab Lesta seraya menggigit bibir bawahnya saat merasakan rintik-rintik kenikmatan di area sensitifnya.
Ya ... salah satu alasan Lesta tidak segera menyerahkan kesuciannya kepada suaminya karena belum kata cinta yang terucap dari bibir suaminya. Nggak salah 'kan kalau dirinya bersikap seperti itu, terlebih lagi pernikahan mereka terjadi karena kesalahpahaman.
"Memang sikap aku selama ini kamu anggap apa?" Mattew bertanya balik, menatap Lesta dengan lekat lalu menarik tangannya dari area sensitif istrinya. Menurut Mattew mengungkapkan kata cinta tidak harus dengan kata-kata manis.
Tapi, bagi Lesta ungkapan kata cinta sangat penting, karena sebagai bukti secara lisan bahwa pasangannya mencintainya.
"Dengarkan aku baik-baik dan tanamkan di dalam otakmu itu, karena aku tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Mattew seraya menatap istrinya dengan dalam. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku mencintaimu Lestari," ucap Mattew dengan nada datar dan raut wajah yang terlihat biasa saja.
"Nggak romantis!!" protes Lesta seraya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Nggak ada kata romantis di kamusku, karena yang terpenting adalah ..." Mattew tidak melanjutkan ucapannya, karena dia lebih suka membuktikan rasa cintanya dengan sebuah tindakan. Kini dirinya membungkam bibirnya istrinya dengan ciuman lembut. Ia memagut lembut bibir istrinya, seolah menyalurkan kasih sayang dan cintanya kepada sang istri.
Lesta memejamkan kedua matanya, membalas pagutan suaminya tidak kalah lembut.
"Sekarang boleh nggak?"
Lesta menjawab dengan anggukan kepala.
"Asyikk ...." seru Mattew sangat senang, seperti anak kecil yang mendapatkan balon.
JEDARRRRR!
Tiba-tiba suara petir terdengar sangat keras, hingga membuat pasangan suami istri itu terkejut bukan kepalang. Tidak berselang lama, terdengar tetesan air hujan membasahi genting hingga menimbulkan suara yang khas.
"Lanjut nggak?" tanya Mattew pada istrinya.
"Terserah kamu," jawab Lesta sambil tersenyum.
__ADS_1
"Cuacanya sangat pas buat bercocok tanam. Gaskeun lah!" jawab Mattew sangat girang.