
Malam hari telah tiba, masih di rumah duka. Laila, Melisa dan Lesta saat ini berada di kamar mendiang Becca, mereka bertiga berada di kamar tersebut untuk mengistirahatkan diri sejenak. Lesta merebahkan diri di atas tempat tidur, sambil menatap wajah mungil Selene yang tertidur pulas. Hati wanita hamil itu kembali sedih, air matanya mengalir dari sudut mata, meratapi nasib bayi mungil yang tak berdosa itu harus kehilangan ibunya untuk selamanya.
Sementara itu, Laila dan Melisa sedang mencari sesuatu di lemari dan meja rias.
"Aku sangat yakin kalau Becca tidak pernah meminum obatnya," ucap Laila dengan nada frustrasi.
"Laila, kamu tidak boleh berprasangka buruk. Semua ini sudah takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan. Kamu harus menerima ini semuanya," ucap Melisa pada Laila yang sedang membuka laci meja rias di sudut kamar tersebut.
Laila diam, tidak menjawab ucapan Melisa, karena saat ini dia sedang sibuk mencari obat Becca. Tak berselang lam tatapan matanya terpaku, tangannya bergetar dan jantungnya berdetak sangat kencang ketika dia melihat beberapa plastik kecil yang tidak asing baginya.
__ADS_1
"Ada apa?" Melisa mendekati Laila ketika melihat temannya itu terpaku di tempat membuatnya sangat penasaran.
Alih-alih menjawab pertanyaan Melisa, wanita tersebut mengambil beberapa plastik putih dari laci tersebut. "Lihat 'kan, benar dugaanku! Kalau Becca tidak pernah meminum obatnya!" Laila histeris ketika membuka lima bungkusan plastik putih yang bertuliskan nama rumah sakitnya.
Melisa membisu, sedangkan Lesta beranjak dari tempat tidur, menghampiri dua wanita tersebut. Dia pun sangat terkejut saat melihat kenyataan tersebut. Air matanya kembali menggenang, dadanya begitu sesak ketika sebuah kenyataan seolah menghantam badannya.
Lesta menghapus air matanya, ketika melihat sebuah kertas di laci meja rias, dia berjalan mendekat, lalu mengambil kertas tersebut yang ternyata adalah surat wasiat yang di tuliskan Becca sebelum wanita itu meninggal dunia.
Tulisan tangan di atas secarik kertas tersebut di lengkapi dengan tanda tangan di atas matrei. Ketiga wanita itu menyimpulkan kalau Becca seolah sudah mengetahui kapan ajal akan menjemputnya, karena dia telah menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Becca mewariskan semua harta dan usaha salonnya kepada putrinya yaitu Selene.
Ternyata Becca tidak hanya meninggalkan surat wasiat, akan tetapi mendiang wanita tersebut juga meninggalkan sertifikat kepemilikan rumah, salon kecantikan dan beberapa ATM beserta PIN-nya.
"Aku tidak menyangka kalau semua ini bisa terjadi. Aku menyesal karena saat dia sakit aku tidak selalu berada di sampingnya, andai saja waktu itu aku memaksanya tinggal di rumahku, semua tidak akan jadi seperti ini." Laila mengusap air matanya. wajah wanita tersebut terlihat memerah karena sudah terlalu lama menangis.
"Becca sudah tidak sakit lagi, dia sudah bahagia berada di surga. Kita hanya bisa berdoa untuknya, dan merawat anaknya dengan cinta dan kasih. Laila, simpan surat wasiat dan semua sertifikat dan ATM Becca, takutnya kalau ada keluarganya yang ingin merampas harta Becca dari Selene," ucap Melisa pada Laila yang masih terlihat terpukul.
"Iya, aku akan menyimpannya, dan tidak akan membiarkan keluarga Becca mendekati Selena. Mereka benar-benar toxic! Saat Becca meninggal hingga di makamkan, dan sampai saat ini mereka tidak ada yang datang, benar-benar kurang ajar!" jawab Laila segera memasukkan surat wasiat beserta barang lainnya ke dalam tas mewahnya.
__ADS_1