
Melisa menatap menantunya dengan lekat, kemudian menyentuh perut Lesta dan mengusapnya dengan lembut. Sikap Melisa terlihat aneh di mata Lesta, membuat gadis itu mengerutkan kening seraya bertanya pada ibu mertuanya, "kenapa, Mi?"
"Katanya kamu hamil ya?" Melisa balik bertanya dengan sangat penasaran.
"Hah? Hamil? Kata siapa?" Lesta terkejut mendengarnya, dan langsung menjawab pertanyaan ibu mertuanya dengan pertanyaan lainnya.
"Kata bibi," jelas Melisa, menatap menantunya dengan serius.
Lesta menggeleng sebagai jawaban, lebih tepatnya dia tidak tahu kalau dirinya hamil atau tidak, karena dia belum mengetesnya dengan alat tes kehamilan.
"Loh, bibi gimana sih." Ansel menyahut dengan nada heran setelah melihat respon menantunya.
Mattew yang masih berdiri di dekat pintu akhirnya mendekati kedua orang tuanya yang terlihat bingung juga penasaran. "Ehem ... sebenernya, Lesta baru menunjukkan tanda-tanda hamil, karena dia menginginkan buah lemon," jelas Mattew padan kedua orang tuanya.
"Ohhh ... begitu rupanya, tapi selain itu ada tanda-tanda lain nggak? Misalkan mual atau pusing?" tanya Melisa pada menantunya. Sedangkan Ansel menganggukkan kepala berulang kali, dia baru paham kalau penjelasan Bi Darmi beberapa saat yang lalu baru dugaan saja.
__ADS_1
"Nggak mual dan nggak pusing, Mi, tapi ya pengennya makan yang asem-asem," jelas Lesta.
"Lalu sudah telah haid berapa hari?" tanya Melisa lagi, layaknya seperti dokter kandungan yang akan memeriksa pasiennya.
Lesta berpikir sejenak, kemudian menunduk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha mengingat terakhir kali dia datang bulan.
"Emh ... sepertinya terakhir haid 2 bulan yang lalu, Mi," jawab Lesta tersenyum meringis, kemudian menatap Mattew seolah meminta pendapat dari suaminya itu.
Mengerti dengan kode yang di berikan istrinya, Mattew pun segera buka suara, "iya Mi, karena selama ini juga aku nggak pernah libur anu ..." ucap Mattew sangat absurd.
"Anu apa? Kalau bicara itu yang jelas," sahut Ansel menatap putranya yang mesam-mesem seperti orang waras.
"Yaelah, Pi! Kayak nggak tahu aja urusan ranjang," jawab Mattew mencebikkan bibirnya, lalu menatap kesal pada ayahnya yang seolah memancingnya agar berbicara jujur. Padahal dia 'kan bilang 'anu' biar nggak terlalu vulgar bahasanya. Tapi, pada kenyataannya, bahasa 'anu' malah terdengar sangat ambigu.😅
"Udah, nggak usah debat! Sekarang mending kita bawa Lesta ke dokter kandungan. Kalau Mami sih yakin banget kalau Lesta sekarang lagi melendung," ucap Melisa melerai anak dan ayah itu yang sedang berdebat.
__ADS_1
"Balon kali melendung," sahut Mattew, dan lansung mendapatkan pukulan dari ayahnya.
PLAK!
"Sakit, Pi!" rintih Mattew ketika kepalanya bagian belakang di pukul oleh ayahnya. Mattew merengut sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Kapok!" jawab Ansel meledek putranya.
"Sudah ... sudah!!!!" omel Melisa lagi karena anak dan suaminya itu masih saja berdebat. "Bersiap semuanya karena kita akan segera ke rumah sakitnya dokter Reqi," lanjut Melisa dengan nada jengkel.
"Iya, Mi," jawab Mattew dan Ansel dengan kompak, sementara itu Lesta menahan tawa melihat dua pria yang terlihat arogan tapi ketika di dalam rumah seperti kelinci lucu yang menggemaskan.
****
Insya allah hari ini akan update 3 bab.
__ADS_1
Ayo, kasih saweran kembang dan kopi biar emak semangat ngetiknya 😘