Hidden Marriage With Hot Teacher

Hidden Marriage With Hot Teacher
Lagi Itu ...!


__ADS_3

Melisa dan Ansel memasuki rumah. Pasangan suami istri yang sudah tidak muda lagi itu baru saja pulang dari rumah putrinya yang baru melahirkan. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan, sembari mengedarkan kedua mata menatap ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang tengah yang tidak bersekat.


"Tumben sepi, pada ke mana orang-orang?" tanya Melisa pada suaminya yang berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya dengan erat, seolah takut kalau dirinya kacantol berondong.


"Mungkin mereka sedang beristirahat," jawab Ansel.


Mereka berdua berjalan menapaki anak tangga dengan langkah pelan, tapi pada saat sampai di tengah tangga mereka menghentikan langkah ketika Bi Darmi memanggil dari ruang tengah.


"Tuan, Nyonya! Ada kabar gembira!" panggil Bu Darmi dengan wajah yang berseri-seri, seraya berjalan tergesa mengahampiri kedua majikannya itu.


"Ada apa, Bi? Bikin kaget saja!" Melisa menatap Bi Darmi yang sudah berada di dekatnya.


"Bibi kayaknya habis dapat lotre, Mi, makanya kelihatan happy banget," sahut Ansel sambil tertawa pelan, kemudian melepaskan genggaman tangan istrinya, lalu beralih memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, sembari menatap Bi Darmi yang terlihat sangat bahagia.


"Ini lebih dari lotre, Tuan. Pokoknya ini adalah kabar yang paling menggembirakan untuk kita semua." Bi Darmi mengatakannya dengan penuh semangat.


"Ah, masa!" sahut Ansel menggoda Bi Darmi.


"Ih, Papi! Dengarkan dulu penjelasan Bibi!" Melisa menatap sebal suaminya seraya mencubit perut suaminya dengan gemas.


"Awww!! Enak," goda Ansel ketika merasakan cubitan dari istrinya yang tidak sakit sama sekali.


"Papi!!!" Melisa semakin jengkel pada suaminya yang selalu saja menggodanya.


"Iya, Mami sayang." Ansel tertawa pelan lalu merengkuh pinggang istrinya dengan posesif, sedikit merayu agar istrinya tidak merajuk kepadaya.


Bi Darmi tersipu malu melihat dua majikannya yang selalu mesra dan selalu bikin orang iri melihatnya.

__ADS_1


"Jangan marah dong, nanti aku kasih bunga bank, mau nggak?" rayu Ansel sambil mendusel-dusel leher istrinya dengan manja.


Melisa yang tadinya cemberut kini bibirnya menjadi berkedut, dan tidak berselang lama dia tersenyum malu saat mendengar suaminya akan memberikannya 'bunga bank'.


"Kasih yang banyak bunga bank-nya, biar Mami cepet kaya, he he he," jawab Melisa sambil mencolek dagu suaminya dengan gaya centil.


"Mami mau minta banyak akan aku kasih, asalkan nanti malam ..." belum selesai bicara, Ansel terpaksa menghentikan ucapannya ketika mendengar Bi Darmi berdehem keras seperti tersedak biji kedondong.


"Ehemmmmm ... ehemmmmm ...  saya ini mempunyai wujud loh, tapi kok kayak nggak di anggap ya?" Bi Darmi berkata sambil berdehem berulang kali sambil mengusap lehernya dengan pelan.


"He he he, aku pikir Bi Darmi makhluk tak kasat mata," canda Ansel sambil tertawa renyah.


"Tega sekali, sama Bibi, hiks," jawab Bi Darmi sambil pura-pura menangis.


"Canda, Bi, jangan di dengarkan suamiku ini." Melisa menahan tawa sambil mengusap-usap lengan  Bi Darmi.


"Hooh, saya juga cuma pura-pura nangis kok, he he he." Bi Darmi tertawa pelan, kemudian mereka bertiga kembali pada topik pembicaraan.


"Kayaknya Nyonya dan Tuan akan punya cucu lagi," jawab Bi Darmi tapi terdengar ambigu di telinga pasangan suami istri itu.


"Hah? Maksud Bibi apa? Kita memang baru mendapatkan cucu, anaknya Zahra dan Arvan," jelas Melisa.


"Iya, saya tahu, tapi cucu kalian akan bertambah, karena Non Lesta kayaknya lagi melendong," ucap Bi Darmi dengan heboh sembari menggerakkan kedua tangannya di depan perut.


"Benarkah!!" Melisa dan Ansel tampak tak percaya akan kabar tersebut.


"Iya, kalau tidak percaya tanyakan saja pada Tuan Mattew dan Nona Lesta," jelas Bi Darmi.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Bi Darmi, pasangan suami istri itu langsung bergegas melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju lantai 3 di mana kamar anak dan menantunya berada di sana.


Sampai di depan pintu kamar bercat putih itu. Melisa langsung mengetuk pintu berulang kali lantaran sudah tidak sabar.


Mattew dan Lesta yang sedang enak-enak di atas sofa kamar, terpaksa harus menghentikan kegiatan mereka, apalagi mereka juga mendengar suara Melisa dari luar kamar yang di barengi dengan ketukan pintu berulang kali.


"Ah, Mami ngganggu saja sih!" dengus Mattew seraya menarik diri dari atas tubuh istrinya. "Kita lanjut nanti ya, Sayang," ucap Mattew pada istrinya yang sedang membenarkan Br*-nya.


"Iya," jawab Lesta seraya mendudukkan diri setelah di rasa pakaiannya sudah rapi.


Mattew mengecup singkat pucuk kepala istrinya, kemudian bergegas membuka pintu kamarnya sambil memasang wajah masam.


"Ada apa?!" Mettew melontarkan pertanyaan dengan ketus pada kedua orang tuanya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Nggak sopan sama orang tua!" omel Melisa pada putranya.


"Habisnya Mami dan Papi nggangguin orang saja!" dumel Mattew seperti anak kecil yang gagal mendapatkan permen kesukaannya.


"Memangnya kamu sedang apa?" tanya Ansel.


"Lagi itu ..." jawaban Mattew terdengar ambigu.


"Ah, bodo amat! Di mana mantu Mami?" Melisa mendorong badan putranya ke samping agar tidak menghalangi jalannya.


"Ish! Aku tersisihkan!" keluh Mattew terlalu mendramatisir sambil mengelus dada, saat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar dengan paksa.


"Bawel!" sahut Melisa dengan nada keras pada putra kesayangannya itu.

__ADS_1


****


Yuhu, jangan lupa ya bestie, like, komentar dan dukungan lainnya 😘


__ADS_2