
Hari itu Mattew membuktikan ucapannya, dia memperlakukan istrinya bagikan seorang Ratu yang duduk di singgasana. Namun sikap berlebihan Mattew membuat Lesta tidak nyaman.
Bagaimana Lesta mau nyaman bila suaminya melarangnya beranjak dari tempat tidur, dengan alasan agar dirinya cepat pulih harus banyak istirahat. Bahkan untuk makan saja, Mattew melarangnya memegang sendok.
Sungguh berlebiha sekali bukan?
"Sayang, aku bosan di atas tempat tidur seharian!" protes Lesta pada suaminya yang sedang memijat kakinya dengan lembut.
Mattew menoleh, menghentikan gerakan tangannya yang sedang memijat kakinya. Kemudian, ia merebahkan diri di samping istrinya seraya memeluk tubuh Lesta dengan erat.
"Kalau bosan ya tidur. Ayo, aku akan meninabobokan kamu." Mattew berkata sambil mengusap-usap lengan Lesta dengan lembut. Seolah sedang meninabobokan anak TK yang sedang rewel.
"Tidak mau! Aku mau pulang saja," tolak Lesta seraya melepaskan pelukan suaminya.
"Tapi, kamu masih sakit." Mattew menatap cemas pada istrinya.
"Aku sudah sembuh. Lihat ... Aku sudah bisa duduk." Lesta segera mendudukkan diri agar suaminya percaya kalau dirinya sembuh. Sebenarnya sih masih terasa sedikit ngilu di area sensitifnya, tapi Lesta berusaha menahan rasa tak nyaman itu.
__ADS_1
"Yakin?" Mattew memastikan.
Lesta menganggukkan kepalanya berulang kali dengan mantap. Lalu segera turun dari ranjang dengan hati-hati. Dia menapakkan kedua kakinya di atas lantai keramik berwarna putih itu. Memberikan bukti pada suaminya, kalau dirinya sudah sembuh.
"Sudah tidak sakit lagi?" tanya Mattew sekali lagi, dan di jawab anggukan kepala oleh istrinya.
"Berarti si elang bisa masuk sarangnya lagi dong!" Sinyal Mattew langsung menyambung cepat, kedua matanya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapatkan kejutan besar di hari ulang tahun.
"Ish! Dasar omes!!" Lesta mengerucutkan bibirnya sambil mencubit salah satu pipi suaminya dengan gemas.
"Omes sama istri sendiri itu pahala," bisik Mattew lalu menarik istrinya hingga tubuh keduanya kini tidak berjarak sama sekali.
Tapi, sayangnya suasana romantis mereka harus buyar saat ponsel Mattew yang tergeletak di atas ranjang berdering panjang menandakan kalau ada yang meneleponnya.
Mattew ingin mengabaikan sambungan telepon tersebut, akan tetapi Lesta melarangnya. Dengan terpaksa, dia mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari temannya--Dr. Reqi.
"Halo," jawab Mattew ketika ponselnya melekat di telinga kanan. Akan tetapi dia langsung mengubah panggilan telepon itu ke mode loudspeaker agar istrinya tidak curiga kepadanya, kemudian meletakkan ponselnya di tepian tempat tidur, lalu menarik Lesta ke atas pangkuannya.
__ADS_1
"Mat, tahu nggak tadi aku ketemu sama siapa?" ucap Reqi dari seberang sana.
"Nggak tahu!" jawab Mattew, sambil mengecupi pipi Lesta dengan mesra.
"Ah, nggak seru kamu di ajak main tebak-tebakan!" Roqi terdengar sebal.
"Lagian kamu nelepon nggak tahu waktu! Ngganggu orang yang lagi bercocok tanam!" balas Mattew tidak kalah sebal.
Lesta mendelik lalu mencubit perut suaminya dengan gemas, saat mendengar ucapan suaminya yang absurd itu.
"What!!! Bercocok tanam? Sejak kapan kamu suka berkebun?" celetuk Reqi sangat heran karena tidak paham dengan ucapan Mattew.
"Sejak nikah sama Lesta, puas!! Kalau nggak ada yang penting lebih baik tutup teleponnya!!!" umpat Mattew sangat jengkel pada temannya yang sudah tua tapi masih saja polosnya kebangetan.
"Kenapa kamu jadi marah nggak jelas?! To the point aja deh, tadi aku ketemu Becca di rumah sakit lagi periksa kandungan! Mad, jangan-jangan kamu yang ..."
Tut!
__ADS_1
Panggilan telepon itu langsung diakhiri oleh Mattew saat melihat istrinya menatapnya sangat tajam.
"Sayang, jangan marah dulu. Sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah menyentuh wanita itu!" Mattew menjelaskan kepada istrinya yang terlihat seperti singa betina jika sedang marah. Mattew takut kalau Lesta salah paham kepadanya.