Hidden Marriage With Hot Teacher

Hidden Marriage With Hot Teacher
Pemakaman Becca


__ADS_3

Langit terlihat mendung, tak berselang lama rintik-rintik air turun dari langit membasahi bumi, mengiringi pemakaman Becca pada sore hari itu. Udara begitu sejuk, dan angin berhembus dari segala penjuru, alam seolah ikut berkabung atas kepergian Becca untuk selamanya.


Reqi menatap nanar pada gundukanan tanah yang masih basah itu dan bertabur ribuan kelopak bunga mawar. Air matanya menggenang, hatinya begitu sedih dan sangat berduka yang sedalam-dalamnya. Bibirnya sejak tadi bergerak, melantunkan doa untuk Becca yang sudah berada di pembaringan terakhir, di bawah ribunnya pohon kamboja.


Beberapa warga yang turut serta mengatarkan Becca keperistirahatan terakhir mulai membubarkan diri setelah pemuka agama selesai melantunkan doa.


"Reqi ayo pulang," ajak Ricky pada putranya, namun putranya bergeming, dan tidak menyahut ucapannya sama sekali, tatapan putranya terpaku pada gundukan tanah basah itu.


"Gerimisnya semakin deras," ucap Melisa seraya mendongak ke atas, menatap langit kian menggelap, dan beberapa kilat menyambar menghiasi langit yang gelap.


"Iya, ayo kita kembali ke rumah Becca. Dokter Laila berada di sana bersama Selene," sahut Ansel pada istrinya, mereka berdua berjalan mendahului, keluar dari area pemakaman.


Sedangkan Reqi, Ricky, Mattew dan Lesta masih berada di sana, mengelilingi makam Becca yang masih basah.

__ADS_1


Air mata Lesta sejak tadi tidak berhenti mengalir, dia sangat sedih dan sangat berduka atas kepergian Becca untuk selamanya.


"Mbak, meskipun kita tidak terlalu dekat dan baru pertama kali bertemu, aku minta maaf kepadamu jika mempunyai salah. Semoga kamu tenang di sana, dan kami akan menjaga putri kecilmu dengan kasih dan sayang," ucap Lesta di dalam hati. Dia mengingat pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Becca saat di kedai es krim beberapa bulan yang lalu.


Sedangkan Mattew pun sedang berdoa di dalam hati untuk Becca--mantan kekasihnya.


Keempat orang itu mulai membubarkan diri, ketika gerimis berubah menjadi hujan yang sangat deras. Mereka berlari kecil menuju mobil mereka yang terparkir di depan area pemakaman.


"Langsung pulang atau ke rumah mendiang Becca?" tanya Matttew pada istrinya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


Mattew mengangguk, lalu tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut, lalu beralih mengusap perut buncit Lesta dengan penuh kasih sayang. Setelah itu dia segera menyalakan mesin mobil, menekan pedal gas mobilnya, dan menjalankannya mengikuti mobil Reqi yang melaju lebih dulu.


*

__ADS_1


*


Berselimut duka dan penuh haru, kondisi rumah duka terlihat sangat ramai oleh warga sekitar yang datang dan pergi untuk belasungkawa atas meninggalnya Becca.


Beberapa warga sampai menangis histeris saat melihat bayi mungil yang di pangku oleh Laila.


"Baru lahir ya, Bu?" tanya seorang wanita paruh baya berderai air mata seraya menatap bayi mungil yang sedang menyusu dari botol.


"Iya, baru lahir dan ibunya langsung tiada," jawab Laila dengan suara bergetar, menahan isak tangisnya.


"Yang tabah ya, Bu. Semoga adik manis ini kelak menjadi anak yang baik, cerdas dan berguna bagi banyak orang, amin." Doa wanita paruh baya itu dengan suara nyaris tercekat, tak kuasa menahan tangisnya wanita paruh baya itu segera beranjak dan menjauh dari samping Laila.


"Amin," jawab Laila, seraya mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi.

__ADS_1


Tak berselang lama, Reqi memasuki rumah duka bersama dengan ayahnya. Kedua pria itu tidak langsung duduk di samping Laila, melainkan ke kamar mandi dulu untuk cuci tangan dan cuci kaki terlebih dahulu. Begitu pula dengan Mattew dan Lesta yang baru datang, mereka melakukan hal yang sama.


Sedangkan Melisa dan Ansel berada di halaman rumah, menyalami para warga yang masih banyak berdatangan untuk belasungkawa.


__ADS_2