
...🌹Happy Reading 🌹...
Hari ini, tepatnya setelah 2 tahun kepergian Nada.Aryan merenungi dirinya sendiri di dalam kamarnya, sesekali ia menyugar rambutnya. Rasa bersalahnya pada sang mantan istri kian membuatnya frustasi.
" Andai kamu ada disini Nad...aku kangen..." lirihnya, pelan sembari menatap photo pernikahan mereka yang terpampang di atas meja kecil disamping ranjang nya.
Ia pun meraih photo itu dan memeluknya dalam." Maafin aku Nad, jujur aku cemburu saat tau masih ada Irsyan dihati kamu, maaf Nad...harusnya aku ngomong sama kamu, bukan bersikap seperti ini. " lanjutnya,sembari mengusap photo itu.
***
"Allah..."
Teriaknya saat sebuah mobil menabraknya, seseorang pun keluar dari dalam kendaraan itu.
" Apa kamu baik baik saja...?" tanyanya, khawatir takut bila orang yang ditabraknya itu mengalami luka yang serius.
"Bang Aryan...?" ujarnya,setelah menoleh pada lelaki yang telah menabraknya.
" Kamu kenal aku...?" tanyanya.
" Em...iya" singkatnya,setelah mengulas senyum dibibirnya dibalik cadar,yang tak dapat Aryan lihat.Dan hal itu membuat Aryan penasaran akan dirinya.
" Maaf...kita pernah ketemu dimana ya...? dan apa kamu baik baik saja...?" tanyanya,kembali khawatir saat melihat darah yang mengalir dari pergelangan tangan yang berbalut kain hitam itu.
Aryan pun hendak memegang tangannya namun segera ditepis oleh gadis itu." Jangan sentuh saya, kita bukan muhrim lagi." ujarnya, seraya mengusap darah ditangannya.
" Lagi..?" tanyanya, menautkan alisnya bingung.
" Ya udah.Tapi ijinkan saya membawa kamu berobat, takut itu lukanya kenapa napa atau gimana...? Saya lagi yang disalahin." lanjutnya.
Namun tak ayal lagi lagi gadis itu tersenyum di balik cadarnya.
" Gak papa kok, hanya luka kecil." ujarnya lagi.
" Gak papa gimana, berdarah itu.Ayok..." ujarnya lagi lagi ingin menarik tangan sang gadis.
" Eh...maaf." ujarnya saat sadar hal yang telah ia akan lakukan.
Akhirnya mau tidak mau gadis itupun menuruti kemauan Aryan, mereka pun pergi bersama.Selama didalam mobil hanya ada keheningan tanpa ada yang membuka suara diantara mereka.
Namun meski begitu gadis itu selalu mengulas senyum manisnya di balik cadar saat curi curi pandang terhadap Aryan, mantan suaminya.
***
" Gimana...? masih sakit...?" tanyanya saat telah melihat gadis itu keluar dari ruangan dokter.
" Gak papa, sakit sedikit kok, masih bisa ditahan." ujarnya.
" Oh...baguslah.Itu...tadi, kamu bilang kenal sama aku sebelumnya kan, kita kenal dimana ya...?" tanyanya menautkan alisnya bingung.
__ADS_1
" Um...itu...aku ini Na..."
Dring...
Dring...
Nada dering handpone Aryan pun membuat atensi mereka beralih.Aryan pun menjauhkan dirinya dan menjawab telepon masuk itu.
" Iya.Apa sayang...?"
" Nanti tolong sekalian beli susu ya Ar..." ujar seseorang di balik telpon.
" Oke sip.Ada lagi...?"
" Gak kok, itu aja." ujarnya
" Haha...tumben sikit pesanannya.Ya udah aku tutup yah...hati hati dirumah, jangan banyak bergerak dadah...i love you sayang." ujarnya.
Hal itu terdengar oleh gadis itu, sakit...perih...itulah yang gadis itu rasakan saat ini, ia memainkan jari jemarinya masih bingung harus pamit atau tidak pada Aryan.
Namun didetik berikutnya tanpa sadar ia telah meneteskan air matanya ,karena takut Aryan akan melihatnya, ia pun segera pergi berlari meninggalkan Aryan di tempat itu.
Sementara Aryan kini membalikkan badannya dan bingung saat gadis yang bersamanya tadi sudah tidak ada ditempat lagi.
Ia berniat inhun mencari gadis itu namun lagi lagi dering handphone nya membuat langjahnya terhenti.
" Iya, kenapa ...? ada lagi yang lupa...?" tanyanya.
" Oh kamu, aku kira tadi Adinda, kenapa Ir...?" tanyanya, saat tau yang menelponnya bukanlah sang istri melainkan adiknya.
" Pulang bang, ada yang mau mama katakan!" ucapnya, masih disebrang telpon.
Aryan pun mengiyakan namun ada hal yang lebih membuat ia penasaran." Nanti aku telpon lagi yah." ujarnya, seraya mematikan hpnya.
Ia pun menghampiri seorang gadis yang duduk seorang diri di taman rumah sakit itu, seorang gadis yang tadi sempat ia tabrak dan bawa ke sini.
" Maaf, kamu..."
Gadis itupun segera menoleh padanya.
" Em...bang Aryan" ujarnya, sembari menyeka air matanya.
" Kamu nangis yah...?" tanyanya menautkan alisnya.
" Gak papah..." ujarnya, lagi dengan mengulas senyum manisnya di balik cadarnya.
Meskipun Aryan tidak dapat melihat senyumannya dengan jelas, tapi Aryan tau dan sadar jika senyum itu mengingatkan ia akan seseorang.
" Em...Na"
__ADS_1
" Pak, bisa tolong langsung ke administrasi dulu...?" ujar seorang perawat di sana dan mengharuskan Aryan memotong ucapannya.
Aryan dan perawat wanita itu pun pergi bersama meninggalkan gadis itu sendiri.
" Mungkin belum saatnya kita ketemu lagi bang, semoga kamu bahagia yah..." lirihnya pelan sembari menatap punggung Aryan yang semakin tidak terlihat lagi oleh pandangannya.
***
" Huh...aneh bangat deh." kesalnya sembari menelungkupkan badannya dan menatap sang istri.
" Kenapa...? apanya yang aneh...?" herannya, menautkan alisnya.
" Tadi, aku ketemu sama cewek bercadar...em..gak sengaja sih aku tabrak dia, terus aku bawa berobat tapi bukan itu sih yang aneh."
" Terus..." tanyanya sembari menghampiri sang suami dan duduk di sisi ranjang.
" Dia mungkin kenal sama aku, kira kira siapa yah...?" tanyanya menatap sang istri tajam.
" Hem...gitu aja kok dipikirin, kek lupa masa lalu aja." ujarnya, menanggapinya tak serius.
" Masalahnya dia bercadar Adinda, aku kan gak pernah kenalan sama cewek bercadar, kalo cewek j* lang iya." lanjutnya kemudian tersenyum ala ala orang yang menutupi kesalahannya.
" Em...bisa jadikan dia sudah bertobat.Iya gak sih...?"
" Iya.tapi siapa...?" tanyanya menatap sang istri lagi.
" Gak tau ah; ngantuk aku pen tidur." ucapnya, sembari membaringkan diri dikasurnya kemudian memeluk suaminya itu gemas.
" Adinda, lepasin gue, ish...lu." kesalnya saat sang istri menggelitiki perutnya.
" Haha...sory, abisnya tegang amat tuh muka" jawabnya santai tanpa dosa.Kemudian ia pun menarik selimutnya dan memulai memejamkan matanya.
Di menit berikutnya, istrinya telah tertidur pulas.Ia masih belum bisa tertidur dikarenakan masih kepikiran dengan gadis bercadar yang ia tabrak tadi siang.
" Din...kalo dia Nada, aku harus apa...?" tanyanya, sembari merapihkan anak rambut yang menutupi setengah wajah istrinya.
" Jujur Din, aku belum bisa terima pernikahan ini, aku masih mencintai Nada.Aku sangat merindukannya Din..." lirihnya,pelan masih mengelus rambut sang istri.
Di menit berikutnya rasanya dadanya sesak oleh air mata yang tertahan sedari tadi.Ia pun pergi ke balkon meninggalkan sang istri yang sudah terlelap.
Akhirnya air bening itu,jatuh juga membasahi pipinya.Sambil meraup oksigen sebanyak banyaknya, ia memegangi dadanya yang terasa makin panas dan sesak.
" Maafin aku Nad" lirihnya, pelan di sela sela tangisnya.
" Apa begitu berartinya Nada untukmu Ar...?" tanyanya membathin saat ia mendengar ucapan Aryan tadi.
Ternyata ia hanya pura pura tidur saja.Akhirnya ia pun menangis tanpa suara dibalik selimutnya.
Bersambung
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian yah 💟💟
Ii...aku kok geram sama perawatnya si, ganggu aja dah...🙄