HIJRAH KU

HIJRAH KU
Bab.37 Hijrahku


__ADS_3

...🕊Happy Reading 🕊...


Aryan segera ditangani oleh Dokter Irfan dibantu dengan Myna dan beberapa perawat, Dokter Irfan juga memberikan selang oksigen pada Aryan.


" Ahkm...allah...," ucap Nada menguap saat baru terbangun dari tidurnya, ternyata ia tadi sempat ketiduran.Ia pun memanggil- manggil Aryan namun tak menemuinya.


" Bang...," ucap Nada sembari menuruni anak tangga,entah lantainya yang licin atau apa tiba- tiba saja Nada terpeleset.


" Allahu akbar," ucap Nada saat itu, hampir saja ia terjatuh kelantai, beruntungnya dengan sigap Dinda segera menangkapnya.


" Kamu gak papa?," tanya Dinda memeriksa keadaan Nada.


" Gak papa kak, gak papa," ucap Nada kemudian Dinda pun membawanya duduk di counter dapur dan memberikan secangkir air putih.


" Minum dulu, tenangin diri," suruh Dinda menyodorkan secangkir air putih yang langsung diterima oleh Nada.


" Bang Ar belum pulang ya kak?," tanya Nada kemudian, Dinda yang tidak tahu- menahu kemudian mendelikkan bahunya saja.


" Bang, kamu dimana sih?, feeling aku kok enak ya...," lirih Nada membathin menatapi pintu rumahnya dengan harapan Aryan akan muncul dari sana.


Sedang Aryan kini masih ditangani oleh Dokter Irfan dan rekannya,dan mereka menduga kanker otak yang Aryan alami sudah mulai menyebar luas.


Beberapa jam setelahnya, Aryan perlahan membuka matanya dan menatap langit-langit ruangan itu." Nada," ucap Aryan seraya duduk dan melepaskan selang infus dari tangannya, otomatis membuat tangannya berdarah namun tak ia hiraukan.


Ia dengan nekadnya,membawa motor Dokter Aldy yang kebetulan malam ini ada sif dan ia pun segera berlalu dari sana tanpa memperdulikan sakitnya.Begitu ia sampai, ia segera melepaskan sepatunya dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Begitu ia melihat Nada tertidur, barulah ia bisa bernafas lega.Ia kemudian duduk disamping Nada dan mencium kening Nada dan hal itu berhasil membuat Nada terjaga.


"Bang," ucap lirih Nada segera memeluk sang suami." Maafin Nada, karena ulah Nada, kamu jadi gini," lanjut Nada lirih, perlahan, Aryan melepaskan pelukannya dan meraih dagu Nada.


" Apapun, aku siap demi kamu dan bayi kita." ucap Aryan kemudian kembali memeluk sang istri.


***


Hari- hari berlalu seperti biasa,kadang Aryan dirumah, kadang juga di rumah sakit tapi itu semua selalu di dampingi dan penuh perhatian dari Nada.


Kehamilan Nada juga semakin membesar dan kini sudah memasuki usia 5 bulan, Aryan semakin sayang dan semakin memperhatikan Nada meski ia sendiri tengah melawan sakitnya.


Siang ini, Karin datang menjenguk Aryan dengan membawakan bubur juga." Hai Ar, gimana keadaan kamu?," tanya Karin sembari meletakkan rantang bubur yang ia bawa.


" Mau ngapain kamu kesini?,aku malas berurusan sama kamu," ucap Aryan menjauhkan pandangannya dari Karin.


" Kamu tanya mau ngapain? aku mau ambil yang seharusnya menjadi milik aku," ucap Karin setengah berbisik yang membuat Aryan menatapi geram.Karin melihat Nada yang akan menuju kamar inap Aryan dari jendela, dan karena itu ia pun mencium pipi Aryan, pada saat yang sama Nada masuk kedalam ruangan itu.


" Assala...," ucapan Nada terhenti, saat melihat adegan itu, ia pun segera menghampiri keduanya.


" Karin?, Bang Aryan?,"


" Nada, aku bisa jelasin," ucap Aryan mencoba meraih tangan sang istri namun ditepis oleh Nada.


" Maaf sepupu, sudah seharusnya kamu tahu juga kan, aku dan Aryan adalah sepasang kekasih," ucap Karin tersenyum jahat.


" Bohong!, itu gak benar Nad," sela Aryan.


" Jujur aja Nad, aku benci sama kamu, kamu mengambil semua orang yang sayang sama aku," ucap Karin meluapkan emosinya.


"Maksud kamu apa Rin?, Istighfar Karin, nyebut." ucap Nada.

__ADS_1


" Dari awal, aku gak pernah suka sama kamu, kamu tahu siapa orang yang membongkar aib kamu ke papa kamu, hem itu aku,aku orangnya,aku orang yang selalu dibandingkan- bandingkan dengan kamu, hem harusnya mereka bisa lihat, Nada itu cuma seorang sampah,Nada pel4cur, tidak lebih baik dari seekor anj*n9..."ucap Karin meluapkan emosinya, Aryan sangat geram dengan kelakuan Karin tapi saat ini keadaannya sedang parah ia terus mencoba untuk berdiri tapi selalu jatuh,sedang Nada hanya menangis dan menundukkan pandangannya kelantai.


" Aku bosan terus dibandingkan denganmu Nada, bukannya kamu itu menjij1kkan?,"


Plak


" Papa...," lirih Karin menatapi wajah sang ayah, saat sang ayah baru saja melayangkan tamparannya di wajah sang putri.


" Om udahlah...," lerai Nada kemudian.


" Kenapa papa membela Nada pa?, kenapa?, yang korban disini Karin...Aryan sudah merusak semua masa depanku, apakah boleh aku hanya diam saja saat tahu dia menikah dengan orang lain,aku putrimu pa, sudah hancur karena orang itu!," ucap Karin menangis sembari menunjuk Aryan.


" Dan Nada, Nada yang sudah mengambil Aryan dari ku!," ucap Karin memengangi pipinya yang masih terasa panas.


" Aryan, apa benar yang Karin ucapkan?," tanya Dokter Irfan, dan hal itu justru membuat Aryan diam membatu.


" Maaf Dok, Anda boleh menghukum saya sekarang, sepuasnya, maafin saya," ucap Aryan tulus dengan maafnya.Dokter Irfan ingin segera melayangkan tamparan keras pada Aryan, tapi tiba - tiba ia mengingat riwayat penyakit Aryan yang kemudian membuatnya luluh dan akhirnya pergi begitu saja sembari menarik tangan Karin.


Nada tersenyum sembari menghampiri Aryan, ia juga menghapus air mata Aryan." Kita sama - sama hijrah ya Bang," ucap Nada kemudian mendapatkan pelukan dari Aryan." Perbuatan kita dimasa lalu memang kelam, tapi Allah adalah arrohman, arrohim Dia segala Nya,tempat kita mengadu Bang, kita sama sama perbaiki diri ya bang," ucap Nada lagi.


" Maafun aku Nad, maaf...aku bukanlah suami impian kamu," lirih Aryan, Nada melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Aryan." Allah suka pendosa yang mau bertaubat dengan sungguh- sungguh Bang," ucap Nada kemudian memeluk Aryan kembali.


Sementara ditempat lain, Karin menangis merutuki dirinya sendiri, ia terlihat sangat frustasi sembari meringkuk memeluk tubuhnya sendiri," Aryan...tega kamu..., kamu udah janji nikahin aku," lirihnya sendu dalam tangisan itu.


Sehingga terniat dihatinya, ingin segera menyingkirkan Nada dari kehidupan Aryan.Ia kemudian tertawa sumbang melepaskan segala rasa frustasinya.


****


Sambil melantunkan sholawat, Nada nampak senang karena akan segera menemui suaminya lagi, setelah dua hari tak sempat bertemu karena harus mengurus restorannya dan Ayra.Sembari mengaduk- ngaduk sayur sop yang sebentar lagi matang, Nada terus melantunkan sholawat tanpa tahu bahaya sedang mengintainya saat ini.


Selepas dari itu, Nada pun membukakan pintu seraya berdoa dan segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah,namun tiba- tiba saja seseorang muncul menarik tangannya dan menodongkan sebilah pis4u padanya.


" Jika kamu ingin selamat, tinggalkan Aryan, pergi jauh darinya!," ucap orang itu kemudian ia membuka kupluk hodie yang ia kenakan, sontak Nada terkejut dengannya.


" Karin?," ucap Nada, kemudian ia pun menurunkan tangan Karin dari hadapannya dan segera memeluk Karin.


" Aku tahu kamu marah,maaf...maafin aku, maafin Bang Aryan," ucap Nada tulus yang seketika membuat Karin luluh, akhirnya Karin melepaskan pis4u itu dari tangannya dan terjatuh kelantai.


" Aku tahu, tidak mudah jadi kamu Rin, tapi aku bisa apa,Aku lagi hamil Rin, Bang Aryan juga lagi sakit, apa yang bisa kamu harapkan darinya lagi?,maaf...," ucap Nada setelah melepaskan pelukan nya.


Karin tak berucap apapun, dia hanya diam membisu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Nada.


***


" Bismillah dulu Bang," ucap Nada saat ia sedang menyuapi Aryan.Aryan pun tersenyum seraya mengelus pucuk kepala istrinya yang terbalut hijab itu.


Sebenarnya, Nada ingin sekali menanyakan tentang Karin pada suaminya itu, hanya saja ia takut hal itu akan memperkeruh suasana, sehingga ia memutuskan untuk diam saja.


" Kamu makan juga lah dek, masa Abang aja iya kan?," ucap Aryan seraya menyuruh Nada membuka cadarnya.


" Em, jangan Bang, entar ada orang, " jawab Nada kemudian menyuapi Aryan kembali.


" Ehemk...jadi kering nih tenggorokan tiba- tiba," goda Irsyan yang baru saja muncul dari balik pintu dan menghampiri mereka, Ayra tertawa kecil mendengar hal itu dan menyenggol lengan suaminya itu.


" Maunya kan dek,ditulis peringatan disitu, DILARANG BUCIN," ucap Irsyan sembari menunjuk kearah dinding.


" Dasar sodara gak ada ahklak," celetuk kesal Aryan, membuat ketiganya tertawa.

__ADS_1


" Bang,keluhannya sekarang apa?," tanya Irsyan kemudian.


" Kepala yang gak ada sembuh- sembuhnya, sakit terus, terus bagian dada ni juga sakit," ucap Aryan seraya menunjukkan bagian yang ia rasa sakit.


" Em, sabar ya Bang, kita usaha sama- sama,yang penting Abang jangan terlalu mikirinnya dan tetap pokus jaga kesehatan," ucap Irsyan sembari mengecek infus Aryan.


" Hari ini aku pulang ya, kan udah mendingan, bosan soalnya disini terus rasanya makin sakit aku kalau terus diam disini," ucap Aryan seraya duduk yang segera dibantu oleh Irsyan,Aryan mendekapkan Irsyan karena hampir saja Irsyan bersentuhan dengan Nada yang masih disamping Aryan membuat Irsyan tersenyum.


" Boleh sih Bang, boleh,asal teratur minum obatnya terus cepat hubungi aku kalau ada apa- apa," ucap Irsyan setelah melepaskan pelukan Aryan.


" Ya udah, lepas infus nya," suruh Aryan.


" Ish, si Abang gak sabaran bangat, tunggu habis dulu Bang, baru boleh pulang,lagian mau ngapain sih ngebet bangat mau pulang," tanya Irsyan sembari menarik kursi dan duduk menatapi wajah sang abang.


" Bosan Irsyan...," geram Aryan kesal.


" Hem,ya, aku paham.Oh ya Bang, ntar malam kita ngumpul di rumah mama,besok udah mau puasa kan? jadi mama nyuruh kita kumpul, sekalian Abang ajak Dinda juga, kata mama," ucap Irsyan kemudian ia memijit lengan Aryan.


"Dinda dirumah mamanya,ngapain mama undang dia juga?,"


" Hem, Dinda bukannya adiknya abang juga ya, ya maka dari itu mama ajak dia juga." jawab Irsyan singkat yang kemudian diangguki oleh Aryan.


Sore harinya,Nada pun membawa Aryan pulang kerumah mereka, Nada mempersiapkan segala keperluan suaminya itu." Bang Ar, mau mandi gak?, Nada bantuin?," tanya Nada saat ia baru saja selesai mandi dan masih menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


" Boleh,udah lengket juga ni badan," jawab Aryan, Aryan pun segeea melepaskan kausnya dan celana jeansnya dan hanya tertinggal boxer saja, ia pun segera ke kamar mandi yang diikuti oleh Nada dari belakang.


Bak memandikan anak kecil seumuran Faiz, Nada menggosok punggung Aryan kemudian menyabuni tangan dan kaki Aryan,kemudian menyabuni bagian perut.


" Tutup mata Bang, shampoan," ucap Nada menaruh shampo di telapak tangannya dan segera menggosokkannya ke kepala Aryan.Aryan kemudian mencuci wajahnya karena terasa pedih pada matanya.


Dengan iseng, ia sengaja menaruh buih shampo pada lengan Nada.


" Ish...Nada udah mandi Bang," kesal Nada manyun namun Aryan tak perduli ia kembali menyiram Nada dengan keisengannya, alhasil mereka jadinya bermain air diiringi gelak tawa dari keduanya.


***


Aryan membantu Nada mengeringkan rambutnya dengan handuk," Kamu gak papa kan ya?," tanya Aryan melihat Nada yang masih terlihat kedinginan.


" Ih, gara- gara Abang, dua kali mandi kan jadinya, untung- untung gak demam nantinya," rungut Nada kesal seraya menyisir rambutnya tapi Aryan segera meraih sisir itu dari tangannya dan menyisirkan rambut sang istri.


" Jangan sampailah,entar yang jagain Abang siapa?," ucap Aryan seraya tersenyum memandangi wajah Nada dari pantulan cermin sembari memainkan matanya.


" Jangan menggoda Nada, soalnya gak bakal mempan,Abang siap- siap gih, kita mau kerumah mama kan?," ucap Nada kemudian menguncir rambutnya.


" Abang mah mudah dek, tinggal pakai jaket selesai.Adek tu nya yang lama, lama berhias, lama milih baju, lama pokoknya," ucap Aryan yang mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


" Ups, salah ngomong," ucap Aryan seraya menutup mulutnya dengan tangannya.


Sementara Nada segera pergi memilih baju gamis syar'i yang akan dia pakai, Nada juga memilihkan cadarnya sebagai pasangan gamisnya.


" Sini Abang tolongkan," ucap Aryan saat Nada sedang mengingatkan cadarnya dan segera dibantu oleh Aryan.


" Kurang kuat ngikatnya itu Bang," ucap Nada melepaskan cadarnya kembali, dan mengulang mengikatkan cadarnya.


" Em, cantiknya istri aku...," ucap Aryan seraya tersenyum kemudian mencium pucuk kepala Nada dan segera dapat pelukan hangat dari Nada.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2