HIJRAH KU

HIJRAH KU
BAB.33 Ada apa dengan Aryan?


__ADS_3

...🕊 Happy Reading🕊...


" Assalamualaikum," ucap Aryan seraya membuka pintu rumahnya, ia pun segera masuk kedalam rumah dan tak mendapatkan Nada disana.


" Nada...Nad," panggilnya, namun keadaan rumah memang terlihat sunyi tanpa penghuni, akhirnya ia pun menaiki anak tangga menuju kamarnya dan tetap saja dia tidak menfapati Nada disana.


" Nada kemana sih?," tanya Aryan pada dirinya sendiri, kemudian ia duduk di ranjangnya saat kepalanya terasa berdenyut.Akhirnya ia ketiduran setelah beberapa kali meringis kesakitan.


Tak lama setelahnya, Nada memasuki kamarnya dan mendapati Aryan disana tengah tertidur." Alhamdulillah..., Abang sudah pulang," ucap Nada kemudian melepaskan sepatu Aryan yang masih terpakai dan hal itu berhasil membuat sang pemilik kaki terbangun.


" Kamu dari mana?," tanya Aryan seraya duduk mengintrogasi sang istri.


" Maaf Bang, tadi Nada ke klinik, Abang sendiri kemana saja?," ucap Nada balik bertanya.


" Kamu ini, apa- apaan kamu nanya balik kek gitu?, yang pasti aku gak pergi keluyuran Nada." kesal Aryan sedikit meninggikan suaranya.


" Bang Ar kenapa sih?, Nada kan nanya baik- baik, dan Nada ada kabar baik buat Abang," ucap Nada sembari tersenyum.


" Apa?," singkat Aryan serius.Namun Nada terlihat senang dari raut wajah nya.


" Taraa...alhamdulillah Bang, Nada hamil," ucap Nada kegirangan sembari memberikan tespeck dan surat pernyataan hamil dari dokter.


" Hamil?," tanya Aryan mengulangi ucapan Nada, kemudian ia membaca surat pernyataan itu dan melihat hasil tespeck juga.


" Astaga...," ucap Aryan menyugar rambutnya kesal, otomatis hal itu membuat Nada kecewa dan sedih.


" Kenapa harus sekarang Nada?," tanya Aryan geram kini menatap nanar pada Nada.


" Astaqfirulloh Bang, harusnya Abang bersyukur akhirnya Allah mempercayakan kita untuk menjadi orang tua,kenapa malah Abang terlihat kecewa sama takdir allah?," ucap Nada bertanya menatapi wajah suaminya yang dilanda rasa frustasi itu.


" Bu, maksud aku bukan gitu Nad, tapi...," ucapan Aryan terhenti, ia bingung harus dengan apa dia menjelaskan semuanya pada istrinya itu.


" Em, sekarang Nada sadar, Nada siapa dihati kamu Bang, makasih...," ucap Nada lirih seraya pergi melenggang dari sana dengan semua kekecewaannya.


" Andai aku bisa mengatakan yang sebenarnya Nad,makasih ya Allah...Engkau telah memberikan kami buah hati, maaf Nad,aku harus menjadi orang jahat agar kamu tidak begitu sakit saat kehilangan aku nantinya," ucap Aryan lirih, kemudian ia mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Perlahan ia menuruni anak tangga dengan menimang- nimang kunci mobilnya dan perasaan yang kian tak menentu.


" Nada,aku mau pamit,kamu gak papa kan tinggal sendirian?, kamu gak usah nungguin aku, aku gak tahu kapan aku akan pulang soalnya." ucap Aryan saat ia mendapati Nada masih menangis di ruang tengah.


" Maaf soal tadi, aku bukan gak mau dengan kehadiran anak itu, hanya saja sekarang pikiran ku lagi kacau, aku minta maaf." lanjut Aryan tapi hal itu pun tidak mampu membuat Nada bergeming dan menolehnya.


" Sekali lagi, aku minta maaf, aku pergi," ucap Aryan kemudian, perlahan ia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.Seperginya Aryan, Nada pun menangis sejadi- jadinya, ia menumpahkan semua rasa sakit yang kian menyayat hatinya.


" Aku pikir, kamu akan senang dengan kehadiran anak di pernikahan kita, tapi apa?, kamu hanya menoreh luka dan pergi setelah kamu puas menyakiti aku," lirih Nada dalam tangisnya.


" Sakit Bang, sakit...bahkan aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana," lanjut Nada sembari menghapus air matanya dan lagi- lagi air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


****


" Ck, apa gak ada dokter lain yang mau ngerawat gua?, capek gua lihat lu nangis mulu," ucap Aryan kesal saat Irsyan menangis saat ia memasangkan infus Aryan.


" Maaf Bang, aku gak tahan lihat kamu sakit gini." ucap Irsyan jujur.


" Terus gimana Nada?, Abang membiarkannya sendirian dirumah, dalam keadaan hamil kek gitu?," tanya Irsyan, sontak hal itu berhasil membuat Aryan emosi.


" Lu tahu darimana Nada hamil?," ucap Aryan meninggikan suaranya, bahkan kini ia sudah berdiri meski keadaannya lemah.


" Bang, tenang dulu Bang," Irsyan membingbing Aryan kembali duduk di brankarnya.

__ADS_1


" Aku tahu dari Ayra, Ayra yang cerita, Abang jangan salah faham terus sama aku kenapa sih?,"ucap Irsyan membantu Aryan berbaring.


" Gimana gak salah faham,semua tentang Nada kamu tahu, seakan kamu yang sudah menjadi suaminya."


" Astaqfirulloh, istiqfar Bang, istiqfar...Nada itu istri kamu,"


" Istri sih istri, tapi tetap aja Nada masa lalu kamu," ucap Aryan lagi memperpanjang perdebatan antara ia dan adiknya itu.


" Masa lalu kan Bang?, Bang tahu artinya masa lalu kan?," tanya Irsyan balik bertanya yang malah membuat Aryan semakin kesal.


" Mendingan Bang istirahat, capek kalau berdebat terus sama Abang, intinya, aku mau kamu itu sehat kembali Bang, demi Nada dan anak kamu, oke!," ucap Irsyan kemudian menarik nafasnya panjang.


" Dan mohon ijinnya, selama Bang dirawat, aku mau Nada tinggal sama mama aja, soalnya kasihan dia sendirian, nanti aku suruh Ayra jemputkan dia, bolehkan?," Irsyan menatapi Aryan menunggu jawaban tapi bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan sebuah tamparan di wajahnya.


" Aku gak suka dengan cara kamu yang seperti ini Syan, seakan anak yang Nada kandung itu anak kamu."


" Astaqfirulloh, istiqfar Bang," ucap Irsyan mengelus pipinya yang terasa panas.


" Sikap kamu berlebihan!," kesal Aryan kemudian melepaskan selang infus dari tangannya yang membuat ia meringis kesakitan dan kemudian ia mengabaikan sakitnya itu, kemudian ia mendorong Irsyan sampai terjatuh dilantai.


" Bang mau kemana Bang?," ucap Irsyan mengejar Aryan, tapi seakan tengah kerasukan setan, Aryan berlalu saja dengan cepat dan mengabaikan darah yang terus mengalir dari tangannya.


Sedangkan Irsyan kini menyugar rambutnya frustasi saat ia kehilangan jejak sang abang.


***


" Bang...," sambut Nada sumringah sembari menyalam tangan suaminya Aryan, saat Aryan baru saja masuk kedalam kamar mereka.


" Ya allah, tangan kamu kenapa berdarah Bang?," ucap Nada khawatir dan segera mengambilkan kotak obat dari laci, Nada pun segera mengobati tangan suaminya itu tapi disaat Nada ingin membalutnya, Aryan menarik tangannya dari Nada.


" Gak usah sok perhatian sama aku!," ucap Aryan ketus, tentu saja hal itu membuat Nada heran dan bingung.


" Katakan, anak siapa yang kamu kandung?!," tanya Aryan, tatapan tajam itu sunghuh membuat Nada ketakutan, terlebih sebelumnya Aryan orangnya romabtis tapi kini tiba tiba berubah menjadi arogan.


" Anak siapa Nada?!," tanya Aryan mengulangi pertanyaannya dengan suara tinggi yang membuat Nada ketakutan.


" M- maksud kamu apa Bang?, ya ini anak kamu, emangnya anak siapa lagi?, aku ini istri kamu kan Bang?," ucap Nada memberi penjelasan.


Tidak percaya, Aryan mendorong tubuh Nada dan segera terjatuh di tempat tidurnya, Aryan pun segera menindihnya,


" Katakan yang sebenarnya Nada!," ucap Aryan lagi masih dengan nada tinggi.


" Bagaimana cara Nada menjelaskan, jika Nada sudah bicara yang sejujurnya." jawab jujur Nada, jujur saja kini ia berurai air mata karena begitu takut dengan Aryan yang sedang kerasukan itu.


" Wanita j4l* ng seperti mu memang gak pernah ada kejujuran, wanita mur4han yang berpura pura menjadi orang baik,hum menj1j1kkan!," ucap Aryan seraya berdiri dan segera menjauhi Nada.


Sakit, perih menyayat hati, suami, orang yang ia cintai mengatakan semua umpatan seperti itu padanya, Nada terus menerus menangis masih dalam keadaan telentang hingga kemudian ia menyamping meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.


Saat itu juga, Aryan segera pergi dari sana masih dengan amarahnya.Ia mengemudikan mobilnya tanpa arah tujuan yang jelas hingga sebuah truk tiba tiba muncul dihadapannya dan ia pun segera membelokkan kemudi demi menghindari truk itu, tapi naas ia justru menabrak sebuah pohon besar yang membuat ia terpelanting jatuh dari mobil.


***


" Bang Aryan gimana?," tanya Nada begitu ia sampai di rumah sakit dan melihat Irsyan disana.


" Tenang dulu Nada,Bang Aryan gak papa kok," ucap Irsyan kemudian tersenyum, meski dengan senyuman palsu menutupi kesedihannya.


" Aku boleh ketemu dia?," tanya Nada lagi dan diiyakan langsung oleh Irsyan.


***

__ADS_1


" Dok, gimana keadaan Bang Ar?," tanya Nada khawatir.Dokter Irfan pun nampak tersenyum dan mempersilahkan Nada masuk kedalam ruangan rawat Aryan.


" Buat apa kamu kesini?,"tanya Aryan menjauhkan pandangannya dari Nada.


" Aku tahu Bang marah sama Nada, entah karena apa Nada juga gak tahu, tapi tolong jangan kek gini terus menerus sama Nada.Benar, benar yang kamu bilang, Nada cuma perempuan mur4han, perempuan bayaran yang tidak pantas menjadi istrimu,Nada hanya perempuan sampah yang kamu selamatkan dari dunia hitam itu, tapi Nada tidak pernah sekalipun membohongi kamu Bang,anak yang Nada kandung itu anak kamu, jika pun kamu gak percaya, itu hak kamu, tapi tolong jangan ungkit masa lalu Nada lagi...jika memang sudah bosan, kamu bisa memulangkan Nada, orang tua Nada masih ada Bang!," ucap Nada panjang lebar dengan deraian air mata,bahkan kini Aryan juga menangis mendengar itu tapi egonya masih terlalu besar untuk mengakui kesalahannya.


Nada menyeka air matanya dan kemudian ia membetulkan posisi cadarnya, " Lekas sembuh Bang, untuk sementara aku akan tinggal sama mama, maaf...," ucap Nada kemudian berdiri dari duduknya, ia ingin segera beranjak pergi namun Aryan tiba - tiba mencekal tangannya.


" Aku ingin kamu urus surat cerai kita Nad," ucap Aryan, sontak hal itu membuat Nada terkejut dan segera menoleh pada Aryan namun Aryan enggan untuk menatapnya.


" Apa karena Nada hamil?, atau karena Karin?," tanya Nada namun tak dihiraukan oleh Aryan, Aryan segera berbaring kembali dan menutup matanya seakan memberi kode ia sedang tidak ingin diganggu, Nada yang mengerti segera keluar dari ruangan itu dengan semua luka dihatinya.


" Apakah cara ini sudah benar Nad?, apapun, akan aku lakukan agar kamu membenciku," lirih Aryan dalam tangisnya.


***


" Maaf nak, Bunda tidak mampu membuat Ayah kamu kembali ke keluarga ini," lirih Nada mengelus perutnya yang masih rata.


Kemudian ia mengambil photo pernikahan dirinya dan Aryan dari atas nakas." Apakah pernikahan kita akan berakhir sampai disini?, untuk kedua kalinya, apakah rumah tangga kita akan hancur lagi?," tanya Nada dengan air mata yang kian membuncah.


****


Keesokan harinya, Nada berniat ingin berpamitan pada Aryan sebelum ia benar benar pergi kerumah orang tuanya,meski dengan luka dihatinya ia tetap mencoba untuk tersenyum.


" Berapa lama waktu yang saya miliki dok?," tanya Aryan pada Dokter Irfan yang masih memeriksa keadaan tubuhnya.


" Jangan ngomong seperti itu, kanker ini memang berbahaya dan sangat mengancam tapi mudah- mudahan kita akan berusaha menyembuhkannya, kita berjuang sama sama ya," ucap Dokter Irfan menyemangati.Sedang Nada yang mendengar semua itu kini dibuat tak percaya.


" Kanker?," tanya Nada sembari masuk kedalam ruangan itu.


" Na- nada...," ucap Aryan terbata.


" Katakan, apa ini yang kamu sembunyikan dari aku?," tanya Nada lagi sudah berurai air mata.


" Maaf sebelumnya, kamu keluarganya Aryan?," tanya Dokter Irfan yang tidak tahu- menahu soal itu.


" Saya istrinya dok,"


" Oh begitu?, baiklah, sepertinya ada beberapa dokumen yang harus Anda lihat terlebih dulu.ucap Dokter Irfan kemudian memberikan beberapa dokumen tentang penyakit Aryan sekarang.


" Ya sudah, saya permisi dulu, mau lihat pasien lainnya," ucap Dokter Irfan sembari pergi.


" Nada, aku bisa jelasin semuanya," ucap Aryan meraih tangan Nada dan segera di tepis oleh Nada.


" Entah aku yang bodoh, lemot atau apa, sampai aku gak sadar kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari aku." ucap Nada kembali membaca isi dokumen- dokumen itu.


" Nada...," ucap Aryan kini meninggikan suaranya kesal.Nada pun segera menoleh padanya dan duduk disamping Aryan.


" Kenapa?, kamu ingin menceraikan ku kan?, lakukan sekarang!," ucap Nada sembari meraih tangan Aryan dan menaruhnya di atas kepalanya.


" Nada...aku...," ucap Aryan seraya menggeleng kan kepalanya.


" Kenapa?, kenapa kamu harus bersikap seperti ini Bang?," tanya Nada sembari memeluk Aryan.Air matanya tumpah ruah berada dalam dekapan sang suami.


" Perempuan yang kamu anggap menjij1kkan ini, adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang kamu l3c3hkan, bahkan perempuan ini adalah perempuan yang kamu cintai, kenapa kamu harus menutupi semuanya dari aku?, kenapa?, apa karena aku begitu mur4han dimata kamu?,sebegitu menj1kjikkannya kah aku dimatamu?," tanya Nada menatap wajah suaminya itu.


Aryan segera mempererat pelukannya, dan kini sudah ikut menangis bersama Nada." Aku minta maaf....aku minta maaf...," hanya itu yang bisa Aryan ucapkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2