HIJRAH KU

HIJRAH KU
Bab.40 Hijrahku.


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


" Bang Aryan..., astaqfirulloh ini kenapa Bang?," tanya Irsyan begitu ia mendapati Aryan yang sudah terkapar di ruang tengah.


" Nada, Nada, selamatin Nada!," ucap Aryan menunjuk kearah kamarnya diatas, Irsyan pun segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Aryan dan Nada.Setelah membuka pintu, ia terkejut mendapati Nada yang tak sadarkan diri disana, ia pun sedikit ragu akan menolong Nada atau tidak karena Nada yang saat ini hanya berbalutkan pakaian kurang bahan.


" Ya Allah...aku gak bermaksud bermaksiat," lirihnya kemudian menutupi seluruh tubuh Nada dengan selimut, kemudian ia pun menggendong Nada dan segera membawanya ke mobilnya. Setelanya, ia segera menghampiri abangnya dan membalut luka Aryan,ia pun memapah Aryan ke mobilnya.


***


" Dek, tolong bawakan satu pakaianmu ke rumah sakit untuk Nada," ucap Irsyan saat menelpon Ayra yang membuat Ayra mengernyit bingung.


" Kesini aja dulu,nanti Abang jelaskan, hati- hati ya," lanjut Irsyan kemudian.


Sementara Nada kini ditangani oleh Dokter Maya selaku dokter kandungan, begitu juga dengan Aryan yang masih ditangani oleh Dokter Myna selaku dokter yang biasa menangani Aryan.


" Gimana Myn,Bang Ar baik- baik aja kan?," ucap Irsyan segera ikut mengecek keadaan Aryan.


" Dia masih kritis, bisa dilihat sendiri, banyak bangat darah yang ia keluarkan, terus masalah yang paling besar kita kekurangan darah," ucap Myna masih mengecek keadaan Aryan.


" Golongan darah kami kan sama Myn,ya udah aku sedia donorkan darah," ucap Irsyan kemudian, ia pun mempersiapkan alat untuk pendonoran darah dan akhirnya Dokter Myna membantunya mendonorkan darah untuk Aryan.


Sementara ditempat lain, Nada juga tengah berjuang melawan sakitnya.


" Dokter Irsyan,apa gak ada keluarga lain dari adik ipar Anda,beliau sedang dalam keadaan kritis sekarang," ucap seorang suster begitu ia masuk keruangan rawat Aryan." Ya allah...," ucap Irsyan mengusap wajahnya frustasi.


" Tolong lakukan semaksimal mungkin, apapun caranya Nada dan bayinya harus selamat,istri saya segera kemari untuk menemaninya," ucap Irsyan,saat tranfusi darah masih berlangsung.


Tak lama setelahnya, Ayra pun datang dan segera keruangan rawat Aryan.


" Bang,apa yang terjadi?," tanya Ayra begitu melihat Irsyan yang masih melakukan tranfusi darah untuk Aryan.


" Panjang ceritanya dek,tolong kamu keruangan Melati sekarang, Nada butuh kamu, nanti Abang kesana juga setelah ini selesai." ucap Irsyan yang segera diangguki oleh Ayra.


" Maaf sus, ruangan atas nama Nada Aulia Alzahra dimana ya?," tanya Ayra pada seorang perawat yang sedang lewat.


" Oh itu Mbak, Mbak lurus saja ya," ucap perawat itu.


" Makasih sus," ucap Ayra dan diiyakan oleh perawat tersebut. Dengan perasaan cemas, khawatir dan was was menjadi satu, Ayra berjalan di koridor panjang ini menuju kamar rawat kakaknya Nada.


Ayra pun membuka pintu ruangan itu dan nampaklah ia Nada yang terbaring lemah tak sadarkan diri, bukan hanya itu yang membuat Ayra merasa miris dan sedih tapi melihat Nada yang tanpa hijab juga membuatnya menangis.Perlahan, akhirnya ia memasang pakaiannya yang ia bawakan untuk Nada." Sadarlah Nad...," lirihnya sendu sembari mencium kening Nada.


" Mbak Nada terlalu lama tak dapat menghirup udara sepertinya, sehingga bayinya juga ikut sakit didalam," ucap Dokter Maya yang baru saja muncul dari balik pintu.


" Gimana caranya agar Bada bisa cepat siuman dok?," tanya Ayra sembari menyeka air matanya sendiri.


" Kita hanya bisa berdoa smoga Mbak Nada bisa melawan sakitnya ya," ucap Dokter Maya menepuk lengan Ayra.


" Assalamualaikum ma, Ay cuma mau bilang, Nada dirawat di rumah sakit ma,tolong mama jenguk dia ya, siapa tahu Nada bisa sadar dengar suara mama," ucap Ayra saat menelpon mamanya.


***


" Gimana Nada?," tanya Irsyan saat ia baru saja menghampiri Ayra.Ayra segera memeluknya dengan tangisannya.


" Jangan nangis, kamu harus kuat, Nada butuh kamu kan?," ucap Irsyan melepaskan pelukannya dan menyeka air mata istrinya itu.


" Kalau Nada dan Bang Aryan gak sadar gimana?," tanya Ayra menundukkan kepalanya dan segera Irsyan meraih dagunya dan menatapnya.


" Hem, berdoa dek,kita cuma bisa berdoa, kuasa allah kita gak tahu, yang penting kita udah usaha dan doa, kembali jikapun kita berusaha sekuat kuatnya jika kat


allah tidak, maka kita bisa apa, nyawa kita hanya titipan dek, jangan kan Bang Aryan dan Nada kita yang sehat sehat aja pun kita gak tahu kapan kita dipanggil-Nya," ucap Irsyan menjelaskan menatapi wajah istrinya itu.


***


Pagi harinya, Mama Asya dan Papa Ilham segera menemui sang anak diruangan rawat.Mama Asya nampak menangis sendu sembari memeluk tubuh Nada yang masih tak sadarkan diri itu." Mama datang nak, mama mohon sadarlah...," ucap Mama Asya sembari mencium kening Nada.


Papa Ilham juga melakukan hal yang sama, ia juga mencium kening putrinya itu kemudian mencium punggung tangan putrinya." Papa minta maaf Nad, papa minta maaf...,"


Sementara diruangan Aryan,Karin mencium kening Aryan seraya berbisik," Maaf ya Ar,"

__ADS_1


Dan hal itu berhasil dilihat oleh Dokter Irfan selaku dokter yang menangani Aryan." Maksud kamu apa Rin?," tanya sang papa bingung dengan gelagat putrinya itu yang tiba tiba kikuk tak seperti biasanya.


" Pa, Karin cuma...minta maaf doang, gak lebih,maksud Karin...untuk selanjutnya Karin akan lupain Aryan, Karin sadar kalau dia suaminya Nada, sepupu Karin sendiri," ucap Karin menutupi kebenaran yang ada.


" Baik, papa percaya sama kamu dan mulai saat ini jangan menemui Aryan diam diam lagi seperti ini," pinta sang ayah yang segera diiyakan oleh Karin, akhirnya, Karin pun ijin pamit keluar dari ruangan itu.


Tak lama setelahnya, Dokter Irfan dibuat terkejut dengan Aryan yang tiba tiba membuka matanya."Nada..." lirih Aryan seraya menatap langit langit ruangan itu.


Dokter Irfan pun segera mengecek kondisi Aryan.


" Alhamdulillah, kamu sudah berhasil melewati masa kritis Ar, kerja bagus nak," ucap Dokter Irfan dengan semangat.


" Nada gimana?," tanya Aryan masih lemas.


" Nada,saya kurang tahu, tunggu sebentar lagi ya, Irsyan akan segera kesini." ucap Dokter Irfan kemudian membetulkan posisi oksigen Aryan.


" Aku ingin ketemu Nada dok," lirih Aryan kembali, tak bisa dipungkiri, Dokter Irfan menuruti permintaan Aryan, meski kondisi Aryan sendiri belum sepenuhnya stabil.Dokter Irfan pun memindahkan Aryan ke kursi roda dan mendorong kursi roda itu melewati koridor menuju kamarnya Nada.


" Bang Aryan...,Bang kenapa kesini?," tanya Irsyan menghampiri abangnya.


" Aku ingin ketemu Nada," lirihnya masih lemas,Irsyan pun menggantikan Dokter Irfan untuk mendorong kursi rodanya Aryan.


" Kalian keluar, aku mau ngomong sama Nada," ucap Aryan lirih, meski ragu tapi mereka semua menurut saja.


Aryan menciumi tangan sang istri yang masih tak sadarkan diri, air matanya bahkan kini sudah membasahi pipinya, ia benar benar tidak bisa menahan diri agar tak menangisi sang istri.


" Sayang bangun, aku gak bisa lihat kamu seperti ini," ucap Aryan lirih kemudian ia mengelus perut Nada. " Nak, bertahan ya, bilang agar bunda bangun...papa gak sanggup dengan ini, papa lebih baik sakit daripada melihat kalian sakit," lirih Aryan dalam tangisan itu,tiba tiba getaran di perut Nada sebagai tanda bayinya mendengar ucapan papanya.


" Kamu mendengarkan papa nak?," tanya Aryan kemudian membuatnya menangis semakin dalam, air matanya terus mengalir membasahi pipinya bahkan sudah membuat tangan Nada ikut basah, tanpa ia sadari Nada sudah tersenyum menatapinya.


Aryan masih terus menerus menangis pilu yang membuat Nada ikut menangis, barulah Aryan tersadar akan hal itu.


" Nada kamu sudah bangun?," tanya Aryan seraya menciumi tangan Nada, Nada pun mengangguki hal itu.Aryan segera menyeka air mata istrinya itu dengan tangannya yang masih ada selang infus kemudian ia pun menyeka air matanya sendiri.


Ingin sekali rasanya ia memeluk istrinya itu tapi perutnya masih sangat terasa perih sehingga membuatnya tidak bisa berdiri dengan baik.


****


" Bang, Dokter Maya menyarankan, agar Nada usg, takut katanya kalau persalinan Nada nanti akan menjalani operasi,"


" Em, sama Dinda aja ya piginya, Abang malas berurusan sama rumah sakit dek," ucap Aryan, enggan untuk membuka matanya, kepalanya terasa berdenyut kuat makanya ia mencoba tiduran meredakan rasa nyerinya.


" Em, baik.Nada sama Ayra aja ya kalau gitu," ucap Nada kemudian.


" Kalau sama Ayra, bilang Irsyan juga ikut, kalau ada waktu sih dia, biar ada yang jagain, kepala Abang nyeri bangat, Abang gak bisa bantuun kamu," lanjut Aryan, kemudian Nada memijit kepala Aryan.


" Em, sudahlah dek,udah berkurang kok, nanti aku suruh Dinda kesini, kamu pergilah biar cepat juga pulangnya," ucap Aryan kemudian Nada pun menyalim tangan suaminya itu.


" Hati hati," ucap Aryan seraya mencium kening Nada.


***


" Kembar?," tanya Nada terlihat begitu senang.


" Ya iyalah kembar, lah mamanya aja kembar," celetuk Ayra senang." Gak sabar pengen cepat cepat nyambut kelahirannya," lanjut Ayra.


" Gimana hasilnya?," tanya Irsyan yang sedari tadi hanya menunggu diluar.


"Babynya kembar, terus gendernya juga cewek, Abang bisa lihat sendiri," ucap Ayra sembari memberikan photo hasil usg.


" Alhamdulillah...," ucap Irsyan senang.


***


Nada terdiam saat ia melihat Aryan sedang tiduran dipangkuan Dinda,kemudian ia pun meraup oksigen banyak banyak.


" Tenang Nada, itu hanya kak Dinda, dia cuma bantu pijitin suami kamu, oke, jangan cemburu," ucap Nada membathin, kemudian ia pun mengucapkan salam sebelum masuk kedalam rumah.


" Walaikumsalam," jawab keduanya.

__ADS_1


" Masih sakit juga Bang?, mau Nada pijitin, atau mau Nada ambilkan minum?," tanya Nada lembut memegang tangan Aryan menyembunyikan kecemburuan nya.


" Apa sih dek...," ucap Aryan kesal mengawaskan tangan Nada darinya.


" Aryan!," kesal Dinda menampar lengan Aryan.


" Sakit Nada!, sakit!," ucap Aryan meninggikan suaranya seraya memegangi kepalanya sembari duduk dari tidurnya.


" Maafin Nada Bang," ucap Nada sembari berlalu dari sana,dengan tangisan.


" Dinda tolong," ucap Aryan kembali membaringkan tubuhnya dan berbantalkan paha Dinda.


" Dinda...!," kesal Aryan saat Dinda tak juga memijit kepala nya.


" Eh iya," ucap Dinda segera memijit kepala Aryan kembali setelah sadar dari tatapannya terhadap Nada.


" Ar kamu kok kasar gitu sama Nada, Nada nangis tahu gara gara kamu bentak dia," ucap Dinda masih memijit kepala Aryan.


" Bisa jangan dibahas dulu gak?, sakit Dinda!, sakit!, ada gak kalian yang ngerti sakitnya gimana,hah?," ucap Aryan meringis kesakitan bahkan sangking sakitnya, air matanya sudah luruh membasahi pipinya, membuat Dinda terdiam, mengiba pada Aryan.


***


" Nada..., em belum tidur?," ucap Dinda saat ia baru saja membuka pintu kamar Nada.


" Belum kak," ucap Nada sembari menghapus air matanya dan ia segera duduk.


" Masih kepikiran dengan ucapan Aryan tadi?, maafin Aryan ya, Aryan gak bermaksud buat kamu sedih, dia cuma gak bisa ngomong ke kamu gimana sakitnya dia, hem gini Nad, Aryan lagi di fase depresi sekarang, lihat saja dia mudah nangis, mudah emosi, dia lagi bingung harus gimana mengeksperesikan keadaannya sekarang, disatu sisi ia sedang berjuang melawan sakitnya disisi lain kamunya juga lagi hamil mudah sensitif, ia bukannya gak cinta lagi atau berkurang, enggak...dia cibta bangat sama kamu, sayang sama kamu dan anak kalian, tapi keadaan dia juga lagi gini kita bisa apa, saran kakak banyakin sabar ya Nad, gak usah dimasukkan kehati kalau Aryan ngomong kasar sama kamu, soalnya kalian berdua sama, lagi sama sama di fase sensitif bangat, em kamu tahu sendirilah sifat suami kamu iyakan?, kak gak perlu jelasin apapun lagi," ucap Dinda panjang kali lebar menjelaskan kondisi Aryan sekarang.


Nada pun tersenyum mendengar ucapan Dinda dan menganggukinya.


" Hem,dia ketiduran dibawah, biarin aja ya,mumpung bisa tidur dia," lanjut Dinda.


" Em, iya kak,makasih ya kak, kak Dinda udah capek capek ngurusin Bang Aryan," jawab Nada kemudian.


" Gak papa kok, Aryan itu satu satunya orang yang percaya sama aku, saat semua orang membenciku, jadi wajar aku bantuin dia sekarang, soal mental, kak sudah biasa dibentak bentak Aryan," ucap Dinda kemudian tertawa, tapi justru membuat Nada heran.


" Hem?, Bang Aryan sering bentak Kak Dinda?," tanya Nada kemudian.


" Bangat malah, ya udah kamu tidur, jaga kesehatan kamu," ucap Dinda segera berdiri dan berlalu meninggalkan Nada.


Perlahan Nada menghampiri Aryan yang terlelap dalam tidurnya, Nada pun mencium kening suaminya itu kemudian menyelimutinya." Cepat sembuh ya Bang," lirih Nada sebelum akhirnya ia kembali kekamarnya.


" Ya Allah...yang maha penyayang lagi maha pengasih, engkau yang memberi penyakit dan memberi obatnya ya allah, tolong sembuhkanlah suami hamba ya allah,ya rob sesungguhnya hamba sadar Engkaulah tempat kembali kami ya allah, tapi apakah hamba terlalu egois jika hamba menginginkan kesembuhan untuk suami hamba?," tanya Nada lirih dalam tangisnya saat ia sedang melakukan sholat malam(tahajjud).


Aryan ikut menangis mendengar itu saat ia baru saja memasuki kamarnya, Nada menoleh pada saat ia mendengar suara tangisan Aryan,Nada pun menghampirinya dan segera memeluk sang suami.


" Sholat sama sama yuk," ucap Nada yang segera diiyakan oleh Aryan.


Selesai sholat,Nada menyalim tangan suaminya itu, dan Aryan juga mencium tangan istrinya.


" Dek,Abang belum sempat lihat hasil usg nya," ucap Aryan saat Nada tengah melipat mukenahnya, Nada pun tersenyum dan kemudian ia pun mengambil photo hasil usg tadi dari laci dan segera memberikannya pada Aryan.


" Masyaallah,bundanya kembar, anaknya ikut kembar,hem," ucap Aryan begitu senang kemudian mencium perut Nada, setelahnya ia mencium pucuk kepala Nada." Makasih sayang, dan maaf soal tadi," ucap Aryan kemudian dan diangguki oleh Nada.


***


Aryan tersenyum merekah saat ia menaiki anak tangga yang sudah disambut oleh Nada saat ia baru saja pulang dari sholat jum'at.Nada segera mengulurkan tangannya ingin menyalim tangan suaminya itu namun justru Aryan mencium tangannya kemudian mencium keningnya juga yang tentunya membuat Nada tersenyum senang.


" Ehemk...pasangan bucin!," celetuk Dinda sembari menutup kedua mata Faiz dari pemandangan itu yang akhirnya membuat Aryan dan Nada tersipu malu.


****


Mereka semua sedang berkumpul demi membuat acara tujuh bulanan Nada ( baby moon), meski sebelumnya Nada menolak, acara itu terlaksana juga gegara Mama Ayesha dan Mama Asya yang sangat sangat ingin acara itu berlangsung.Entah dapat hadis darimana, kata Mama Ayesha acara tujuh bulanan itu wajib hukumnya bagi keluarga mereka.


" Selamat ya," ucap Aisha sembari memeluk putri sahabatnya itu.


" Alhamdulillah,akhirnya ketemu mama lagi." ucap Nada sumringah, tapi justru membuat Aryan mengernyit.


" Mama?," tanya Aryan bingung,ia heran sebenarnya istrinya itu punya mama berapa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2