
...🌹Happy Reading 🌹...
" Kak Dinda...kak baik baik saja?," tanyanya, saat sudah berada di ruangan rawat Dinda.
" Iya Nad, Alhamdulillah allah melancarkan nya" ucapnya penuh syukur.
" Alhamdulillah kak, em...selain bayi kakak , ada lagi kebahagian yang sulit di ucapkan."
" Apa Nad...hem?"
" Bang Aryan sudah siuman, tadi dia juga nitip salam ke kakak.."
" Siuman...? alhamdulillah..." lirihnya terharu.
" Kak Dinda jangan nangis dong..." ujarnya, kemudian memeluk Dinda.
" Benar kan kak, semua akan indah pada waktunya. " ujarnya, dan di balas anggukan dari Dinda.
" Oh ya kak...Nada sekalian mau pamit, soalnya pesantren udah Nada tinggalkan 5 hari ini..Takutnya Rayni kewalahan mengajar murid Nada kak."
" Em...baiklah, makasih banyak ya Nad, kamu sudah banyak membantu saya.."
" Gak papa kak, kita memang di haruskan untuk saling menolong. " ujarnya, kemudian beralih ke box bayi di samping brankar Dinda.Nada menggendong bayi mungil itu dengan sangat hati hati, kemudian ia menciumnya. Pada saat yang sama tak terasa air matanya terjatuh.Buru buru ia pun meletakkan bayi mungil itu dalam box.
" Hem...ya sudah...Nada pamit yah kak." ujarnya kemudian menyalami tangan Dinda.
Setelah acara pamitan itu, orang tua Dinda tiba di ruangan rawat Dinda.
Sebelum benar benar pergi, Nada menyempatkan untuk menatap Aryan dari balik pintu ruangan rawat Aryan.
" Cepat sembuh ya bang, kak Dinda dan anak bang menunggu. Selamat bahagia...Nada pamit, dan mudah mudahan kita tidak di pertemukan lagi.Nada belum bisa untuk memafkan bang Aryan.
Maafin Nada...tapi kamu bukanlah jodoh ku bang dan kamu tercipta untuk bersama kak Dinda.Selamat bahagia..." lirihnya pelan menatapi wajah tenang Aryan dari jauh.
Nada pun melangkahkan kakinya dari sana.
***
" Ma, ijinin aku ketemu Dinda..."
" Kamu gak berhak ketemu anak saya...! silahkan angkat kaki dari sini." ujarnya tegas mengusir Aryan menantunya.
" Tapi ma, Dinda itu istriku aku berhak atas dia dan aku ingin ketemu sama dia, aku ingin ketemu sama anak aku..." ujarnya, berusaha menerobos masuk namun terus di halangi oleh pak satpam.
" Dinda....! aku perlu bicara sama kamu...!" teriaknya.
__ADS_1
" Jangan membuat keributan disini Aryan, pak bawa dia keluar dari rumah saya...!" ujarnya, menyuruh ke dua satpam bertubuh kekar itu.
Segera Aryan pun di bawa keluar dari pekarangan rumah mewah keluarga Dinda.
" Dinda....! keluar Din...aku perlu bicara sama kamu..." teriaknya dari balik pagar rumah.
Tak ada jawaban sedikitpun akhirnya membuatnya menyerah.Ia pun merasa frustasi menyugar rambutnya.
" Maafin aku Ar...aku harus lakuin ini, aku perlu tahu apakah aku penting bagi kamu." lirihnya, menatap Aryan dari balik tirai kamarnya.
Hampir sejam an Aryan menunggu seseorang datang membukakan pagar namun hasilnya nihil. Akhirnya ia lelah dan menyerah ia pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
***
Ia menghempaskan tubuhnya di kasurnya, jujur ia kehilangan sangat kehilangan sosok Dinda. Biasanya Dinda akan selalu menjadi tempat keluh kesahnya, kini Dinda sedang merajuk padanya karena masalah yang telah lampau.
DUARR...
Petir tiba tiba menyambar nyambar di luaran sana.Aryan malah ke ingat Dinda yang takut petir.
" Dinda." lirihnya, menatap ke luar dari jendela kamarnya,hujan deras dan petir menyambar nyambar seketika membuat hatinya tidak tenang memikirkan istrinya itu.
Akhirnya, ia pun keluar rumah dan langsung memasuki mobilnya yang terparkir di depan rumanya.Ia pun menyalakan mesin mobilnya dan segera berlalu meninggalkan rumahnya.
"Hem...aku heran sama kamu, untuk apa kamu peduliin aku, sementara kamu tidak mencintaiku, kenapa?," tanyanya menuilangkan kedua tangannya di dada.
" Maksud kamu apa Din?,"menatap Dinda penuh rasa penasaran.
" Sebenarnya kamu cinta sama Nada atau aku Aryan?."
" Aku gak ngerti, untuk apa kamu terus bahas Nada, sementara dia bukan jodohku dan yang harus aku perhatikan itu kamu, bukan dia."
" Hehe, benar.Sampai kamu rela hujan hujanan demi aku, aneh aja hati kamu bilang iya tapi mulut kamu tetap berkata tidak.Tapi tidak apa, aku faham sekarang!",ujarnya, kemudian meraih tangan Aryan.
Dinda pun membawanya masuk ke dalam rumah, lalu memberikan sebuah handuk.
" Ujiannya sudah selesai, merajuknya sudah selesai. Sekarang aku maafin kamu, tapi ingat, aku gak mau lagi dengar kamu masih memikirkan wanita lain." ujarnya, membantu Aryan menggosok rambutnya yang basah oleh air hujan.
" Kamu aneh deh Din, aku gak ngerti kamu ngomong apaan dari tadi."
" Ish...kalau gak ngerti ya sudah pulang aja, sana...",ucapnya, mengerucutkan bibirnya.
" Mau marah lagi?," tanyanya, kemudian memeluk Dinda dari belakang.
" Maafin aku yah, aku salah memperlakukan kamu selama ini,"
__ADS_1
Dengan senang hati Dinda tersenyum dan membalikkan badannya menatap wajah suaminya,ia pun membalas memeluk suaminya itu.
" Aku juga minta maaf yah, gegara aku kamu harus mengalami kecelakaan dan koma selama empat buln terakhir tapi alhamdulillah allah menyadarkan kamu saat anak kita lahir.Oh ya kamu bertanya anak kita dimana?,"
" Tentu aku penasaran dia dimana, tapi aku harus membujuk mama nya terlebih dulu."
" Hehe...maafin aku yah, aku gak berniat misahin kamu sama anak kita, ya udah ayok." ujarnya, menarik tangan sang suami.
" Mama, Aryan datang, mama bisa meninggalkan kami disini." ujarnya, Saat sudah sampai dikamar dan mendapati sang mama menimang bayinya.
" Oh iya, baiklah."
" Loh...mama bukannya marah sama aku ya?," tanyanya;merasa bingung.
Tak ayal pertanyaan nya malah membuat mama Dinar dan Dinda tertawa.
" Drama sudah selesai nak, mama sudah lihat keseriusan kamu dalam rumah tangga kalian.Soal tadi siang mama minta maaf yah, ya udah mama tinggal ya," ujarnya, sembari ia berjalan ke arah Aryan ia menaruh bayi itu ke gendongan Aryan kemudian, menepuk bahu Aryan.
" Ya allah nak..." lirihnya, kemudian mencium pucuk kepala bayi mungil itu.Perasaan haru ia rasakan, karena ini kali pertama nya ia bertemu dengan sang anak sejak lahir seminggu yang lalu.
" Kita beri dia nama siapa Ar?," tanyanya, menyandarkan kepalanya di bahu Aryan.
" Aku belum tahu Din, terserah kamu aja aku ngikut." ujarnya, memeluk bayinya penuh sayang.
" Yang azandnin dia siapa Din?,"tanyanya, menatap dang istri.
" Em...itu, dokter yang azandnin, lagian waktu itu kan keadaan kamu juga lagi tidak stabil.Gak papah kan?."
" Em...iya.Gak papah kok." ujarnya, kemudian berjalan ke arah tempat tidur masih dengan menimang bayinya.
" Kamu perhatiin apa sih? dari tadi ku tengok liatin wajah anak kita terus?," tanyanya, sembari mendudukkan diri di samping suaminya.
" Gak papa Din, aku cuman gak mau dia punya sifat yang sama, sama aku"
" Hem?, lah bukannya dulu kamu ingin anak kita punya sifat somplak kek kamu."
" Ish...Dinda, bukanlah itu lah."
" Hehe...tuh kan, terus apa?, gak usah mikirin yang aneh aneh, kita diain yang terbaik aja untuknya nanti."Aryan pun menangguki ucapan Dinda.
" Makasih ya Din, kamu sudah selalu mencintai ku dan kamu sudah menjadi ibu dari anak ku." ujarnya, kemudian mengecup kening istrinya.
" Hehe...kek bukan lu ya Ar, biasanya lu jarang romantis."
" Ck...selalu yah, cowok selalu salah walaupun kenyataan benar sekalipun tetap cewek yang paling benar." rungutnya dan semakin membuat Dinda tertawa kemudian ia memeluk tubuh kekar suaminya itu di sela sela tawanya.
__ADS_1
Bersambung
Tinggalkan jejak kalian yah 💕💕