HIJRAH KU

HIJRAH KU
Bab.41 Hijrahku.


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


" Mama Nada itu banyak Bang, ada Mama Asya mama yang sudah melahirkan Nada, tapi semua sahabat mama, Nada manggilnya mama juga,nah ini Mama Aisha,ini Mama Asyila, udah ketemu juga waktu itu, dan satu lagi Mama Tiara, tapi beliau sudah meninggal,saat Nada belum lahir, pas kecilnya Kak Aries lah," ucap Nada sembari bercerita, ia juga mengenalkan satu persatu orang tua angkatnya alias sahabat mamanya, Aryan pun manggut manggut mengerti akan penjelasan dari istrinya itu.


" Datang juga?," ucap Irsyan sembari menepuk punggung Arkha, yang membuat pemiliknya terkejut.


" Awak,cari masalah dengan saye kah?," tanya Arkha sembari berdiri dan membalas tamparan Irsyan tadi pada punggung Irsyan.


Nada yang melihat itu, dibuat geleng geleng kepala tak percaya, bahkan diacara seperti inipun kedua sahabat itu masih bertingkah konyol.


" Ish...kalian nih, gak bisan kah berdebat mulu?," tanya Ayra yang baru saja muncul, setelah sempat melihat kedua sahabat itu beradu argumen.


" Ni orang memang gak ada sopannya,lupa dia kalau saya iparnya," ucap Arkha kesal sembari kembali menepuk lengan Irsyan.


" Ipar sih ipar, tapi jangan kdrt juga," jawab kesal Irsyan mengelus lengannya." Dek lihat nih kelakuan abang kamu," adu Irsyan pada Ayra yang malah membuat Ayra mengendikkan bahunya.


" Le eleh, manja," celetuk Arkha kembali menepuk lengan Irsyan membuat Irsyan menatapnya tajam.


" Ssst Arkha," ringis Irsyan kesal.


" Aryan, sudah lama gak ketemu, sekali ketemu udah punya anak aja,"ucap Arham sembari memeluk Aryan sekilas dan karena hal itu Arkha dan Irsyan menghentikan tingkah konyol mereka, karena mereka tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.


" Kabar gimana kabar?," tanya Aryan setelah pelukan itu terlepas.


" Ya gini deh baik," ucap Arham sembari tersenyum dan mengendikkan bahunya, Aryan malah menoleh kebelakang Arham seakan tengah mencari seseorang.


" Aku sendirian, Niar sibuk sama temannya," jawab Arham seakan mengerti apa yang Aryan cari.


" Oh gitu,istri simpanan gak kamu ajak?," tanya Aryan yang membuat Nada menampar lengannya.


" Ck, aku nikahin secara sah,itu berarti bukan simpanan,antum mengerti?," jawab Arham, kemudian mereka berdua tertawa.Nada justru merasa segan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


" Gak adek, gak abang, sama, sama sama gesrek," ucap Ayra geleng geleng kepala mendengar ucapan Aryan itu, kemudian ia pun melenggang dari sana dan bergabung dengan Irsyan dan Arkha.


" Abang Iz, salim Om nya nak," suruh Aryan dan segera dilakukan oleh Faiz.


" Anak kamu Yan?,kok gak mirip ya?," celetuk Arham.


" Gak mirip darimana?," tanya Aryan mendelik.


" Gantengan anaknya hehe," ucap Arham sembari tertawa kecil yang membuat Aryan manyun.Kemudian Dinda menghampiri mereka.


" Eh, ada Mas Arham, lama gak ketemu Mas," ucap Dinda mengulurkan tangannya dan disambut oleh Arham, mereka pun bersalaman.


" Faiz, salam Om Arham nak," suruh Dinda.


" Udah tadi," jawab Arham cepat." Anak kamu Din?, pantes gak mirip sama Aryan," lanjutnya.


" Hehe, gitu deh," jawab singkat Dinda tertawa kecil.


" Selamat ya Nad," ucap Aries kemudian sembari memeluk Nada.


" Makasih kakak udah datang," jawab Nada saat pelukan itu berakhir.


" Ini yang namanya Kak Aries, Bang," ucap Nada memperkenalkan Aries pada Aryan, mereka pun bersalaman.

__ADS_1


" Ish, abang lu," kesal Arkha dan Irsyan segera mengelus dada Arkha.


" Sabar,dia adek lu juga kan?," ucap Irsyan kemudian,Arkha pun mengangguki hal itu sembari mengawaskan tangan Irsyan darinya.


Akhirnya malam pun tiba,acara sudah mulai selesai,Irsyan maupun Arkha membantu menyimpan perkakas yang digunakan tadi.


Selesai dari itu,mereka pun makan malam bersama.Namun seperti yang terlihat, Aryan nampak terus menerus memejit pelipisnya sedari tadi,membuat mereka jadi khawatir.


" Bang, gak papa?," tanya Irsyan dan segera Aryan balas dengan gelengan kepala.


" Bawa istirahat dulu Bang, capek mungkin," ucap Irsyan kemudian dan diangguki oleh Aryan, ia pun segera berlenggang dari sana seraya menarik tangan Nada.


Di kamar Aryan, semasa dia masih lajang, Nada membantu Aryan berbaring dan segera menyelimutinya.


" Hem,udah sakit aja pun, masih sempatnya bawa Nada," celetuk Dinda yang membuat semua orang menatapnya.


" Hem,tenang, maksudku Aryan bucin bangat," ucap Dinda menjelaskan.


" Nah iya, kalau itu setuju aku," celetuk Arkha." Memang harus gitu kalau udah nikah mah,biar gak ada tempat buat pelakor or pebinor," lanjutnya menjelaskan.


" Le eleh, macam betul aja, lupa dia maren pernah anu," celetuk Irsyan tanpa dosa membuat keadaan hening seketika.


" Hehe,Irsyan dan Arkha memang gitu,suka bercanda," ucap Mama Ayesha memecah keheningan itu dan pada akhirnya mereka semua ikut tertawa.


" Maaf semuanya, mengganggu," ucap Karin yang baru saja muncul. " Aku ingin ketemu Nada dan Aryan, boleh?," lanjutnya.


" Untuk apa kamu kesini?," tanya Irsyan kesal, karena ia sudah tahu sebelumnya, bahwa Karin lah yang membuat Nada dan Aryan dulu terluka.


" Ada apa Rin?," tanya Nada saat ia dan Aryan baru saja menuruni anak tangga.Nada pun menghampiri Karin, sedang Aryan menggabungkan diri dengan keluarganya.


" Kenapa?," tanya Nada balik bertanya.


" Jujur aja,aku benci bangat sama kamu Nada,bagiku,kamu mengambil semuanya dari aku,Bang Arkha,papa dan mama, mereka semua cuma sayang sama kamu dan Ayra, sedang aku...aku hanya...entah, mereka menganggap aku apa." ucap Karin kini dibuat menangis atas ucapannya sendiri.


" Karin...," lirih Dokter Irfan ingin menghentikan putrinya.


" Papa diam!,papa gak usah ikut campur," ucap Karin menghentikan pergerakan ayahnya.


" Soal apa kamu benci sama aku, aku gak tahu, aku minta maaf atas hal itu," ucap Nada meraih tangan Karin tapi Karin segera menghempaskannya.


" Bisa gak kamu jangan berpura pura Nada!," ucap Karin meninggikan suaranya,dan selanjutnya Karin menangis semakin dalam.


" Aku minta maaf,aku iri sama kamu, kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu,bahkan Aryan saja bisa dengan baiknya sama kamu, maaf aku sudah menorehkan luka pada kamu,maaf Nad...," ucap Karin lirih, Nada tersenyum dan ikut menangis mendengar itu, kemudian ia pun memeluk Karin, sepupunya.


" Aku juga minta maaf, karena kehadiran ku sudah membuatmu kehilangan semuanya," ucap Nada sembari melepaskan pelukan Karin.


" Aku sudah siap dipenjara Nad," ucap Karin kemudian, sembari menunduk malu, malu dengan apa yang sudah ia perbuat.


" Gak akan, aku sudah maafin kamu kok," ucap Nada sembari menghapus air mata Karin, kemudian ia pun memeluknya.


" Boleh, aku bicara berdua sama Aryan?," tanya Karin lagi,saat pelukan itu berakhir.Nada menatap ke arah Aryan dan Aryan menolaknya dengan gelengan kepala.


" Iya, boleh." jawab Nada kemudian membuat Aryan menghela nafasnya panjang.


Karin pun keluar dan dengan malasnya diikuti oleh Aryan.

__ADS_1


" Aku minta maaf Ar," ucap Karin begitu tiba di taman depan rumah keluarga Aryan.


" Soal apa?,soal kemaren aku udah maafkan," singkat Aryan,ia masih berdiri dibelakang Karin.


" Hem, makasih," ucap Karin membalikkan badannya.


" Aku juga minta maaf Rin,atas semua yabg terjadi antara kita,aku gak tahu kalau akan gini akhirnya, andai aku tahu aku gak akan melakukan hal itu," ucap Aryan tulus.


" Hem,bukan salah kamu sepenuhnya,aku juga salah sudah ninggalin kamu waktu itu,dan akhirnya kamu ketemu sama Nada,"ucap Karin kembali membelakangi Aryan.


" Mungkin, takdir aku yang sudah gini Ar,entah masih ada yang mau nerima aku atau enggak, aku juga gak peduli tentang itu," Karin perlahan melangkahkan kakinya menjauhi Aryan.


" Besok, aku akan kembali ke Amsterdam,aku titip Nada ya, biar gimana pun dia sepupu aku dan otomatis kamu sudah menjadi iparku sekarang." ucap Karin sembari membalikkan badannya.


" Aku boleh meluk kamu gak?," tanya Karin, Aryan nampak berpikir.


" Kalau gak boleh juga gak...," ucapan Karin terhenti saat Aryan memeluknya dari belakang, Karin pun kembali menangis dan membalikkan badannya,ia pun memeluk Aryan kembali.


" Semoga kamu temuin orang yang jauh lebih baik dari aku," ucap Aryan seraya tersenyum dan mengelus rambut Karin dengan lembut yang semakin membuat Karin menangis pilu dalam dekapan itu.


" Sebenarnya,aku heran sama kamu Rin,apa coba yang kamu harapkan dari aku,kamu itu cantik, baik, berprestasi lagi, udah jadi dokter juga, pasti banyak yang mau sama kamu kok,oke." ucap Aryan memberi nasehat agar Karin bisa tenang.


" Kamu tahu artinya cinta pertama gak sih Rin?," tanya Aryan lagi yang membuat Karin mendongak menatap wajahnya.


" Manis,tapi belum tentu gula,indah,tapi belum tentu surga,bersama,tapi belum tentu jadi takdir." ucap Aryan,Karin pun perlahan melepaskan pelukannya dari Aryan dan segera menyeka air matanya.


" Oke,aku paham, makasih banyak ya Ar," ucap Karin kemudian menjauhi Aryan.


" Besok aku buat novelnya,judulnya Kasih tak sampai," ucap Karin sendu.


" Eh, ceritanya mau ganti propesi nih," ledek Aryan seraya tertawa dan Karin pun ikut tertawa dibuatnya.


" Nah gitu dong, jangan nangis terus, toh kita masih bisa jadi sahabat mungkin,dan seperti yang kamu bilang tadi, kita saudara ipar bukan?," tanya Aryan dan segera diangguki oleh Karin dengan senyuman.


Akhirnya, titik terakhir saling memafkan adalah jalan terbaik.


***


" Sayang...," panggil Aryan saat ia baru saja terbangun dari tidurnya.


" Nada baru saja pergi,dia mau kerumah sakit,gak tahu kenapa, tadi Nada mengalami mules seperti mau lahiran gitu," ucap Dinda yang otomatis membuat Aryan panik seketika.


" Kenapa gak bilang sama aku?," ucap Aryan segera berdiri dan meraih kunci mobilnya dan segera menuruni anak tangga,Dinda pun mengejarnya.


" Aryan, tunggu dulu, kamu gak bisa nyetir sendiri," ucap Dinda tapi tak dihiraukan oleh Aryan, langkahnya begitu cepat kearah mobilnya membuat Dinda ketinggalan.


" Aryan...," panggil Dinda saat Aryan sudah berlalu dengan mobilnya.


Aryan terus menerus memijit kepala nya yang serasa sudah mau pecah, bahkan hidungnya juga sudah berdarah, tapi itu semua tak dihiraukan oleh Aryan demi menemui Nada kerumah sakit.


" Ya Allah...tolong...," lirih Aryan seraya menyeka darah dari hidungnya namun darah itu terus saja keluar membuat Aryan jadi menangis,ia tiba tiba menghentikan mobilnya karena sakit kepalanya semakin merajalela keseluruh tubuhnya bahkan dadanya pun sudah ikut sakit membuat ia susah untuk bernafas.


Tin tin..


Klakson panjang dari setiap kenderaan yang berlalu karena kesal dengan mobil Aryan yang terparkir dibahu jalan, tapi semua suara klakson itu tak satupun berhasil membuat Aryan bisa menggerakkan tubuhnya yang sudah sakit keseluruhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2