HIJRAH KU

HIJRAH KU
Hijrah ku bab.29 Lembaran Baru


__ADS_3

...🌹Happy Reading 🌹...


"Dengar sayang,kesempurnaan itu milik yang maha sempurna,kita hanya mahluk yang tidak pernah lepas dari kesalahan." ujarnya ,mengingatkan sang istri.


Nada pun menatapinya kagum." Alhamdulillah...bang Aryan sudah menasehati Nada," lanjutnya dengan senyuman termanisnya.


" Sstt...jangan senyum gitu ih,bikin diabet ntar," godanya yang kemudian membuat sang istri tergelak.


Di sela sela gelak tawa sejoli itu, Aryan mencium pucuk kepala istrinya dan menenggelamkannya di dekapannya.


" Sekali lagi makasih banyak ya sayang,kamu sudah mau kembali menerima ku." lirihnya.


" Em.Nada juga,bang,Nada mau tanya boleh?," tanyanya ,menatap sang suami dengan senyuman.


" Kenapa?,"


" Bang Ar sama kk Dinda itu sudah lama sahabatan gitu? sampai sampai kak Dinda tahu semua tentang bang Ar,bahkan soal pribadi sekalipun.,"


" Pertanyaan yang bagus,tumben kamu nanyain itu,kenapa?hem..." Sembari meraih wajah istrinya.


" Gak usah cemburu sama Dinda,aku gak pernah ada perasaan sama dia,kecuali hanya sayang sebagai sahabat." lanjutnya menjelaskan.


" Bukan soal cemburu bang,tapi aneh aja kalian kan bukan muhrim,gak ada hubungan darah sama sekali,tapi kok bisa gitu kalian akrab bangat,sampe tidur seranjang pun gak jadi masalah." ujarnya bertanya tanya sedikit penasaran.


Aryan yang mendapatkan pertanyaan seperti itu ,membuat kesimpulan jika Nada memang tengah cemburu terhadap Dinda,tentu hal itu adalah hal yang paling menyenangkan baginya.Ia pun tersenyum kemudian mempererat pelukannya.


" Em...dari ceritanya aja udah cemburu itu.." lirihnya menggoda sang istri.


" Enggak bang,Nada cuma penasaran aja." sela Nada tak mau di bilang cemburu.


" Ck...iya deh,yang gak mau ngaku.Em...gimana yah,lah aku sendiri juga bingung,dibilang adik...hem gak cocok,tapi gitulah...aku sama Dinda kan udah temanan lama masih SMP dulu..kita temanan nya sampe sekarang ,jadi wajar aja sih menurutku kita bisa akrab gitu."


" Emang bang gak malu ceritain semua pribadi bang ke kak Dinda?" lanjut tanya Nada.


" Em..gak, gak tahu kenapa ,keknya kalau cerita ke Dinda perasaan malu itu ilang dah,dan aku butuh teman yang mau dengarin aku dan itu Dinda." jawab nya,Nada pun manggut manggut mengerti.


" Secara agama sih iya,dosa,lah kita bukan muhrim seperti yang kamu bilang tadi,tapi gak tahu lah suka aja isengin Dinda.Hehe...kamu nya jangan marah ya...aku berani sumpah kok,aku gak pernah ngapa ngapain sama Dinda,selain hanya peluk cium, cius dah gak boong"


" Em...iyain aja deh,kalau pun kamu bohong aku percaya kok,apalagi jujur mu." ujarnya membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya.


" Hem...jadi gak percaya nih ceritanya? hem?," tanyanya ,mengendikkan dagunya.


" Percaya,aku percaya bang Ar itu sayang sama aku" ujarnya tertawa kecil mendongak menatap wajah suaminya.

__ADS_1


" Gak lah sayang,Dinda itu cuma sahabat gak lebih,ya namanya sahabat dia bisa jadi adik kapan saja,bisa juga jadi kakak bahkan jadi ibu sekalipun,Dinda secara tidak sadar mungkin sering sakit hati karena aku.Dan kamu..." ujarnya menjawil hidung istrinya gemas.


" Kamu itu berbeda,kamu itu rumah ku tempat aku pulang,tempat bermanja dan tempat paling nyaman di dunia ini.Makasih banyak..." ujarnya sembari mengelus pipi sang istri kemudian mempererat pelukannya.


" Hehe....Nada baru sadar,bang Ar jago kata kata puitis "


" Gak sayang,aku serius...." ujarnya ,sembari menatap wajah istrinya.


" Em...gak percaya" ucap Nada menggeleng kan kepalanya.


" Serius nih gak percaya ?," tanya Aryan mengedipkan matanya.Nada pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman manisnya.


Tiba tiba Aryan duduk dan menggelitiki perut Nada.


" Haha...Aryan! gelik...lepasin"


" Bilang percaya gak,kalau gak aku gelitikin sampe pagi"


" Gak!" ujarnya ,tanpa ampun Aryan terus menggelitikinya.


" Iya iya iya..." ujarnya ,kemudian setelah capek tertawa.


Hening sesaat....


Hingga di detik berikutnya ,tatapan mereka bersatu,tak menyia nyiakan waktu,Aryan mencium bibir sang istri.


Hingga akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi.


***


" Sayang,em...sejak kapan nama aku jadi abang?" tanyanya ,saat memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang pagi ini.


" Em,lupa.Tapi biar sopan,kenapa bang,gak suka kah?," tanyanya ,membalikkan badannya dalam dekapan itu.


" Em...rada aneh dengarnya,apa karena gak biasa gak tahu juga yah,"


" Mulai sekarang biasain aja,Nada akan memanggilnya gitu tiap saat,iya bang Ar.."


Lagi lagi Aryan gemas pada perlakuan istrinya itu.Dengan keisengan nya ia pun menjawil hidung istrinya gemas.


" Ish...sakit tahu."


" Abisnya kamu gemasin sih, oh ya Nada sayang...abang mu yang tampan ini pergi ke kantor dulu ya, gak papa kan tinggal sendiri?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nada malah tertawa gelik sendiri mendengar ucapan suaminya.


" Eem.Hati hati ya bang" lanjutnya kemudian.


" Sip.Kamu juga hati hati di rumah ya." ujarnya sembari mengelus rambut sang istri.


Akhirnya Aryan pun pamit pada Nada.Setelahnya ia pun berangkat kerja.


***


Aryan baru saja sampai di depan gang rumahnya, tetapi ada yang menurutnya dangat janggal.Ada apa gerangan Irsyan mengunjungi rumah nya terlebih saat dirinya tidak berada di rumah.Akhirnya Aryan segera memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah.Sementara Irsyan berlalu dengan melajukan mobilnya.


"Nad...Nada..."panggilnya, menvari keberadaan sang istri.


" Walaikumsalam Bang Ar" jawab Nada seraya menyalim tangan suaminya.


" Ngapain Irsyan kesini?" tanya Aryan bingung tanpa basa basi lagi.


" Oh.Iya Bang, Irsyan tadi mencari Bang Aryan " jawab Nada seadanya.


" Cariin aku? aneh! orang tadi ketemu di gang itu kok, kenapa dia manggil?" tanya Aryan menatapi sang istri.


" Hem Nada juga gak tahu Bang,"


" Cih, apa itu cuman alasan doang?,


" Maksud Bang Ar apa?" tanya Nada meminta penjelasan karena baginya Aryan sedang menuduh dirinya atas sesuatu.


Seketika Aryan memegangi kedua lengan Nada, dan menatapinya tajam.


" Jujur, kamu masih ada perasaan kan sama Irsyan?"


Sontak Nada kaget mendapatkan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang sering kali membuat dirinya merasa di pojokkan sang suami.Pertanyaan yang selalu membuat Aryan membuat jawaban sendiri dan itu juga pertanyaan yang sama dari sebelumnya yang membuat mereka pisah.


" Jawab Nada!" suara Aryan meninggi.


" Istiqfar Bang, aku istri mu bukan orang lain, Irsyan itu adik mu aku gak mungkin masih menyimpan perasaan sama dia," jawab Nada sejujurnya namun, jawaban itu tidak memuaskan hati Aryan karena baginya Nada maupun Irsyan masih punya perasaan yang sama.


Aryan melepaskan tangan nya dari lengan Nada dan menjauhi Nada.Kemudian ia menghela nafasnya panjang.


" Demi Allah Bang, Nada berani sumpah Nada gak ada perasaan lagi sama Irsyan." lanjut Nada menegaskan.


" Maafin aku"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2