HIJRAH KU

HIJRAH KU
Bab.39 Hijrahku.


__ADS_3

...🕊Happy Reading 🕊...


Pagi yang cerah,Nada tersenyum senang saat ia membuka jendela kamarnya. Kemudian ia pun membangunkan sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya." Bang...bangun Bang udah pagi," ucap Nada sembari mencium pipi Aryan sekilas.


" Hem..mk.," Aryan menggeliat,lalu membawa Nada dalam dekapannya.


" Abang...udah pagi,jangan tidur lagi," ucap Nada lagi sembari melepaskan tangan Aryan darinya,namum Aryan enggagn melepaskan pelukannya itu dan mempererat pelukannya.


" Biarkan sebentar, aku ingin memeluk mu," ucap Aryan parau dengan suara khas orang baru bangun.Ia juga menciumi pucuk kepala sang istri.Tiba-tiba Nada merasakan tendangan kuat dari perutnya dan dengan senangnya, ia menaruh tangan Aryan memegang perutnya,sontak Aryan terkejut dengan getaran kuat itu dan ia segera membuka matanya dan segera duduk,bahkan sikapnya sangat agresif sangking senangnya.


" Ya Allah nak,sehat-sehat yah," ucap Aryan seraya mengelus elus perut Nada, kemudian ia pun mencium perut sang istri yang sudah mulai membuncit itu,Nada pun tersenyum mendapat perhatian seperti itu dari sang suami.


" Dek bayi kita kasih nama siapa sayang?," tanya Aryan kemudian masih mengelus elus perut Nada sebagai stimulasi kehamilan Nada yang sudah 5 bulan.


" Hem, belum lahir Bang,sabar...," jawab Nada, Aryan justru tertawa dibuatnya.


" Oh ya, dek belum pernah usg kan?, gimana kalau kita usg hari ini?," lanjut Aryan bertanya.


" Nada malas Bang,malas kerumah sakit, kalau Bang gak keberatan, temanin Nada jalan- jalan aja gimana?," ucap Nada menopang dagunya.


" Baik tuan putri," ucap Aryan seraya memberi hormat yang membuat Nada tertawa dan Aryan pun ikut tertawa.


Selesai mandi, Aryan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil dan segera dibantu oleh Nada.Nada juga membantu Aryan memasang kan kemejanya dan mengancingkan kancing kemeja tersebut.


Tangan Aryan tiba- tiba saja meraih dagu sang istri,agar mendongak menatap wajahnya,saat Nada menatapnya,ia pun mencium bibir Nada sekilas yang kemudian mendapat cubitan di perutnya dari Nada.


" Aw...," ringis Aryan seraya memegangi perutnya dan terakhir mereka tertawa bersamaan.


***


Saat mereka diperjalanan, Nada terus menerus menoleh kebelakang saat mereka melewati sebuah pohon mangga yang sedang berbuah, Aryan yang peka akhirnya memutar balikkan arah mobilnya.


" Kenapa gak ngomong sih dek...?," ucap Aryan menatapi wajah istrinya, dan hanya dapat senyuman daja dari sang istri.


Aryan pun memarkirkan mobilnya didepan rumah orang yang punya mangga tersebut, dan Aryan pun segera turun dari mobilnya. " Tunggu bentar ya," ucap Aryan sebelum pergi.


" Misi...permisi...," panggil Aryan seraya mengetuk pintu.


" Pake salam Bang!," celetuk Nada dari dalam mobil yang membuat Aryan nyengir sendiri.


" Salamalaikum...," ucap Aryan kemudian, Nada pun geleng geleng kepala mendengarnya.


" Walaikumsalam...," ucap seseorang setelah berkali kali Aryan panggil.


" Cari siapa ya mas?," ucap seorang ibu setelah membukakan pintu untuk Aryan.


" A- anu buk, boleh minta mangganya buk, istri saya lagi ngidam soalnya,"ucap Aryan seraya menimang- nimang kunci mobilnya untuk menetralkan suasana hatinya yang sedang bingung cara mengatakannya,tentu saja Nada tergelak tawa mendengar ucapan suaminya itu.


" Boleh kok mas, ambil saja," ucap ibuk itu dengan ramah.


" Siapa bik?," tanya seorang ibu lagi menghampiri keduanya.


" Ini buk...,"


" Aryan?," ucap Asyila memotong ucapan pembantunya,setelah melihat Aryan, dan tentu saja Aryan heran kebingungan pasalnya ia sama sekali tidak pernah mengenali ibuk tersebut.


" Tante kenal saya?," tanya Aryan masih kebingungan.


" Ya kenallah,suami Nada kan?, Nadanya di dalam mobil ya?," ucap Asyila seraya menghampiri mobil Aryan yang terparkir disana,ia juga segera membukakan pintu mobil tersebut.


" Loh...mama?," tanya Nada heran dengan kehadiran mama Asyila disana, kemudian ia pun turun dari mobil.


" Hem?, mama?," tanya Aryan mengernyit bingung.


" Kerumah dulu deh, kerumah, biar kita ngobrol- ngobrol dulu," ucap Asyila seraya merangkul lengan Nada dan Aryan hanya mengikuti saja dibelakang, masih dengan kebingungan nya.


" Alhamdulillah ya nak,kamu sudah banyak berubah sekarang," ucap Asyila seraya menepuk punggung tangan Nada.


" Alhamdulillah ma, Allah beri Nada waktu untuk bertaubat." jawab Nada kemudian mengulas senyum.


" Oh ya Bang Aryan kayaknya masih bingung, kenapa Nada manggilnya mama," ucap Nada kemudian tertawa dan diikuti tawa juga oleh Asyila, sedangkan Aryan hanya diam saja berasa lagi diejek oleh Nada.


" Maaf Bang, maaf...Nada gak bermaksud," ucap Nada setelah menghentikan tawanya.


" Ini mama Asyila, mamanya Bang Arka, Abang kenal Bang Arka kan?," ucap Nada dan diangguki oleh Aryan.


" Nah beliau inilah mama kandungnya Bang Arka,mama itu mama asuhnya Bang Arka dan Mama Syila juga istrinya dokter Abang, Dokter Irfan," jelas Nada menjelaskan dan diangguki paham oleh Aryan,sejenak Aryan kembali nampak berpikir.


" Lah...bukannya Dokter Irfan papanya Karin ya?," tanya Aryan menatapi keduanya.

__ADS_1


" Iya benar, Karin itu anak kedua tante," jawab Asyila dan segera dipahami Aryan dengan anggukan.


" Hem, jadi karena itulah makanya, Nada dan Karin itu sepupu," ucap Nada lagi menjelaskan.


" Iya, iya, Abang ngerti," jawab Aryan paham.


" Ngomong ngomong kamu lagi hamil Nad?," tanya Asyila dan diangguki oleh Nada.


" Masyaallah...selamat ya nak, gak ribet tapi kan?, biasanya anak pertama banyak maunya loh...pengalaman mama sih," ucap Asyila kemudian tertawa.


" Alhamdulillah gak kok ma, gak banyak mau Alhamdulillah, ngidamnya juga gak sering- sering amat," jawab Nada.


" Syukurlah, sehat sehat ya nak," ucap Asyila seraya mengelus perut Nada.


" Mama udah lama pindahan kesini?," tanya Nada sembari menatapi ruangan itu.


" Belum,baru 2 bulan ini, Karin yang minta pindah sini, katanya gak suka dirumah lama, terlalu ramai katanya," ucap Asyila seraya mengambilkan beberapa kue untuk menjamu tamunya." Makasih ya bik...," lanjut Asyila pada pembantunya.


" Hem, beruntung Karin punya mama yang baik seperti mama Syila," ucap Nada terlihat sendu dan segera mama Asyila meraih dagu Nada agar menatapnya.


" Jangan bilang gitu, mama kamu juga sayang bangat sama kamu,Ayra, kalian sama, mama kamu dan papa kamu sudah menjadi orangtua yang sangat baik, lihat Arka tumbuh bersama mereka,padahal Arja bukan siapa siapa bahkan Arka lebih sayang sama papa mama kamu dibanding papanya sendiri," ucap Asyila kemudian tersenyum.


" Persahabatan kalian yang membuat mama, papa begitu ma, tapi...hem entah, Nadanya aja kali yang kurang bersyukur," ucap Nada sendu menunduk kan pandangannya.


" Arka banyak cerita soal kamu,jadi mana tahu semuanya, papa kamu bukan gak sayang sama kamu Nada...justru karena sayangnya itu yang membuat papa kamu itu posesif sama kamu,"


" Tapi nyiksa bangat ma,hah...astaqfirulloh...udahlah ma, gak usah dibahas lagi." ucap Nada sembari mengusap dadanya sendiri yang terasa sesak.


" Makanya Karin cemburu sama kamu,papa kamu sangking sayangnya suka posesif sama kamu, Karin gak mendapatkan itu, malah dia sering berantem sama papanya,jujur saja, Ayra juga cemburu sama kamu tapi dia pendam dalam diamnya,nak,kamu itu banyak yang sayang, hanya saja kamu salah mengartikan rasa sayang yang mereka beri, andai...,"


" Udahlah ma," potong Nada yang kini sudah menangis, Asyila pun tersenyum dan menyeka air mata Nada.


" Mama tahu, kamu masih kesal sama papa kamu kan?, temui papa kamu ya, sebelum nantinya kamu menyesal, mama cuma mengingatkan, apalagi kamu lagi hamil sekarang, doa orang tua itu perlu sayang," ucap Asyila kemudian memeluk Nada.


" Kenapa kamu gak pernah cerita apapun keaku Nad?," tanya Aryan membathin.


" Mikum...mama...," ucap Karin sembari menghampiri mereka bertiga keruang tamu." Oh Nada," lirihnya kemudian menyalim tangan mamanya.


'" Walaikumsalam, papa kamu mana?," tanya Mama Asyila.


" Gak tahu, masih di rumah sakit kayaknya," ketus Karin sembari berlenggang dari sana.


" Karin, kesini dulu lah, kan ada sepupu kamu," ucap Asyila memanggil putrinya.


Karin sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya kemudian ia menjitak kepalanya sendiri.


" Bego, kok gak sadar sih, itu kan mobilnya Aryan." kesal Karin lirih menyesali dirinya harus bertemu dengan Nada dan Aryan tadi.


" Tuh,lihat sendiri kelakuan Karin,"


" Hem,wajar kali ma,Karin lagi kesal sama Nada, ya udah Nada pulang dulu ya ma," ucap Nada kemudian sembari berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Aryan.


" Mangganya tadi gimana?," tanya Asyila kemudian dan membuat Nada tertawa.


" Hampir lupa ma," ucap Nada. Mereka pun akhirnya, pergi kedepan rumah, Asyila menyuruh pak satpam untuk mengambilkan beberapa buah mangga muda untuk Nada.Nada tersenyum senang begitu ia mendapatkan buah asam itu, kemudian tak lupa mereka pun segera pamit pada mama Asyila.


" Aku gak pernah tahu, kenapa kamu malas kerumah papa Ilham, ternyata karena kamu merasa ....,"


" Udahlah Bang, gak usah dibahas, ngilangin mood soalnya," ucap Nada sembari meraih tangan Aryan dan ia pun bersandar di bahu suaminya itu.


" Sayang....yang diucapkan tante tadi benar,lagian kamu gak merasa aneh apa, kamu bisa dekat sama papa, mama yang mereka itu mertua bukan orangtua kandung kamu, sedangkan papa dan mama kandung kamu abaikan." ucap Aryan pelan sembari mengelus pucuk kepala istrinya itu dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya masih mengemudikan mobilnya.


" Gak bermaksud mengabaikan Bang, cuma Nada belum bisa berdamai dengan keadaan," lirih Nada kemudian ia pun tersenyum. Setelah nya, hening tanpa ada lagi yang berbicara.


Sampai dirumah,Nada segera mengupas mangga muda itu dengan tak sabaran,Aryan yang melihat itu segera mengambil dan menjauhkan buah itu dari tangan Nada yang membuat Nada menatapnya tajam.


" Makan nasi dulu dek,ingat loh, buah tu asem bangat bikin asam lambung," ucap Aryan mengingatkan, Kemudian ia pun duduk didepan sang istri dan bermaksud menyuapi istrinya itu.


" Aa..," suruhnya yang segera diikuti oleh Nada.Aryan pun segera menyuapkan nasi beserta lauknya pada Nada.


" Udah, udah...," tolak Nada saat Aryan kembali ingin menyuapinya.


" Loh gitu?, baru sikit loh dek,harus sebanding dengan mangga mudanya." ucap Aryan membujuk Nada agar makan lagi.


" Gak ada," ketus Nada kesal seraya berdiri dari duduknya dan meraih mangga mudanya dan segera mencucinya di kran.


Muka Aryan terlihat masam melihat Nada begitu lahapnya makan mangga muda tersebut." Enak?," tanya Aryan kemudian sembari duduk disamping istrinya itu.


" Mau?," ucap Nada balik bertanya seraya menyodorkan mangga mudanya yang sudah ia potong potong kecil beserta cocolan sambelnya, otomatis Aryan menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


" Enak loh Bang, serius gak mau?," ucap Nada masih memakan mangga mudanya dan lagi lagi Aryan menggeleng dengan cepat, kemudian ia tersenyum seraya mengelus pipi istrinya.


" Yakin gak mau?," tanya Nada kembali yang membuat Aryan penasaran akan rasanya, alhasil ia mencicipi buah asam itu sedikit.Nada tergelak tawa melihat wajah Aryan menahan rasa masamnya buah mangga yang ia makan agar tak ia lepehkan.


" Dasar Nada, enak darimana?," kesal Aryan kemudian setelah ia menelan buah asam itu.


" Namanya juga orang hamil Bang, mana kerasa asamnya," ucap Nada tertawa lagi seolah dia memang sengaja mengerjai Aryan yang akhirnya membuat Aryan mencubit pipinya gemas.


" Bang, Nada boleh minta tolong?, malas diri soalnya," ucap Nada masih memakan mangga mudanya.


" Minta tolong apa?," tanya Aryan.


" Ambilin Nada minum...," ucap Nada sembari tersenyum, Aryan pun menganganggukinya dan segera berdiri, pada saat itu juga darah keluar dari hidungnya dan kepalanya juga tiba tiba terasa berdenyut.


" Bang, darah...," ucap Nada panik seketika sembari berdiri, menghentikan acara makan mangganya dan segera menyuruh Aryan duduk kembali.


" Nada, jangan panik, ini gak papa," jawab Aryan segera mengelap hidungnya dengan punggung tangannya, Nada segera mengambil tisu dan membantu Aryan mengelapnya.


" Kamu gak papa Bang?," tanya Nada lagi masih dengan kepanikannya, ia juga segera mengambil ponselnya berniat ingin menelpon Irsyan tapi Aryan segera menghentikannya.


" Nada, aku gak papa oke, itu cuma darah, udah biasa, gak papa...," ucap Aryan lembut kemudian tersenyum.


" Tapi Bang...,"


" Gak papa Nada,Abang cuma butuh istirahat saja," ucap Aryan kemudian diangguki oleh Nada. Nada pun memapah Aryan menaiki anak tangga menuju kamar mereka, setiba dikamar Aryan pun berbaring di ranjangnya.


Sementara Karin di tempat lain, ia sedang memikirkan cara agar ia bisa membalaskan kemarahannya pada Aryan dan Nada.


"Pak, saya ingin Anda melenyapkan Nada," ucap Karin kemudian saat ia sudah menemukan caranya, ia pun menelpon seseorang dan menyuruh demikian.


****


Malam hari nya, setelah makan malam, Nada dan Aryan kembali kekamar untyk segera istirahat.


Nada berniat ingin mengganti pakaiannya dengan piyama tapi Aryan segera memeluknya dari belakang saat ia masih dikamar mandi dalam keadaan pakaian kurang bahan.


" Gini aja, gak usah pakai piyama lagi," ucap Aryan seraya menopang dagunya di bahu sang istri dan menatapnya dari pantulan cermin.


" Hem, Nada udah biasa Bang, malu rasanya kalau cuma pake baju ginian, terlalu terbuka," jawab Nada seadanya seraya melepaskan ikatan rambut nya.


" Malu sama siapa?,kan cuma Abang yang disini, cuma Abang yang lihat," ucap Aryan masih bergelayut manja di bahu sang istri.


" Iya deh, iya," ucap Nada sembari membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya, " Tapi janji jangan macam- macam ya," peringat Nada dan diangguki oleh Aryan. Nada pun melepaskan tangan Aryan darinya dan segera masuk kedalam kamarnya yang diikuti oleh Aryan dengan senyuman senang.


" Kenapa selimutan gitu sih dek?," tanya Aryan mendapati Nada menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


" Malu Bang, Nada gak biasa," jawab Nada seadanya. Aryan segera mengungkung istrinya itu dan mencium kening Nada.


" Jangan aneh- aneh deh Bang," ucap Nada kemudian sembari mendorong tubuh Aryan darinya.


" Nolak suami dosa loh dek," ucap Aryan yang membuat Nada terdiam, Aryan tahu bangat kata itu adalah alat paling ampuh agar Nada tak menghindarinya.Meski sebenarnya, ia ingin ketawa melihat wajah Nada yang mematung itu, ia sembunyikan dalam dalam dan seolah sedang serius seserius seriusnya, dan terakhir ia menciumi wajah istrinya dari kening sampai bibir.


Gubrakkkk


Mereka saling bertatapan saat sesuatu terjatuh di bawah sana," Bang, hati- hati, takutnya maling," ucap Nada saat Aryan akan segera pergi turun kebawah melihat kejadian yang sebenarnya terjadi.


Aryan membuka pintu dan dengan hati- hati mencari cari kemungkinan ada orang disekitaran rumahnya.Namun ia tidak menemukan apapun terkecuali hanya jendela saja yang pecah.Aryan mengernyit bingung darimana asal batu yang sudah membuat jendela itu pecah.


Brakkh


Aryan segera kebelakang rumahnya, mencari asal bunyi suara tersebut, lagi ia hanya menemukan pot bunga jatuh yang sudah berserakan tanpa ada orang yang ia temukan." Siapa sih,yang kurang kerjaan nih," ucap Aryan seraya memperhatikan pot bunga yang berserakan itu.


Sementara Nada.


" Bang!," panggil Nada sebelum akhirnya seseorang menutup mulutnya, orang itu juga segera menyuntikkan sesuatu pada Nada yang membuat Nada seketika tak sadarkan diri.


Dengan semua kejanggalan itu, Aryan baru teringat dengan Nada," Nada...," lirihnya dan segera berlari menuju pintu depan namun seseorang yang entah darimana datangnya segera menendang kakinya yang seketika membuatnya terjungkal," Kamu siapa?," tanya Aryan pada orang yang memakai hodie gmhitam tersebut, bahkan ia juga memakai masker hitam menutupi wajahnya.


Aryan segera berdiri dan memberi bogeman mentah pada orang itu sehingga terjadi baku hantam disana cukup lama.


Irsyan yang baru pulang dari rumah sakit, tiba- tiba ingin berkunjung kerumah abangnya Aryan, mengingat keadaan Aryan yang sedang tak sehat sehat saja, apalagi Aryan tak kunjung menemuinya setelah 2 hari terakhir membuatnya bertambah khawatir.


" Maafin aku Nada,tapi kamu harus mati!," ucap Karin sembari menutup wajah Nada dengan bantal kemudian ia menekan bantal itu dalam dalam.


Sedangkan Aryan kini berhasil lolos dari orang jahat itu dan ia segera masuk kedalam rumahnya dan berteriak memanggil Nada, namun orang jahat itu kembali mengikutinya dan segera menancapkan pisau tajam di perut Aryan, seketika darah mengucur keluar dari perut Aryan yang membuat Aryan lemas tak berdaya.Orang jahat itupun segera meninggalkan Aryan disana.


" Mbak, Aryan sudah tertusuk,ayo segeea pergi dari sini." ucap orang jahat itu pada Karin menghentikan pergerakan Karin.


" Bodoh, aku bilang jangan melukai Aryan tapi kamu...," ucap Karin kesal seraya melepaskan tangannya dari Nada.

__ADS_1


" Ayo pergi Mbak...," ucap orang itu dan segera membawa Karin dari arah balkon.Pada saat yang sama Irsyan memarkirkan mobilnya didepan rumah Aryan.Mereka yang mendengar itu dengan cepat pergi dari sana, apalagi rumah itu tanpa pagar memudahkan Karin dan temannya untuk kabur.


Bersambung


__ADS_2