HIJRAH KU

HIJRAH KU
Bab.34 Hijrahku.


__ADS_3

...🕊Happy Reading🕊...


Aryan melepas cadar sang istri setelah mereka baru saja kembali ke rumah dan saat ini mereka tengah berada di atas ranjang.


" Istriku memang cantik,baik, kurang apa lagi coba, Nada- ku bisa melakukan semua hal untukku termasuk menyenangkan hati ini." ucap Aryan memuji- muji kecantikan Nada untuk menggoda sang istri.


" Hem, kemaren aja bilangnya Nada mur4han, sedang ada mau baru bilang Nada cantiklah, baiklah," rungut Nada kesal seraya berdiri dari duduknya dan pergi kearah cermin meja riasnya.


" Itu kan buat manas- manasi kamu doang, biar kamu benci sama aku," ucap Aryan seraya menghampiri Nada, ia pun menaruh kedua tangannya di kedua pundak Nada dan menatapi wajah Nada dari pantulan cermin.


" Jadi sekarang kita baikan nih ceritanya?," tanya Nada sembari membersihkan sisa make up dari wajahnya.


" Ya, begitulah kira- kira," jawab Aryan seadanya.


" Sayang, selama kamu hamil, aku belum pernah bicara langsung sama anak kita," ucap Aryan, yang tentu sudah bisa ditebak oleh Nada arah tujuan dari ucapan suaminya itu.


" Nanti ya Bang, Nada mau mandi dulu," ucap Nada segera pergi ke kamar mandi yang diikuti oleh Aryan.Nada segera menutup pintu kamar mandi itu sebelum Aryan ikut masuk kedalam.


Platak


" Sadis...," ucap Aryan terkejut saat pintu itu tertutup sempurna di hadapannya.


" Awas aja Nad,gak ku kasih ampun setelah ini!," ucap Aryan tersenyum jahat.


****


Sementara di sebuah kamar lainnya, " Bang,Abang kan dokter, harusnya tahu dong gimana caranya agar kita bisa cepat punya anak?," tanya Ayra pada saat mereka baru selesai dengan olahraga malam.


Irsyan mendelik menoleh pada istrinya itu, " Abang bukan dokter Obgin dek sayang...," ucap Irsyan sembari mencubit hidung istrinya pelan.


" Kalau di pikir pikir kan Bang, aneh ya laki laki yang berprofesi sebagai Dokter Obgin?, terus apa gak n4fsu dia tiap hari lihat gituan?," tanya Ayra dengan polosnya.


" Astaqfirulloh..., pikirannya kok jauh bangat kesana, yang penting itu cuma usaha dan doa dek, kalau kamu sholat tambahkan doa agar kita segera diberi anak dan usahanya, kita usahakan tiap malam," ucap Irsyan kemudian tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


***


Ting tong


" Huh, ini kemana orangnya sih, aku sudah capek loh...," ucap Ayra kesal saat penghuni rumah tak kunjung membukakan pintu untuknya dan Irsyan.


" Sabarlah dek, maklumi aja, mereka kan baru baikan." ucap Irsyan tanpa dosa.


" Hah?, apa hubungannya?," tanya Ayra belum faham maksud dari suaminya itu.


" Hem, si Dedek pura- pura lugu," jawab Irsyan semakin membuat Ayra bingung.


" Ih seriusan sih Bang, apaan?," tanya Ayra lagi mulai manyun karena kesal mamun kini Irsyan hanya tertawa saja.


" Assalamualaikum...," ucap Ayra kemudian memencet bel rumah lagi.


" Iya, sebentar, jawab Nada kemudian.

__ADS_1


" Cepatan Nad, lama bangat,"


" Eh kamu Ay, sama Irsyan?," tanya Nada dari dalam rumah.


" Iya," singkat Ayra.


" oh gitu, bentar ya," jawab Nada lagi yang membuat Ayra dan Irsyan menunggu lagi.Tak lama setelahnya, Nada pun membukakan pintu untuk mereka.


" Jadi Nad, aku datang untuk memulai bisnis sama kamu," ucap Ayra saat mereka sudah duduķ di sofa.


" Jadi gimana, kita mulai dari mana dulu?," jawab Nada.


" Eh, kalian ternyata, kirain siapa tadi," ucap Aryan seraya menghampiri,menuruni anak tangga.


" Gimana kalau kamu langsung turun ke lapangan saja Nad, biar jelas kita kurangnya apa lagi gitu, daripada kek gini terus, aku juga sudah capek bolak-balik rumah kamu dan resto, kalau kamu langsung kesana kan aku gak perlu buat laporan lagi," ucap Ayra panjang lebar saat Nada masih pokus membaca daftar menu makanan yang dibuat oleh Ayra.


" Aku gak mungkin bisa lah langsung kesana, kan tahu sendiri Bang Aryan lgi sakit," jawab Nada seadanya.


" Daftar minumannya tambahkan teh tawar, soalnya belum ketulis itu ku lihat," lanjut Nada sembari memberikan secarik kertas pada Ayra.


Ayra nampak menghela nafasnya malas, lalu kemudian menyuruh Nada mencicipi kue yang sudah ia buatkan sebelumnya." Kue ini coba dulu, udah bisa belum jadi makanan penutup?," ucap Ayra sembari membuka kotak yang berisi kue tersebut.


" Nanti ajalah, kan ada Irsyan, ntar pas aku lagi buka cadar eh dia malah datang," ucap Nada masih pokus membuat daftar menu makanan untuk di restoran mereka nanti.


" Ya Allah Nada...kamu tuh ya, gak ada larangan untuk kamu membuka cadar di depan Bang Irsyan, kenapa?, karena Bang Irsyan itu ipar kamu, jadi gini ya Nad...cadar itu untuk menutupi wajah dari lelaki ajnabi,dan hukumnya sah- sah saja jika kamu buka cadar didepan ipar kamu." ucap Ayra menjelaskan panjang lebar.


" Apa iya begitu?,Setahuku hukumnya haram membuka cadar di depan ipar, karena ipar itu bukan muhrim kita,salah betulnya saya kurang tahu" ucap Nada menjelaskan masih dengan kepokusannya membuat daftar menu makanan.


" Begitukah?, berarti akunya yang awam tentang ini." lanjut Ayra kemudian duduk disamping Nada,tak lama Aryan datang menghampiri keduanya.


" Ini Bang, saya lagi belajar tentang cadar,"ucap Ayra membuat Aryan mengkerut kan keningnya.


" Maksudnya gimana ini?," tanya Aryan menyimak penuh pertanyaan sembari duduk disamping Nada.


" Beberapa ulama mengatakan cadar itu wajib, namun ada juga yang mengatakan sunnah dan aku lebih ikut ke ulama yang mengatakan wajib,karena ada beberapa hadist dan ayat kalau para istri nabi itu bercadar," ucap Nada tersenyum memandangi Ayra.


" Kalau kamu sudah tahu seperti ini, kenapa kamu gak bercadar aja Ay?,"lanjut Nada bertanya pada saudaranya itu.


" Aku takut menjadi mudhorat nantinya, bercadar itu harus penuh keyakinan dari hati Nad, takutnya nanti aku gak bisa istiqomah," jawab Ayra sembari duduk kembali di kursinya dan menekuk wajahnya.


" Tapi ada niat?, kalau menurut aku lebih baik laksanakan saja, nanti sikapnya akan ikut mengimbangi kok," ucap Nada sembari meraih tangan sang adik.


" Gak semudah itu Nada, kalau aku bercadar yang ada nanti aku malah mempermalukan agama ku kalau sempat aku gak bisa istiqomah." jawab Ayra, lantas hal itu berhasil membuat Nada tersindir.


" Dek, pulang yuk...," ucap Irsyan sembari menghampiri ketiganya di ruang makan.


" Ayok, pulang kata suami ayok, Ay mah iya- iyain aja selama kejalan yang baik," ucap Ayra segera merangkul lengan sang suami.Irsyan justru tertawa dibuatnya.


" Hehe lebay...," ucap Irsyan sembari mengusek pucuk kepala sang istri yang terbalut hijab.


" Oh ya Bang, sebelum aku pulang gak mau diperiksa dulu sebentar?," tanya Irsyan menatap sang abang.

__ADS_1


" Nah iya, benar tuh, biar kita tahu kondisi Bang Ar sekarang." timpal Ayra, akhirnya Aryan pun kekamarnya yang diikuti oleh Irsyan dan Nada dibelakang.


Aryan segera melepaskan kausnya dan Nada menutup pintu kamar itu pelan.


" Abang masih sering sakit dibagian ini?," tanya Irsyan sembari menekan bagin dada Aryan.


" Masih, pokoknya kalau aku sakit kepala, bagian dada dan jntung juga ikut sakit." ucap Aryan terlihat meringis saat Irsyan menekan bagian perut atas Aryan.


" Disini sakit juga Bang?," tanya Irsyan kini menatap sang abang, tapi hanya mendapatkan anggukan saja dari Aryan.


" Jadi, sakit aku sebenarnya itu sakit apa Ir, bukannya kalau kanker otak harusnya sakit di kepala saja ya?," tanya Aryan seraya duduk bersandar di ranjangnya menatapi Irsyan adiknya.


Irsyan tersenyum, " Gak usah di pikirkan ya Bang, Bang akan baik baik saja kok, inshaAllah...kita berdoa saja," ucap Irsyan kemudian memeluk Aryan sekilas.


" Aku pulang ya Bang, kalau ada apa apa segera hubungi aku!," ucap Irsyan pamit setelah melepaskan pelukannya.


***


" Aneh.Irsyan, dia gak mau bilang Abang sakit apa aja kan,gimana bisa tenang kek gini?," rungut Aryan kesal setelah Irsyan berlalu.


" Bang, kata Irsyan kan Abang gak boleh mikir macam- macam, inshaallah Bang, atas ijin Allah Abang akan sembuh kok," ucap Nada memberi semangat pada suaminya itu.


" Kalau Allah gak ijin gimana?," tanya Aryan yang segera dapat tatapan tajam dari sang istri.


" Kalau Allah gak ijin, berarti kita harus belajar ikhlas Bang, Bang kita sama - sama berdoa ya,semoga Abang sembuh dan bisa kembali seperti biasanya." jawab Nada lagi menyemangati, Aryan nampak berpikir lalu kemudian ia menghela nafasnya pasrah.


****


Tiga hari setelahnya, Aryan kembali dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang memburuk.Nada terus menggemgam tangan suaminya itu dan berdoa dalam hati," Ya allah...pemilik kesehatan dan pemilik segalanya, Engkau yang maha- Besar ya Robb, tolong sembuhkanlah suami hamba ya allah...," lirih pilu Nada membathin, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


" Mbak Nada,Dokter Irfan ingin bicara dengan Anda," ucap salah satu perawat yang bertugas di hari ini.Nada pun segera mengiyakannya dan pergi mengikuti perawat tersebut ke ruangan Dokter Irfan.


" Oke sip," ucap Karin memberi isyarat dengan jempolnya saat ia sudah berpisah dengan Dokter Aldy temannya. Jemudian ia pun berjalan di koridor panjang ini bermaksud ingin segera menemui sang ayah yang juga dokter disini, tetapi...tiba tiba saja atensinya beralih ke wajah pucat Aryan saat ia baru saja melewati ruangan rawat Aryan.


Keningnya mengkerut tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat sehingga, akhirnya ia pun masuk ke dalam ruangan itu dan memastikan jika itu memang benar Aryan." Aryan?, kamu sakit apa?," tanya Karin lirih seraya membelai pipi Aryan.


Karin segera berlalu dari sana, ketika ia mendengar suara yang tak lain adalah Nada dan Ayra juga Irsyan hendak ke ruangan rawat Aryan.


Akhirnya, Karin pun pergi menemui sang ayah." Pa, papa kenal pasien nomor dua yang dirawat di ruangan Anggrek?," tanya Karin sembari duduk di kursi depan ayahnya yang di skat oleh meja.


" Iya kenal, dia pasien papa, kenapa?, kamu kenal dia?," ucap sang ayah balik bertanya.


" Ya kenal lah pa, dia kan teman Karin dulu, dia sakit apa ya pa?," tanya Karin lagi antusias.


" Aryan mengalami kanker otak, dan kasihan sekali, dia juga Gard," ucap Dokter Irfan yang membuat Karin menganga tak percaya.


" Kasihan Aryan pa...," lirihnya kemudian menutup mulutnya dengan tangannya.


" Kita bisa berbuat apa, hanya doa yang bisa kita panjatkan," ucap Dokter Irfan kemudian." Hem, gimana hari ini?, pasien kamu banyak?," lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


" Oh itu, lumayan seperti biasa," jawsb Karin seadanya.

__ADS_1


" Makan siang bareng?," tanya Dokter Irfan pada putrinya itu, Karin tersenyum dan segera mengangguk setuju.


Bersambung...


__ADS_2