
Tok.
Tok.
" Barram!? Buka pintu nya! Kamu tidak bisa mengusir ku dari dalam kamar kamu. Bahkan sebelum ini kita sudah melakukan nya bukan? Apakah kamu marah padaku, Barram? Apakah kamu tidak kangen aku?" ucap Jeje dengan suara keras. Jeje terus menerus menggedor pintu kamar Barram sampai lama. Hingga Odjie ditugaskan Barram untuk kembali mengusir Jeje dari rumahnya.
"Astaghfirullah!? Aku ingin bertaubat, Tuhan! Lindungi aku dari godaan ini," gumam Barram dengan mata terpejam.
Di depan kamar Barram, Jeje berteriak-teriak memanggil Barram. Odjie berusaha mengusir Jeje, namun Jeje tetap bersikeras ingin kembali masuk ke dalam kamar Barram.
"Mari non Jeje! Lebih baik sementara waktu ini, non Jeje menurut saja. Tuan muda Barram seperti nya sedang tidak menginginkan ditemani non Jeje. Mungkin saja mas Barram lagi sedang tidak mau diganggu," ucap Odjie berusaha membujuk Jeje.
Sementara itu di dalam kamarnya, Barram menjatuhkan tubuh nya di atas peraduan. Kini Barram mulai mengambil handphone nya dan mencoba mencari kontak seseorang di sana. Satu nama yang kini mulai mengganggu pikiran Barram. Dia adalah Arshinta.
"Halo, sudah tidur yah?" tanya Barram setelah dia berhasil menghubungi Arshinta melalui handphone nya. Ternyata Arshinta saat ini belum tidur seperti dirinya.
__ADS_1
"Ini mau tidur, kak!? Kakak sendiri sedang apa?" sahut Arshinta.
"Aku? Em sedang nelpon kamu!" jawab Barram.
"Hehehe, aku tahu itu kak! Maksudnya kak Barram kenapa juga belum tidur? Masih ada kerjaan?" tanya Arshinta.
"Tidak ada! Kamu tahu dengan jelas kalau aku sangat jarang membawa kerjaan di rumah. Kecuali sangat penting banget. Di rumah waktu nya untuk menikmati hidup dan beristirahat. Apalagi kalau nanti sudah punya pasangan atau istri, saat di rumah semua waktu untuk istri. Kalaupun sudah ada anak-anak, bermain dengan anak-anak," ucap Barram dengan terkekeh.
"Benar! Seharusnya seperti itu! Btw, kakak Barram mau menikah dengan siapa nih? Sepertinya roman-roman nya kak Barram sudah kebelet ingin cepat-cepat menikah," sahut Arshinta.
"Eh??" Arshinta terdiam setelah mendengar ucapan dari Barram. Di seberang sana Arshinta tersenyum geli saat Barram mengatakan hal itu.
"Arshinta!? Kamu masih di sana kan? Belum tidur kan?" panggil Barram.
"Eh? Iya kak!?" sahut Arshinta.
__ADS_1
Tiba-tiba suara gaduh dan teriakan Jeje kembali terdengar. Bahkan Arshinta pun yang di seberang sana mendengar teriakan Jeje disertai suara pintu yang di ketuk dengan cukup keras.
Tok.
Tok.
"Barram! Buka pintu nya dong! Aku janji tidak mengganggu kamu kok! Aku akan menjadi wanita baik dan penurut. Barram!! Buka pintu nya!" teriak Jeje. Suara keras Jeje terdengar oleh Arshinta.
"Kakak, sepertinya ada yang sedang mencari kakak tuh! Siapa kak?" tanya Arshinta.
"Itu itu Jeje, Arshinta! Sejak tadi dia gangguin aku saja! Jadi aku tutup saja pintu nya," jawab Barram dengan jujur.
"Jeje? Siapa Jeje, kak?" tanya Arshinta.
"Jeje? Ah tidak penting! Lebih baik kita ngobrol yang lain saja, tidak usah membahas dia lagi!" sahut Barram. Arshinta di seberang sana mengerutkan dahinya dan masih memikirkan siapa itu Jeje yang dianggap mengganggu Barram.
__ADS_1
"Besok pagi, aku akan memastikan nya, siapa itu Jeje yang dimaksudkan oleh Barram," batin Arshinta yang masih menyimak Barram yang sedang berbicara dengan dirinya.