HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 18


__ADS_3

"Kak Barram akan menikah dengan mbak Jeje," ucap Arshinta pada kakaknya Boy.


"Subhanallah! Jeje yang sering bersama dengan tuan muda Barram? Syukur lah kalau mereka akan menikah. Setidaknya mereka akan dihalalkan dalam sebuah pernikahan. Tuan muda Barram kan selama ini dikenal suka bergonta-ganti pasangan. Mungkin dengan Jeje, tuan muda Barram sudah merasakan cocok," ucap Boy.


Arshinta terlihat murung dan sedih. Dia seperti sangat kehilangan kalau Barram hendak menikah dengan Jeje.


"Sebenarnya mereka menikah karena mbak Jeje telah hamil duluan, kak! Dan kak Barram lah yang telah menghamili mbak Jeje," kata Arshinta. Boy terlihat tidak terkejut saat mendengar cerita dari Arshinta bahwasanya rencana pernikahan Barram dengan Jeje lantaran Jeje telah berbadan dua.


"Seharusnya memang tuan muda Barram bertanggung jawab bukan? Karena tuan muda Barram telah berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab," sahut Boy.

__ADS_1


"Tapi, kak? Ah kak Boy ini tidak paham dengan apa yang sedang aku rasakan," kata Arshinta. Boy mengerutkan dahinya. Lalu berusaha mengamati apa yang sedang adiknya rasakan.


"Jangan bilang kalau kamu sebenarnya telah menyukai tuan muda Barram, dik!" ucap Boy. Arshinta mulai terlihat berkaca-kaca matanya.


"Kak Boy!" gumam Arshinta. Tanpa bisa menahan nya, butiran air matanya jatuh juga. Arshinta menangis tersedu-sedu. Sedangkan Boy hanya bisa mengusap punggung adiknya itu supaya bisa bersabar.


"Sabar, dik! Mungkin saja, tuan muda bukan jodoh kamu. Mungkin suatu saat nanti, Alloh akan mengirimkan jodoh yang terbaik buat kamu, dik!" kata Boy. Arshinta semakin berguncang pundaknya. Sedih karena hatinya seperti dipatahkan. Apalagi sebelum Jeje datang ke kantor kerja Barram, Arshinta sempat mendapatkan buket mawar dari Barram. Di dalam buket mawar itu tentu saja ada kata dan kalimat yang manis untuk dirinya.


"Kak Boy jangan bilang-bilang dan cerita dengan bapak dan ibu soal ini yah!" sahut Arshinta.

__ADS_1


"Iya, kakak janji! Tapi kamu juga harus janji, bisa sabar dan ikhlas jika tuan muda Barram akan menikah dengan Jeje," ucap Boy.


"InsyaAllah, kak! Aku insyaallah akan ikhlas. Semuanya harus dipertanggungjawabkan oleh kak Barram. Kak Barram harus tetap menikahi mbak Jeje. Walaupun aku harus merasakan sedih dan patah hati," kata Arshinta.


"Jangan khawatir, dik! Stok pria tampan, baik, bertanggung jawab, mapan, serta yang paling terpenting adalah punya keimanan banyak di dunia ini. Nanti kakak akan memperkenalkan kamu pada teman-teman kakak yang lebih dari segala-galanya dari tuan muda Barram," ucap Boy dengan tersenyum.


"Enggak mau! Mungkin saja banyak pria tampan, baik, bertanggung jawab, mapan, serta keimanan yang kuat. Namun bagiku kak Barram masih yang terbaik. Dan rasa suka ini tidak bisa diatur," sahut Arshinta. Boy terkekeh mendengar pernyataan dari adiknya itu.


"Hahaha cinta ternyata bisa membuat adikku tiba-tiba menjadi buta. Kamu tahu dengan pasti kan, dik? Tuan muda Barram itu masa lalu nya seperti apa? Kok kamu tiba-tiba jadi tidak mempertimbangkan soal itu. Bahkan beberapa gadis-gadis telah disinggahi oleh tuan muda Barram!" kata Boy.

__ADS_1


"Aku tidak perduli masa lalu kak Barram! Yang aku tahu, kak Barram ingin berhijrah ke jalan Alloh. Kak Barram mau belajar agama. Dia ingin baik, kak!" sahut Arshinta membela Barram.


"Ya, ya, ya! Ya sudah, aku gak mau ribut! Ayo kita bergabung dengan bapak ibu. Sebentar lagi akan beduk magrib. Kita harus berbuka," ucap Boy akhirnya.


__ADS_2