
🍁🍁🍁🍁🍁
Saat sore hari selepas pulang dari kantor, Barram langsung ke rumah Arshinta sekalian pulang bersama dengan Arshinta.
"Nah, cukup belajar mengaji sore hari ini kak. Kita harus bersiap-siap karena sebentar lagi masuk waktu untuk berbuka. Jangan lupa, kita ambil wudhu kembali supaya kembali suci saat berbuka puasa. Niatkan semua nya untuk beribadah," ucap Arshinta. Barram tanpa protes mengikuti semua yang dikatakan oleh Arshinta.
"Kalau belum kentut tidak apa-apa kan tidak ambil wudhu lagi?" sahut Barram. Arshinta tersenyum lebar.
"Tentu saja, kak!?" sahut Arshinta menunjukkan senyuman nya yang manis.
"Kalau begitu, aku akan kentut terlebih dahulu supaya bisa kembali mengambil air wudhu," ucap Barram tanpa dosa.
Arshinta yang mendengar ucapan konyol dari Barram spontan saja tertawa terbahak-bahak. Tawa Arshinta menular hingga Barram ikutan tertawa. Sampai beberapa lama keduanya sama-sama saling tertawa hingga keduanya terdiam. Netra mereka saling berpandangan.
__ADS_1
"Manis sekali," gumam Barram pelan. Namun cukup di dengar oleh Arshinta. Arshinta mengerutkan dahinya menatap lekat Barram.
"Apanya yang manis, kak?" tanya Arshinta.
"Eh, tidak tidak!?" sahut Barram sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba saja Boy tiba dengan membawa sesuatu makanan di tangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Boy saat sudah masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Barram dan Arshinta secara bersamaan. Barram dan Arshinta sama-sama beralih pandang ke arah Boy yang baru saja datang.
"Sudah, kak!?" jawab Arshinta.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap berbuka. Tinggal satu menit lagi tuh," kata Boy.
__ADS_1
Tiba-tiba ibu dan bapak Boy dan Arshinta telah memanggil Boy dan Arshinta supaya duduk di ruang makan bersama. Demikian juga Barram ikut serta berbuka puasa di satu meja dengan keluarga Arshinta dan Boy tersebut tanpa rasa canggung dan sungkan.
"Ayo, tuan muda Barram. Silakan dinikmati hidangan di meja. Maaf, tuan muda Barram, kalau kami kurang bisa memberikan hidangan yang tidak sesuai selera dari tuan muda Barram," ucap bapak dari Boy dan Arshinta.
"Saya sangat senang sekali bisa diterima dikeluaga ini untuk belajar beragama. Maaf jika saya sudah merepotkan keluarga disini," sahut Barram.
"Eh, tidak tuan muda Barram! Kami sangat senang kok kalau tuan muda Barram senang belajar beragama di sini," kata ibu dari Boy dan Arshinta.
"Kalau boleh saya minta, bapak ibu jangan lagi memanggil saya dengan embel-embel tuan muda dong. Anggap saja saya juga seperti Boy dan Arshinta, putra putri bapak ibu. Apalagi saya di sini belajar mengaji dengan Arshinta dan ditambah makan gratis disini. Apa tidak kurang ajar jika saya meminta lebih dari keramahan dan sikap kekeluargaan dari keluarga ini," ucap Barram panjang lebar.
"Jangan begitu, bos!? Bagaimana pun kami harus tetap menghormati bos," sahut Boy.
"Baiklah, kalau begitu! Kita akan menganggap nak Barram seperti anak kami sendiri," ucap bapak dari Boy dan Arshinta.
__ADS_1
Semua kini telah membatalkan puasa mereka dengan minuman dan makanan yang manis-manis. Setelah itu mereka melakukan sholat maghrib berjamaah terlebih dahulu sebelum berlanjut ke makan besar.
Bapak Dedy dan bu Renata merasa bahagia. Mereka kini seperti memiliki tiga anak yang sholeh dan sholehah. Benar! Barram hari ini sudah mulai berpuasa. Bahkan telah mulai belajar membaca Al-Quran dengan Arshinta. Itu adalah perubahan yang cukup baik untuk seorang Barram yang notabene adalah seorang bos yang super sibuk. Bahkan setiap hari waktu nya selalu dia gunakan untuk bertemu dengan klien-klien, relasi bahkan bersenang-senang dengan teman-teman dan dunia yang penuh gemerlap. Kelebihan harta benda nya membuat Barram bisa melakukan apapun termasuk selalu mengajak teman-teman nya untuk sekadar nongkrong dan minum-minum. Waktu nya banyak habis dengan sesuatu yang kurang berfaedah. Selain bekerja keras membangun perusahaan bisnisnya. Sehingga lupa dengan kehidupan akhiratnya yang sifatnya kekal abadi.