
"Kamu lihat sendiri bukan, Jeje? Bahkan di hari raya Idul Fitri seperti sekarang ini, calon suami kamu belum datang kemari. Mungkin saja benar, kalau menikah dengan kamu hanya sebagai bentuk tanggung jawab saja karena kamu telah hamil duluan. Barram nyatanya tidak benar-benar mencintaimu, Jeje!" ucap mama Marina.
"Sudahlah ma! Biarkan saja Jeje menentukan pilihan nya. Yang terpenting kita sudah menawarkan hidup di luar negeri selama kehamilan Jeje, dan pernikahan Jeje dengan Barram tidak akan terjadi hanya lantaran Jeje hamil anak Barram," sahut papa Musdiono.
"Padahal mama takut dan mengkhawatirkan Jeje kalau menikah dengan Barram ini tidak mendapatkan kebahagiaan. Namun yang ada hanya sakit hati karena mama lihat, Barram tidak benar-benar mencintaimu, Jeje," kata mama Marina.
"Mama papa selalu saja mengulang kata kata yang sama. Ini pilihanku, ma pa. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Barram. Apapun resikonya. Sekarang ini Barram lagi merayakan hari lebaran bersama dengan keluarga besar nya. Kita harus maklum dong ma pa. Seharusnya mama papa yang ke sana dong ma pa, sebagai calon besan yang baik," kata Jeje.
Mama Marlina dan papa Musdiono kini saling berpandangan lalu hanya mendengus kesal.
"Aku sih malas pa, kalau harus ke orang tua calon suami Jeje. Seharusnya mereka dong yang kemari," kata bu Marina.
"Betul, seharusnya mereka dong yang kemari," sahut pak Musdiono.
"Astaga, jadi itungan seperti itu sih!" protes Jeje seraya masuk ke dalam kamarnya meninggalkan mama papa nya yang masih duduk di ruangan tengah.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
"Siap tidak siap, kamu harus menikah Barram! Karena Jeje telah mengandung anak kamu!" kembali mama Elza mengingatkan pada Barram.
Saat ini Barram terlihat sangat kacau. Karena mendekati hari pernikahan nya. Sedangkan Barram merasa belum klik jika harus menikah dengan Jeje. Sedangkan hati kecilnya ingin menikah dengan Arshinta.
"Seandainya calon istriku adalah Arshinta. Mungkin aku tidak sekacau ini, ma!" ucap Barram lirih.
"Sabar Barram! Bagaimana pun juga, semua nya sudah terjadi. Dan kamu harus menikah dengan Jeje," sahut mama Elza.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Apakah sudah tertidur Jeje, ma?" tanya pak Musdiono.
"Sudah, pa! Mama sudah memberikan obat tidur pada minuman Jeje tadi," sahut bu Marina.
__ADS_1
"Aku merasa keputusan ini lah yang tepat. Karena aku belum ikhlas jika melihat anakku harus menikah secepat ini. Apalagi harus memiliki bayi. Ditambah pria yang menjadi suami Jeje tidak benar-benar mencintai Jeje. Hamil di luar nikah dan cinta satu malam seperti ini sudah biasa terjadi. Cuma anak kita kurang berhati-hati saja," ucap pak Musdiono.
"Papa yakin kalau kita akan mengaborsi janin yang ada di dalam rahim Jeje? Dan membawa Jeje ke luar negeri, setelah ini?" tanya bu Marina.
"Benar ma! Jeje harus melanjutkan karier nya sebagai model di negeri. Dan Jeje sudah sangat berprestasi selama ini. Aku tidak rela jika lantaran menikah karir Jeje menjadi terhambat dan terhenti. Apalagi harus mengandung," kata pak Musdiono.
"Ya sudah pa, kalau ini sudah menjadi keputusan papa. Mama hanya bisa mendukung saja," ucap bu Marina.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Barram! Kedua orang tua Jeje telah menghubungi kami. Bahwasanya mereka menggagalkan pernikahan kamu denganmu Jeje. Bahkan mereka saat ini telah membawa Jeje ke luar negeri untuk melakukan aborsi. Setelah itu Jeje akan kembali meneruskan karier nya di dunia modeling. Itu penjelasan dari pak Musdiono dan juga bu Marina," ucap mama Elza.
"Benarkah ma? Alhamdulillah ya Alloh, aku tidak jadi menikah dengan Jeje. Terimakasih ya Rabb!" sahut Barram. Sukses ucapan Barram mendapat sentil dari papa Atta.
"Astaghfirullah, Barram! Kamu bahkan tidak memikirkan janin darah daging kamu yang telah dibunuh mereka sebelum sempat lahir di dunia?" ucap pak Musdiono.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Benar! Kenapa harus di aborsi sih? Anakku tidak bersalah. Seharusnya mereka jangan mengaborsi nya," sahut Barram tiba-tiba menjadi lemas kedua kaki nya.