
Odjie menemani Barram menyantap hidangan saur. Jeje yang masih di rumah Barram menatap heran pada Barram yang kini sudah mulai belajar berpuasa kembali. Padahal selama di kenal oleh Jeje, Barram tidak pernah sekalipun berpuasa. Bahkan Jeje belum pernah melihat Barram melakukan sholat.
"Barram, kamu mau berpuasa yah sayang? Tapi untuk apa kamu berpuasa dan lapar-lapar begitu? Bagaimana kalau kamu sakit perut? Lalu asam lambung kamu naik?" ucap Jeje seraya memeluk Barram dari belakang.
Padahal Barram saat ini sedang duduk bersama dengan Odjie di ruang makan. Jeje tidak ada rasa sungkan dan malu ada Odjie di sana. Barram melepaskan tangan Jeje yang berada di atas pundaknya.
"Jeje, duduklah kamu dengan benar! Kalau tidak bisa duduk dengan benar, akan aku ikat kamu supaya bisa duduk dan tidak asal meluk-meluk begitu dengan ku," ucap Barram dengan ketus. Jeje hanya bisa cemberut lalu duduk sesuai perintah Barram.
Tiba-tiba suara panggilan masuk di handphone Barram. Tanpa sadar, Barram tersenyum lebar setelah membaca dan melihat siapa yang telah menghubungi dirinya.
"Halo, assalamu'alaikum!" ucap Barram setelah mengangkat panggilan masuk dari Arshinta.
"Wa'alaikum Salam! Kak Barram sudah saur?" tanya Arshinta.
"Ini lagi saur sama Odjie. Kamu sudah saur, Arshinta?" sahut Barram.
__ADS_1
"Sudah kak! Ya sudah kalau kakak sudah bangun! Kak Barram saur dulu, yah! Jangan lupa niat untuk berpuasa yah, kak!" ucap Arshinta.
"Siap, terimakasih Arshinta!" kata Barram.
Jeje menyipitkan bola matanya saat Barram menerima panggilan masuk di handphone nya. Rasa tergelitik dan penasaran ingin bertanya kini muncul pada diri Jeje.
"Siapa Arshinta itu, Barram? Apakah gara-gara dia, sehingga kamu jadi bersikap dingin dengan ku? Dan bahkan menolak ku?" tanya Jeje. Odjie yang masih bersantap saur menjadi tidak nyaman dan enak gara-gara suasana yang bikin selera makan hilang. Barram menyudahi makan saur nya. Dia lebih memilih berjalan meninggalkan Jeje. Odjie pun ikut meninggalkan tempat duduknya.
Karena waktu sahur masih panjang, Odjie membuatkan secangkir kopi untuk bos nya. Barram terlihat sudah menyalahkan. batang rokoknya dan mulai menikmati setiap tarikannya. Jeje kembali mendekati Barram dan duduk di depan Barram dengan menantang.
"Kalau begitu, mulai sekarang kita putus! Kita tidak lagi saling berhubungan. Aku dan kamu the and! Oke?" sahut Barram dengan entengnya.
Odjie tiba dengan membawa secangkir kopi hitam yang ia berikan langsung pada Barram.
"Terimakasih banyak, Odjie! Odjie, duduklah sebentar!" kata Barram.
__ADS_1
"Baik, tuan muda!" ucap Odjie seraya ikut menarik dan menikmati batang rokok dengan selera yang sama seperti milik Barram. Keduanya menghembuskan asap rokok itu ke sembarang arah.
"Odjie, beri kompensasi pada Jeje. Karena mulai detik ini, antara aku dan Jeje tidak akan ada lagi hubungan apapun. Termasuk hubungan kekasih. Bila perlu kasih semua yang diminta oleh nya," ucap Barram. Jeje mengerutkan dahinya lalu menatap tajam ke arah Barram dengan api amarah.
"Barram! Aku tidak mau putus! Kamu tidak bisa seenaknya sendiri memperlakukan aku seperti ini dong! Bahkan kamu sudah mengambil keperawanan ku. Apakah kamu lupa itu, Barram!" ucap Jeje.
"Bukan aku yang memintanya. Namun kamu sendiri lah yang memberikan nya padaku. Kamu menggoda aku dengan cara licik kamu. Lagipula kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka bukan? Dan aku ingatkan sekali lagi kepada kamu, Jeje! Selama ini kita tidak sedang menjalin hubungan kekasih atau berpacaran. Jadi, kamu jangan terlalu percaya diri dong," ucap Barram panjang lebar.
"Setelah apa yang sudah kita lakukan, kamu bicara seperti itu terhadap ku, Barram? Apakah. karena sudah ada yang baru lagi sehingga kamu membuang ku? Ingat Barram! Kalau kamu ingin tahu! Saat ini aku sebenarnya telah mengandung dan hamil dari anak kamu. Bahkan usia kehamilan ku saat ini sudah satu bulan," ucap Jeje.
Sukses perkataan Jeje membuat Barram dan juga Odjie melebar bola matanya dengan sempurna.
"Aku tidak percaya! Odjie, jangan lupa beri wanita ini kompensasi yang lebih. Aku sudah malas berurusan dengan nya lagi," ucap Barram seraya meninggalkan Jeje yang marah-marah. Sedangkan Odjie berusaha menenangkan Jeje dengan berbagai cara.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
"Sial! Apakah benar, semua yang dikatakan Jeje, kalau saat ini dirinya telah mengandung anakku? Brengsek! Disaat aku ingin berubah lebih baik. Kenapa selalu saja ada gangguan. Sedangkan aku sekarang mulai terpesona dengan Arshinta. Bagaimana ini? Rasanya hatiku selalu sulit untuk berpaling dari Arshinta. Apakah ini yang namanya jatuh cinta itu?" gumam Barram seraya menjatuhkan tubuh nya di atas peraduan setelah dirinya masuk ke dalam kamar utamanya.