HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 30


__ADS_3

"Kamu mau kan menikah dengan ku, Arshinta?" tanya Barram tiba-tiba.


"Hah? Kenapa kakak bertanya soal mengenai itu kak? Bagaimana dengan mbak Jeje? Bahkan lusa kak Barram dan mbak Jeje telah menikah. Tolong jangan bercanda dan mempermainkan perasaan ku dong, kak!" sahut Arshinta.


Saat ini di pagi hari, di ruang kantor Barram. Barram kembali memberikan buket mawar putih pada Arshinta. Kembali Barram menyatakan cinta dan perasaan nya. Bahkan Barram langsung mengajak menikah dengan Arshinta.


"Jadi seperti itu Arshinta! Aku telah menjelaskan masalahnya bukan?" kata Barram yang kembali menceritakan duduk permasalahan nya kenapa dirinya mengajak menikah dengan Arshinta. Pernikahan Barram dengan Jeje dibatalkan karena Jeje sekarang ini berada di luar negeri.


"Bagaimana aku harus menjawabnya, kak?" sahut Arshinta.


"Kamu jangan bingung dong! Sekarang katakan kamu mau tidak jika menjadi istriku, menjadi pengantin ku?" tanya Barram. Arshinta mengangguk pelan.


"Alhamdulillah! Kalau begitu itu sudah jelas jawabannya. Nanti malam mama papa ku dan juga aku akan ke rumah kamu untuk membicarakan hal ini. Sekalian melamar kamu. Jadi di hari tanggal bulan tahun yang sama, lusa aku tetap menikah. Namun pengantin nya bukan Jeje melainkan kamu, Arshinta," ucap Barram.


"Tapi kak? Apakah bapak ibu ku merestui kita?" sahut Arshinta.


"Kamu takut jika bapak ibu kamu tidak memberikan ijin dan restu untuk menikah secepatnya?" tanya Barram. Arshinta kembali mengangguk cepat. Barram tersenyum lebar.


"Jangan khawatir! Aku yakin bapak ibu kamu akan menyerahkan segala keputusan ini terhadap kamu. Aku yakin itu!" kata Barram.

__ADS_1


"Kak Barram yakin?" sahut Arshinta.


"Benar! Senyum dong!" kata Barram.


"Tapi, kak Barram yakin kalau menyukai aku juga?" tanya Arshinta kembali.


"Sumpah Demi apapun Arshinta! Aku tidak pernah merasakan kegilaan ini saat jatuh cinta dengan seorang wanita. Aku mencintaimu Arshinta, sejak pandangan pertama," ucap Barram.


"Ih mulai gombal deh, kak Barram ini!" sahut Arshinta seraya mencubit lengan Barram. Barram tersenyum merasakan kebahagiaan bersama dengan Arshinta satu langkah lagi.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ih kak Boy ini!" sahut Arshinta sambil tersenyum cerah.


"Semoga tuan Barram bisa membuat kamu bahagia, dik! Semoga bos muda itu bisa benar-benar berubah dan tidak mengulangi kenakalan nya seperti dulu," kata Boy. Arshinta tiba-tiba mengernyitkan dahinya saat kakak nya mengatakan hal itu.


"Aku menjadi takut, kak! Jika suatu hari tiba-tiba datang seorang wanita dari masa lalu kak Barram. Apakah aku siap dengan segala kemungkinan itu, kak?" ucap Arshinta.


"Jika sekarang kamu sudah memutuskan mau menikah dengan Barram. Itu artinya kamu harus ikhlas dan menerima dengan segala kemungkinan yang terjadi. Jika masa lalu yang buruk telah diperbuat Barram akan muncul dipermukaan. Termasuk juga jika tiba-tiba saja ada seseorang yang mengaku anak dari Barram. Atau seorang wanita cantik yang pernah disinggahi oleh calon suami kamu mengatakan kalau selama ini dia telah melahirkan anak Barram," urai Boy panjang lebar.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kak Boy! Kenapa tiba-tiba saja aku menjadi sangat takut kak? Takut dan khawatir jika suamiku nanti tiba-tiba berpaling dengan ku," sahut Arshinta.


"Kamu sudah melakukan sholat istikaroh belum? Seharusnya kamu melakukan sholat istikharah terlebih dahulu untuk meminta petunjuk pada Alloh,dik. Ini supaya kamu ditetapkan dan diyakinkan atas pilihan kamu, dik. Dan konsekuensi dari semua yang kamu pilih bisa kamu terima suatu hari nanti," urai Boy.


"Aku sudah melakukan sholat istikharah, kak! Baiklah kak, segala nya aku serahkan pada Alloh saja. Yang terpenting aku harus percaya dengan apa kata hatiku," sahut Arshinta.


"Benar, dik! Selain itu, kamu juga harus sepenuhnya percaya pada suami kamu. Kalau Barram ingin berubah dan tidak mengulangi tindakan bodohnya di masa lalu. Sehingga jika ada suatu fitnah atau kabar yang belum pasti kebenarannya, kamu tidak langsung mempercayai nya. Cemburu boleh, tapi jangan cemburu buta dan tanpa bukti dan sebabnya," ucap Boy.


"Terimakasih kak Boy! InsyaAllah aku siap menjadi istri kak Barram yang mungkin saja masih banyak wanita-wanita ingin mengincarnya. Tidak perduli kalau kak Barram telah menikah dan melepaskan masa lajangnya dengan ku," kata Arshinta.


"Nah begitu dong! Dan kamu sebagai seorang istri harus pandai-pandai menyenangkan suami. Kamu harus lebih paham apa yang disukai Barram dan apa yang tidak dia sukai. Aku yakin kamu akan lebih paham dalam hal ini. Karena sudah beberapa bulan ini kamu setiap hari bersama Barram menjadi asisten pribadi nya," ucap Boy.


"Heem, kak! InsyaAllah sedikit banyak, aku sudah mulai paham dengan karakter dan sifat dari kak Barram," sahut Arshinta.


"Alhamdulillah, selalu mengajak dan menasihati dalam kebaikan serta saling melengkapi kekurangan pasangannya. Saling pengertian dan selalu menjaga perasaan pasangan," kata Boy. Arshinta tersenyum mendengar semua nasihat dari kakaknya itu.


"Kenapa Arshinta? Kamu malah cengar-cengir mendengar kakak mu ini menasihati kamu?" sambung Boy.


"Kak Boy ini menasihati aku seolah-olah sudah pernah merasakan hidup berumah tangga saja, hihihi," kata Arshinta.

__ADS_1


"Hehehe, itu yang kakak dengar dan kakak lihat dari beberapa teman yang sudah menikah lebih dahulu dik. Soal praktiknya kakak belum tahu dan belum berpengalaman," sahut Boy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


__ADS_2