HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 7


__ADS_3

Siang hari di ruang kerja tuan muda Barram Elzatta. Seorang office boy mengantarkan secangkir kopi disertai bolu kukus dengan varian coklat keju kesukaan bos CEO di perusahaan ternama di kota itu. Barram masih sibuk dengan kerjaannya memeriksa beberapa file di laptop nya. Sedangkan Arshinta menulis jadwal-jadwal harian dari pimpinan di perusahaan itu beserta agenda-agenda janji dengan beberapa klien yang harus di kunjungi oleh tuan muda Barram Elzatta.


Namun Barram terlihat masih fokus dengan kerjaan nya. Kedua matanya masih tertuju pada layar laptop nya. Kini satu tangannya mulai meraih secangkir kopi hitam yang ada di atas meja di dekat nya. Barram dengan tenang dan cukup nikmat menyesap dan menyeruput kopi hitam itu. Rasanya mungkin begitu nikmat hingga sampai di tenggorokan.


Arshinta tiba-tiba melihat bos nya itu minum kopi dengan santai nya melebar bola matanya. Bahkan saat itu masih di siang bolong. Apakah bos nya itu tidak sedang berpuasa? Kenapa dengan santai nya minum kopi saat di siang hari. Bahkan bolu kukus rasa coklat dan keju itu di ambilnya satu potong lalu dimasukkan nya ke dalam mulutnya. Kedua matanya masih tertuju pada layar di laptop nya. Hingga Arshinta memanggil Barram, Barram baru tersadar.


"Tuan muda Barram!?" panggil Arshinta saat Barram meminum kopi hitam buatan seorang office boy di kantor nya dan bahkan sudah habis satu potong bolu kukusnya.


"Eh?? Astaghfirullah!? Aku sedang berpuasa. Kenapa malah minum kopi dan bolu kukus ini," ucap Barram panik. Arshinta tersenyum menatap geli bos nya itu. Barram bergegas berkumur ke wastafel di dekat toilet nya. Dia membersihkan mulutnya dari sisa rasa kopi dan juga bolu yang telah termakan.


"Saya pikir, tuan muda Barram tidak berpuasa hari ini. Makanya saya masih ragu-ragu dan takut menegur dan memperingati tuan muda Barram," ucap Arshinta. Barram menyipitkan bola matanya menatap ke arah asisten pribadinya itu.

__ADS_1


"Kamu ini!? Tidak sekalian saja mengingatkan aku setelah habis kopi di cangkir ini beserta bolu kukus satu piring. Bahkan aku masih sedikit menyeruput kopi nya dan baru satu potong bolu kukus coklat keju nya masuk ke tenggorokan," ucap Barram seperti mengomel. Arshinta terkekeh melihat Barram yang seperti kesal dengan dirinya karena telah lupa kalau hari ini berpuasa Ramadhan.


"Tidak apa-apa, tuan muda! Ini rejeki buat tuan muda lantaran lupa. Tidak apa-apa kok, asal tuan muda benar-benar lupa dan tidak sengaja minum kopi dan makan bolu nya," kata Arshinta. Kembali Barram mengerutkan dahinya mendengar ucapan Arshinta.


"Kalau aku sengaja minum dan makan, lebih baik sekalian aku tidak berniat puasa," sahut Barram.


"Maaf, saya pikir tuan muda memang tidak berpuasa hari ini. Ya sudah, lain kali saya akan ingatkan tuan muda kalau lupa lagi," kata Arshinta.


"Hem, oke aku maafkan kamu kali ini. Oh iya, kamu jangan ikutan memanggil ku dengan tuan muda dong!? Panggilan kakak itu sudah bagus kok. Kenapa diubah lagi?" ucap Barram.


"Hem, tidak apa-apa!? Panggil aku kakak saja," sahut Barram.

__ADS_1


"Hem, nanti saya sesuaikan dengan tempat dan keadaan saja, tuan muda!?" kata Arshinta.


"Oh, iya Arshinta! Hari ini kita belajar mengaji nya di rumah mama Elza saja yah, sekalian buka puasa di rumah mama. Mama menyuruhku datang ke rumah mama hari ini. Kamu tidak keberatan bukan?" ucap Barram.


"Bagaimana yah? Saya belum memberitahu ibu bapak kalau harus pulang telat," kata Arshinta.


"Kalai begitu, aku hubungi ibu kamu dulu yah, kalau kamu buka puasanya di rumah mama ku. Nanti aku antar pulang setelah kita berbuka puasa di rumah mama. Oke?" ucap Barram yang segera mencari kontak ibu Renata, ibu kandung dari Arshinta.


🌼🌼🌼🌼🌼


Setelah pulang dari kantor, Barram membawa Arshinta ke rumah mama nya. Di sana mereka mulai belajar mengaji sambil menunggu adzan maghrib tiba untuk berbuka puasa bersama dengan mama Elza.

__ADS_1


Barram terlihat serius belajar membaca Al-Quran. Arshinta Pratista pun menyimak dengan penuh ketelitian. Jauh dari mereka berdua belajar mengaji, ada mama Barram yaitu mama Elza sedang memperhatikan mereka. Betapa mama Elza sangat bahagia dengan perubahan putra nya itu.


"Barram Elzatta, putra ku. Syukur lah semenjak kenal dan dekat dengan Arshinta, putraku mulai kembali belajar agama," gumam mama Elza.


__ADS_2