HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 23


__ADS_3

Seorang wanita tiba-tiba bertamu di rumah mama papa Barram saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa. Kabar pernikahan antara Jeje dan Barram sudah mulai tersebar dan akan diselenggarakan setelah lebaran tiba.


Wanita cantik itu datang bersama seorang anak laki-laki sekitar lima tahun. Wanita yang bersama dengan anak laki-laki itu bernama Pretty dan anak kecil itu dipanggil nya dengan sebutan Ameer.


"Siapa yang datang, Barram?" tanya mama Elza saat mendengar suara bel masuk yang ada di depan gerbang berbunyi. Satpam yang berjaga pasti sudah membukakan pintu dan bertanya pada seseorang yang hendak bertamu tersebut.


"Tidak tahu ma! Aku tidak ada janji kok. Pak Zan pasti juga akan memastikan siapa tamu yang datang," ucap Barram.


"Waktu berbuka seperti ini kok ada yang datang. Apakah dia tidak sedang berbuka puasa? Lebih baik suruh masuk saja dan diajak sekalian untuk berbuka bersama dengan kita," sambung papa Atta.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kini duduk seorang ibu muda dengan dandanan dan penampilan bak seorang gadis. Dia bersama dengan seorang anak laki-laki nya yang berusia lima tahunan. Barram menatap geram dengan wanita itu. Dimana dia datang bersama dengan anak laki-laki nya. Itu menurut pengakuannya.


Dan yang bikin mengejutkan papa Atta dan juga mama Elza serta Barram, wanita yang datang bersama dengan anak laki-laki nya itu mengaku bahwa dulu nya adalah pacar Barram. Anak laki-laki yang berusia lima tahunan itu sesuai pengakuan nya adalah anak Barram. Tentu saja pengakuan wanita itu sukses membuat selera makan mama Elza tiba-tiba hilang. Namun berbeda dengan papa Atta yang biasa-biasa saja mendengar pengakuan dari wanita muda itu.


"Kamu datang memberikan kabar bohong seperti itu. Bahkan bicara kebohongan pada papa mama ku kalau kamu datang bersama seorang anak laki-laki yang kamu bilang adalah anak kandung ku, anak darah daging ku. Hasil hubungan di antara kita saat itu," ucap Barram dengan emosi.

__ADS_1


"Jika benar itu adalah anakku, darah daging ku, aku minta buktinya. Buktikan kalau tes DNA membuktikan bahwasanya benar apa yang kamu katakan itu," sambung Barram dengan berapi-api.


"Tenanglah, Barram! Kamu jangan emosi seperti itu, dong! Tenang, Barram! Kasihan wanita ini, kamu marah sampai melotot seperti itu," kata papa Atta.


Wanita yang bernama Pretty itu tentu saja menjadi menciut saat Barram marah-marah saat dirinya mengaku bahwasanya anak laki-laki yang diajaknya adalah anak Barram yang lahir diluar nikah. Dan saat dirinya hamil, Pretty tidak berani meminta pertanggungjawaban terhadap Barram.


"Aku bersumpah, om tante! Kalau anak laki-laki ini adalah anak Barram. Barram, apakah kamu lupa jika aku dan kamu pernah beberapa kali berkencan dan melakukan itu! Bahkan setiap kali kita berkencan, kamu tidak mau menggunakan pengaman," ucap Pretty dengan vulgar. Mama Elza dan papa Atta melebar bola matanya saat mendengar cerita dan pengakuan dari Pretty. Mama Elza dan papa Atta langsung menatap tajam ke arah Barram dengan tatapan penuh amarah.


"Mama papa, jangan percaya dengan ucapan wanita ini. Siapapun bisa mengaku telah berkencan dengan ku dan mengaku telah dihamili oleh aku. Sekarang aku perlu bukti bukan ucapan omong kosong doang," kata Barram masih ngotot berusaha membela dirinya.


"Cukup, Barram! Sekarang, papa tanya terhadap kamu. Sebenarnya pernah kah kamu berkencan dengan wanita yang bernama Pretty ini? Jika benar kalian pernah berkencan, itu artinya ada kemungkinan kamu telah menabung di rahim nya," ucap papa Atta.


"Barram, kamu tidak ingat dengan ku Barram? Kamu benar-benar sangat tega sekali, Barram!" kata Pretty.


Mama Elza dan papa Atta kembali menatap Barram dengan penuh intimidasi.


"Barram, jika kamu sempat mengenal wanita ini. Kamu jangan menghindari nya dan berkata bahwa kamu tidak pernah berkencan dan melakukan nya dengan dia, nak! Kasihan loh, Barram. Bahkan dia sudah datang kemari malam begini bersama dengan anak nya," ujar mama Elza dengan gemetaran karena menghadapi situasi itu.

__ADS_1


"Mama! Aku bersumpah kalau aku tidak pernah berkencan bahkan melakukan nya dengan wanita ini. Bahkan wanita ini nekat mengatakan kalau anak ini anakku. Astaghfirullah! Demi Alloh, aku telah difitnah oleh wanita ini ma pa," kata Barram akhirnya berani mengucapkan sumpah nya.


"Ya sudah, kalau begitu untuk menyelesaikan masalah ini, kita akan melakukan tes DNA dari anak ini. Jika terbukti benar bahwasannya anak ini adalah anak kamu, kamu harus bertanggung jawab. Jika ternyata tes DNA menyatakan bukan anak kandung kamu, kita bisa menuntut balik wanita ini karena telah melakukan fitnah. Bagaimana?" ucap papa Atta.


"Eh?? Tapi om tante? Saya benar-benar tidak berbohong!" sahut wanita yang bernama Pretty itu. Dengan wajah pucat dan khawatir kalau dituntut balik atas fitnah yang dia nyatakan.


"Kenapa kamu tiba-tiba menjadi gugup? Jika benar semua pengakuan kamu, kamu harus berani dong!" kata mama Elza.


"Eh, em! Kalau begitu saya pamit dulu tante om! Saya lebih baik mengurungkan niat saya untuk meminta pertanggungjawaban dari Barram," sahut wanita bernama Pretty itu sambil menarik tangan anak laki-laki kecil yang berusia lima tahunan itu meninggalkan rumah mama Elza dan papa Atta.


Kini mama Elza, papa Atta dan juga Barram menatap heran dengan sikap Pretty yang tiba-tiba menjadi menciut saat papa Atta hendak mengancam menuntut balik jika pengakuan dari wanita itu adalah kebohongan.


"Mama papa! Aku bersumpah atas nama Tuhan! Aku tidak pernah berkencan dengan wanita itu. Bahkan melakukan nya ma pa. Bahkan aku tidak mengenal wajahnya," ucap Barram.


"Hem, siapa tahu kamu lupa Barram! Karena saking banyaknya wanita yang kamu singgahi," sahut papa Atta dengan maksud menggoda Barram.


Namun papa Atta dan mama Elza saling melemparkan senyuman nya karena hati mereka merasa lega bahwa wanita yang baru saja mengaku telah memiliki anak dari Barram akhirnya menciut saat diancam oleh pak Atta jika dia terbukti telah berbohong atas pengakuan nya.

__ADS_1


"Semoga setelah ini tidak ada lagi wanita-wanita yang menuntut tanggung jawab kamu lagi karena diam-diam mereka telah memiliki anak dari kamu, Barram!" goda papa Atta lagi.


"Papa!" gumam Barram dengan pasrah atas jejak-jejak masa lalu nya yang meninggalkan bekas.


__ADS_2