
Barram menatap tajam Boy dan Arshinta secara bergantian. Tatapan tajam itu belum pernah Arshinta melihat nya selama ini. Ini sungguh menakutkan bagi Arshinta.
"Bagaimana ini kak?" tanya Arshinta yang merasa sudah tersudut.
"Ya sudahlah, dik! Sementara ini kamu tetap bekerja saja di sini. Kakak yakin kalau tuan muda Barram sudah berubah. Dia sudah berbeda dari yang dahulu," bisik Boy di dekat telinga Arshinta.
Barram masih tetap menatap tajam adik kakak itu yang seperti sedang berdiskusi.
"Nah, kakak kamu kurasa lebih cerdas daripada kamu, Arshinta. Sekarang kamu boleh pulang bersama dengan kakak kamu. Tapi ingat! Besok pagi datang dan kembalilah bekerja seperti biasa. Karena aku masih membutuhkan kamu sebagai asisten pribadi kamu," ucap Barram dengan tegas.
Sikapnya ditunjukkan sedikit arogan pada Arshinta. Kini Boy menarik lengan Arshinta dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Dengan senyum seringai, Barram menatap punggung kedua adik kakak itu hingga benar-benar tidak terlihat lagi oleh nya karena sudah meninggalkan ruang kerjanya.
"Arshinta! Walaupun saat ini kita belum berjodoh. Paling tidak, setiap hari aku bisa melihat kamu setiap hari. Memastikan kamu baik-baik saja dan tidak dimiliki oleh laki-laki manapun. Kamu harus menjadi milik ku. Entah kapan itu," gumam Barram dengan ego nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu yakin mau menikah dengan pria CEO Casanova itu, Jeje? Kamu tidak takut jika kelak ada wanita lain datang dalam kehidupan rumah tangga kalian meminta pertanggungjawaban dari Barram, si pria yang telah menghamili kamu?" ucap Pak Musdiono, papa dari Jeje.
__ADS_1
"Benar, Jeje! Kamu siap jika dimadu suatu saat nanti, mengingat calon suami kamu selain tampan, mapan, banyak wanita yang masih mengharapkan memiliki nya," sahut bu Marina, mama dari Jeje.
"Papa mama, aku harus menikah dengan Barram, pa ma! Apapun yang terjadi, aku harus menjadi istrinya. Berapa banyak wanita-wanita yang berusaha mendapatkan Barram dengan berbagai cara. Dan saat ini, aku merasa, akulah pemenangnya pa ma!" ucap Jeje dengan tersenyum kemenangan.
"Tapi, Jeje! Kebahagiaan bukan diukur dengan mendapatkan seseorang yang kita inginkan dan kita cintai. Melainkan pasangan kita juga menghargai kita dan menyayangi kita lah akan menentukan langgeng ya hidup berumah tangga yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Pasangan saling menyayangi, saling pengertian. Menikah bukan karena keterpaksaan karena terjadi nya suatu kecelakaan atau hamil diluar nikah," urai mama Marina.
"Kamu bisa memikirkan lagi, Jeje! Kita bisa menggagalkan rencana pernikahan kamu dengan Barram setelah lebaran. Papa mama akan mengurus keberangkatan kamu ke luar negeri selama kehamilan kamu. Supaya orang-orang tidak akan mengetahui rahasia dan aib ini bahwasannya kamu telah hamil saat ini, Jeje. Tanpa menikah pun, kamu bisa melahirkan anak kamu di luar negeri tanpa mendengar orang-orang membicarakan aib kamu," kata pak Musdiono.
"Papa, mama! Pilihan ku sudah bulat ma pa! Aku tetap menikah dengan Barram. Apapun yang terjadi," sahut Jeje dengan keras kepalanya atas pilihan yang sudah diambilnya.
"Ya sudah lah, pa! Ini sudah menjadi pilihan Jeje. Jika suatu saat mereka sudah menikah dan menjadi pasangan suami istri, masalah apapun sudah menjadi resiko yang harus dihadapi. Jeje pun sudah jelas-jelas sangat mengetahui bagaimana masa lalu dari Barram yang dahulunya telah banyak menjalin hubungan dengan wanita-wanita, tidak hanya Jeje saja. Mama merasa kecolongan saat mengetahui Jeje telah diam-diam menjalin hubungan dengan CEO muda itu," ucap mama Marina.
"Kamu salah besar, Jeje! Kekayaan yang dimiliki Barram tidak semua miliknya. Tapi masih punya orang tua nya," sahut papa Musdiono.
"Tapi Barram putra tinggal, pa ma! Otomatis dialah yang akan mewarisi semua harta, perusahaan milik papa mama nya. Lagipula Barram pun yang aku dengar sudah menjadi CEO di salah satu perusahaan milik nya sendiri kok," protes Jeje.
"Haduh, nak! Percaya dengan mama papa deh. Kebahagiaan dan kedamaian tidak semua bisa diukur dengan banyak uang dan berlimpah harta benda," sahut mama Marina.
__ADS_1
"Mama, pokoknya kalian tenang saja deh! Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan berusaha menjadi istri atau wanita Satu-satunya bagi Barram. Jika ada wanita-wanita lainya yang berusaha merusak rumah tangga kami, aku akan menghadapi nya dengan cara apapun. Jika perlu aku akan menyingkirkannya. Karena aku tahu, saat sudah menjadi istri Barram nanti, aku akan memiliki kekuatan dan kekuasaan. Mama papa harus yakin itu," jelas Jeje dengan penuh keyakinan.
Mama Marina dan papa Musdiono kini saling berpandangan. Akhirnya papa Musdiono hanya bisa mengangkat kedua bahunya tanda menyerah pasrah atas keputusan dari putri nya, Jeje.
"Aku yakin, ma pa! Setelah menikah dengan Barram di keluarga konglomerat itu, aku akan menjadi ratu di istana itu. Kehidupan ku dan juga mama papa akan semakin dipandang terhormat. Orang-orang akan lebih menghargai kita, karena kita memiliki kekuasaan dan kekuatan dari harta benda yang melimpah," ucap Jeje penuh percaya diri.
Mama Marina dan juga papa Musdiono hanya menatap putri nya penuh doa dan harapan supaya putri tunggal mereka bisa mendapatkan kebahagiaan sesuai keinginan nya. Orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan anak-anak nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seorang wanita tiba-tiba bertamu di rumah mama papa Barram saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa. Kabar pernikahan antara Jeje dan Barram sudah mulai tersebar dan akan diselenggarakan setelah lebaran tiba.
Wanita cantik itu datang bersama seorang anak laki-laki sekitar lima tahun. Wanita yang bersama dengan anak laki-laki itu bernama Pretty dan anak kecil itu dipanggil nya dengan sebutan Ameer.
"Siapa yang datang, Barram?" tanya mama Elza saat mendengar suara bel masuk yang ada di depan gerbang berbunyi. Satpam yang berjaga pasti sudah membukakan pintu dan bertanya pada seseorang yang hendak bertamu tersebut.
"Tidak tahu ma! Aku tidak ada janji kok. Pak Zan pasti juga akan memastikan siapa tamu yang datang," ucap Barram.
__ADS_1
"Waktu berbuka seperti ini kok ada yang datang. Apakah dia tidak sedang berbuka puasa? Lebih baik suruh masuk saja dan diajak sekalian untuk berbuka bersama dengan kita," sambung papa Atta.