
"Masuk saja!" sahut Barram. Odje masuk bersama dengan Jeje. Ditangannya ada amplop. Arshinta tentu terkejut dengan kedatangan Jeje yang datang bersama Odje, yang juga merangkap manager serta asisten pribadi Barram. Sebelum Arshinta dianggap sebagai asisten pribadi Barram, Odje lebih dahulu yang mengurus jadwal kegiatan Barram.
"Kamu Odje dan kamu Jeje? Ada apa?" tanya Barram. Barram kini kembali duduk di kursi kerjanya. Jeje saat ini hanya diam dan hanya menyodorkan hasil yang ia dapat saat pemeriksaannya di dokter kandungan.
"Ini apa?" tanya Barram.
"Lihat dan baca saja!" jawab Jeje dengan mata yang menatap angkuh pada Arshinta.
"Apa ini? Apa maksudnya, Jeje?" ucap Barram dengan tidak percaya apa yang telah dilihat dan bacanya.
"Aku telah hamil anak kamu, Barram! Itu artinya kamu harus bertanggung jawab dan dalam waktu dekat ini, kamu harus menikahi aku, Barram!" kata Jeje.
__ADS_1
Sukses ucapan Barram itu membuat Arshinta terkejut. Dirinya tentu saja sangat syok dengan situasi di ruangan itu. Setelah dirinya merasa berbunga-bunga sebelum kedatangan Jeje. Di mana dirinya tadi mendapatkan buket mawar dari Barram. Arshinta berpikir Barram menyatakan perasaan nya kalau dirinya menyukai Arshinta. Bukankah arti pemberian mawar dari seseorang laki-laki dewasa pada seorang wanita itu adalah ungkapan perasaan suka. Itulah yang dipikirkan oleh Arshinta. Namun setelah adanya Jeje yang datang memberikan kabar gembira bahwasanya Jeje saat ini telah berbadan dua, betapa Arshinta sangat hancur hatinya. Kabar gembira itu tentu saja bagi seseorang yang mengharapkan kehadiran seorang bayi mungil. Entah apa yang dirasakan Jeje dengan kehamilannya. Demikian juga halnya dengan Barram. Apakah kehamilan Jeje akan mendatangkan kebahagiaan bagi Barram? Sedangkan Barram sebenarnya tidak menyukai Jeje dalam artian mereka melakukan hal itu karena suka sama suka dan butuh sama butuh karena gaya kebebasan nya.
"Tapi Jeje! Apakah ini asli! Kamu tidak sedang bercanda dengan aku kan?" ucap Barram yang kini kembali duduk di kursi kerja nya dengan lesu. Bahkan Arshinta memutuskan keluar dari ruangan itu setelah pembicaraan keduanya semakin serius. Demikian juga dengan Odje ikut keluar bersama dengan Arshinta.
Diam-diam Arshinta menangis di dalam toilet. Dia tentu saja menjadi kecewa, kenapa Barram bisa menghamili Jeje. Selama ini apa yang Arshinta dengar tentang gaya hidup dan pergaulan Barram nyata dan benar adanya. Barram di kenal sebagai pria Casanova yang suka bergonta-ganti pasangan atau wanita. Dengan modal wajahnya yang tampan dan postur tubuh nya yang gagah, disertai memili aset-aset kekayaan yang banyak, tidak akan ada wanita-wanita yang sanggup menolak kepribadian serta pesona dari Barram.
"Jadi benar, kalau selama ini Barram sudah melakukan kebebasan dalam berhubungan dengan lawan jenis? Mungkin sudah banyak wanita-wanita di kota ini yang telah disinggahi Barram. Tapi kenapa dia memperlakukan aku begitu manis? Apakah Barram sengaja mempermainkan aku?" gumam Arshinta.
Arshinta keluar dari toilet. Di luar, Odje sudah menunggu dirinya.
"Kak Odje?" ucap Arshinta. Odje menatap lekat Arshinta yang terlihat sekali habis menangis.
__ADS_1
"Arshinta! Kamu habis menangis?" tanya Odje. Pertanyaan itu benar-benar tidak memerlukan jawaban dari Arshinta. Jelas kalau Arshinta sedih, kecewa dengan kejadian ini. Dimana Barram telah menghamili Jeje.
"Jangan nangis yah! Nanti puasa kamu batal loh!" ucap Odje bermaksud menghibur Arshinta supaya tetap tersenyum dan bisa bersabar dengan apa yang sudah terjadi.
"Kamu harus maklum Arshinta! Masa lalu tuan muda memang buruk. Namun akhir-akhir ini, tuan muda benar-benar ingin berubah. Itu semua lantaran kamu, Arshinta! Jadi apapun yang sudah terjadi, maafkan kelakuan tuan muda! Di saat tuan muda ingin berubah, dia harus melewati ujian ini. Mungkin menikah dengan Jeje, wanita itu bukanlah kemauan tuan muda. Jika tuan muda Barram bisa memilih, mungkin saja beliau ingin menikah dengan kamu, Arshinta!" ucap Odje panjang lebar. Arshinta menyipitkan bola matanya.
"Siapa aku? Kenapa kak Barram ingin menikah dengan ku? Kami baru saja berkenalan dan akhirnya saling mengenal lebih dekat. Berbeda dengan wanita tadi yang lebih dahulu dekat dengan kak Barram. Bahkan mereka telah..." sahut Arshinta. Odje tersenyum lebar menatap ke arah Arshinta.
"Jadi benar? Aku melihat diantara kamu dengan tuan muda sama-sama telah memiliki rasa. Itu yang aku lihat. Apalagi sorot mata tuan muda Barram begitu mengagumi kamu. Aku rasa bukan kamu yang sakit jika tuan muda Barram benar-benar harus menikah dengan Jeje dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah tuan muda Barram lakukan. Tapi tuan muda Barram pun akan sedih karena harus menjauh dari kamu dan memutuskan menikah dengan Jeje yang hamil anak tuan muda Barram," ucap Odje panjang lebar.
Kembali Arshinta menangis tersedu-sedu dengan apa yang sudah Odje katakan. Benar! Dalam hati kecil Arshinta telah timbul benih-benih rasa suka. Dari sering nya bertemu dengan Barram akhirnya mulai terbiasa. Dan perasaan damai, tentram nyaman datang di antara keduanya. Baik Arshinta maupun Barram.
__ADS_1