
"Alhamdulillah, kamu hamil sayang!" ucap Barram saat mengetahui hasil pemeriksaan bahwa Arshinta benar-benar telah mengandung atau berbadan dua.
"Iya, kak! Alhamdulillah!" sahut Arshinta.
"Mulai sekarang, kamu harus menjaga janin ini. Kamu tidak boleh capek-capek melakukan pekerjaan rumah. Biar bibi yang melakukan pekerjaan rumah," kata Barram.
"InsyaAllah, kak! Aku akan berusaha menjaga kehamilanku, kak!" ucap Arshinta. Barram tersenyum lebar dan memberikan kecupan di dahinya.
"Papa mama harus tahu kabar gembira ini," gumam Barram.
⭐⭐⭐⭐⭐
⭐⭐⭐⭐⭐
Sepuluh tahun kemudian.
Kehidupan rumah tangga Barram dan Arshinta semakin lengkap dengan memiliki tiga putra. Tidak ada masalah yang serius dalam rumah tangga mereka. Barram semakin tekun beribadah dan meninggalkan masa lalu nya yang tanpa aturan. Apalagi dengan memiliki tiga putra, Barram mulai memikirkan cara untuk mendidik dan membina mereka supaya tidak salah langkah seperti dirinya dulu.
__ADS_1
Benteng kokoh keimanan yang diberikan ketiga putranya akan menjadi dasar akhlak yang baik untuk mereka. Ini supaya mereka tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang menempa mereka. Baik lingkungan buruk maupun kurang baik.
"Elka, Elba, Elha! Ayo semua sholat berjamaah. Tinggalkan handphone kalian! Jangan main terus. Ayo ambil wudhu!" ucap Barram saat azan magrib mulai terdengar. Arshinta yang baru saja menyelesaikan kegiatannya di dapur kini mulai mengambil air wudhu ikut berjamaah bersama suami dan anak-anak nya.
"Mana anak-anak, kak?" tanya Arshinta.
"Masih di kamar semuanya," jawab Barram.
"Aku akan melihat mereka dulu, kak! Siapa tahu belum meninggalkan handphone nya dan masih bermain game," kata Arshinta sambil berjalan ke kamar anak-anak nya.
Barram menatap istrinya yang cantik itu seraya tersenyum. Barram mulai mengenakan peci dan juga sarung serta baju koko nya. Sedangkan Arshinta yang sudah mengenakan mukena mendatangi ketiga putranya di kamar mereka.
"Baik, bun! Ini kami sudah bersiap-siap kok," sahut Elka dengan sopan. Arshinta tersenyum menatap anak-anak nya yang sudah mengenakan peci dan sarungnya.
"Bagus, anak-anak bunda yang sholeh," ucap Arshinta. Arshinta kembali ke mushola kecil di rumah. Duduk menunggu Barram setelah mengerjakan sholat sunah.
"Tunggu sebentar, kak! Anak-anak lagi bersiap-siap," kata Arshinta sambil duduk menunggu ketiga putranya selesai mengenakan pakaian sholat. Sampai akhirnya lengkap satu keluarga itu mulai menjalankan sholat magrib secara berjamaah.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
Selepas Isyak, saat satu keluarga selesai makan. Tiba-tiba datang seorang wanita muda dengan mengenakan pakaian muslimah. Wanita itu datang bersama dengan kedua anak-anak nya yang mungkin saja berumur sekitar dua belas tahun dan tujuh tahun. Arshinta menyambut tamu itu dengan ramah tanpa ada rasa curiga.
Sementara itu ketiga anak-anak Arshinta bersama dengan Barram duduk santai di ruangan keluarga setelah makan malam bersama.
"Maaf, silahkan masuk dulu bu! Ayo adik-adik masuk dulu. Jangan di luar," ucap Arshinta.
"Terimakasih, mbak!" sahut wanita yang datang bersama dengan dua anak-anak nya. Tamu itu duduk di ruang tamu. Kini Arshinta mulai bertanya. Karena Arshinta tidak mengenal wanita yang datang bersama dengan kedua anak-anak nya itu.
"Maaf, sebelumnya! Kedatangan ibu ke rumah saya ini hendak mencari siapa?" tanya Arshinta.
"Maaf, jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat mbak. Saya ingin menjumpai ayahnya kedua anak-anak saya ini. Masalahnya saya harus bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja. Tujuannya kedua anak saya ini saya titipkan kepada ayah biologis nya," cerita ibu muda itu. Arshinta mengerutkan dahinya mendengar maksud dan tujuan ibu muda itu datang ke rumah Arshinta.
"Lalu, ayah anak-anak ibu siapa? Kok datang ke rumah saya? Maksudnya ibu mau ketemu dengan Parjo sopir yang bekerja di rumah kami?" ucap Arshinta mulai menebak. Ibu muda itu langsung menjawab pertanyaan dari Arshinta.
"Ayah biologis dari kedua anak-anak saya ini adalah tuan Barram," ucap Ibu muda itu. Arshinta tentu saja terkejut bukan kepalang. Irama jantung nya semakin berdetak kencang. Dia hampir sulit bernafas saat mendengar nama Barram di sebut. Ibu muda itu mengaku bahwa ayah biologis anak-anak nya adalah suaminya.
__ADS_1
Arshinta tanpa berbicara lagi mendatangi suaminya di dalam yang sedang ngobrol santai bersama dengan ketiga putra nya. Dilihat nya suami dan ketiga anak-anak nya tertawa bersana setelah bercanda. Obrolan mereka terlihat seru. Apakah Arshinta akan merusak keakraban mereka dengan memanggil suaminya. Ini sangat serius. Apakah benar wanita itu datang dari masa lalu Barram. Bahkan wanita itu datang dengan membawa dua anak-anak nya.
"Astaghfirullah! Tenangkan diri kamu Arshinta!" batin Arshinta sambil mengusap dadanya sendiri.