HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 35


__ADS_3

"Mbak Arshinta, maaf. Tapi saya harus jujur demi nama baik dan masa depan saya. Saya sedang hamil anak kak Barram, Mbak." ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang ke rumah Arshinta yang baru. Rumah yang ditempati oleh Arshinta dan Barram. Rumah yang sengaja dibeli oleh Barram untuk mereka tinggal.


Arshinta menatap gadis muda di hadapannya. Tubuhnya bergerak gelisah, wajah pucat pasi dengan sepasang netra yang siap menumpahkan air mata. Sesaat, Arshinta melihat gadis muda itu berusaha meneguhkan diri. Dia mengusap matanya yang mulai basah, lalu menatap Arshinta dengan pandangan teguh. Arshinta menghela nafas.


"Apakah aku harus mempercayai ucapan wanita ini? Atau aku harus memberitahu pada kak Barram? Kalau ada seorang wanita muda mengaku telah hamil karena ulah nya?" batin Arshinta.


Arshinta menghela nafas dalam-dalam. Arshinta memegang lengan gadis itu. Arshinta tahu dia tidak berdusta. Benar! Dia seperti tidak sedang berbohong. Selama ini kelakuan suaminya kerap membuat pusing keluarga besar nya. Papa mama Barram lah yang dibuat pusing dengan sikap dan gaya hidup Barram. Tak terhitung berapa banyak sudah uang papa nya dikeluarkan demi membungkam mulut para korban yang meminta jalan damai karena Barram tak pernah punya niat menikahi salah satu dari mereka. Tapi sekarang Barram telah berubah. Dan wanita ini mungkin salah satu korban dari Barram saat itu sebelum Barram mulai berubah dan meninggalkan kebiasaan lama nya.


"Siapa namamu?" tanya Arshinta.


"Tiwi! Saya karyawan bagian administrasi di kantor kak Barram. Semua terjadi karena saya habis masa kontrak kerja di perusahaan itu. Jadi untuk meneruskan kontrak kerja di perusahaan itu, saya harus menjumpai pimpinan di perusahaan itu. Hingga akhirnya saya bertemu dengan kak Barram," cerita Tiwi.


"Lalu?" sahut Arshinta sambil berusaha kuat mendengar semua cerita dari Tiwi. Wanita yang datang tiba-tiba mengaku telah hamil anak Barram. Walaupun saat ini perut Tiwi masih terlihat datar dan belum membuncit.


"Lalu, syarat supaya bisa bekerja di perusahaan itu kembali saya harus melakukan hubungan intim dengan kak Barram," sambung Tiwi.


"Lalu?" sahut Arshinta. Dadanya sudah mulai naik turun karena merasakan sesak.

__ADS_1


"Lalu dengan terpaksa saya harus melakukan itu. Bahkan kami melakukan nya di ruang kerja kak Barram hingga beberapa kali," cerita Tiwi.


Cukup lama Arshinta terdiam. Dia terus memandangi Tiwi yang sudah menceritakan semua kisahnya. Arshinta segera menghubungi suaminya, Barram yang masih di kantor nya.


"Assalamu'alaikum kak! Kakak bisa pulang ke rumah sekarang juga? Ini penting kak," ucap Arshinta yang sudah berbicara dengan Barram melalui handphone nya.


"Tapi ada apa, sayang?" sahut Barram. Arshinta menahan tangis nya. Jangan sampai suara tangis nya terdengar oleh Barram.


"Sayang! Ada apa? Astaghfirullah! Baik baik aku segera pulang!" ucap Barram akhirnya.


Arshinta terdiam sejenak, menuruti kata hati ingin sekali rasanya ingin marah dengan suaminya saat itu juga. Tapi Arshinta tentu paham, belum tentu semua yang diucapkan oleh wanita yang mengaku Tiwi itu benar adanya.


"Saya tidak minta dijanjikan, lalu dilupakan seperti para korban kak Barram sebelumnya. Saya mau dinikahi karena Mbak Arshinta tahu sendiri, siapa yang mau menikahi wanita yang sudah tak perawan seperti saya." ucap Tiwi. Arshinta memandangnya dalam-dalam.


"Apa kau siap mempunyai suami seperti suamiku itu? Kau tahu sepak terjangnya. Kau bahkan menyebut kata 'para korban'. Itu berarti bukan hanya satu." kata Arshinta. Tiwi menatap Arshinta tajam.


"Lebih baik tunggu saja suamiku. Apakah benar semua yang sudah kamu katakan. Jika kamu telah memfitnah suamiku, aku sendiri yang akan menuntut kamu karena telah mencemarkan nama baik kak Barram, suamiku," ancam Arshinta. Tiwi kembali ciut. Dia tentu saja tidak akan menyangka jika istrinya Barram sekuat itu mentalnya.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


"Kak Barram!" Arshinta menghambur memeluk suaminya ketika Barram sudah tiba di rumah itu. Barram mengusap punggung istrinya itu yang berguncang karena menangis.


"Tenang Arshinta sayang! Jangan menangis yah! Dia hanya wanita pembohong yang cuma memanfaatkan keadaan dan membuat masalah saja. Tidak ada cerita seperti itu, sayang! Bahkan aku tidak mengenalnya. Sumpah Demi Allah, Arshinta sayang! Aku tidak mengenal wanita yang mengaku bernama Tiwi itu. Bahkan dia mengaku sebagai karyawan di perusahaan keluarga kita," terang Barram sambil mengusap puncak rambut istrinya.


"Tapi dia berbicara seperti sangat menyakinkan sekali, kak! Kakak yakin, benar-benar tidak melakukan itu kan? Katanya supaya bisa kembali bekerja di perusahaan, dia harus melakukan hubungan intim dengan pimpinan perusahaan. Dan pimpinan perusahaan yang dimaksudkan adalah kak Barram," sahut Arshinta.


"Astaghfirullah, sayang! Semua fitnah! Jangan percaya ucapan wanita itu. Bahkan aku bisa membuktikan nya. Odjie, asisten pribadi ku bisa membuktikan kebenaran nya. Odjie akan menjadi saksi kalau tidak ada karyawan bernama Tiwi di bagian administrasi," terang Barram.


"A-aku percaya kakak! Tapi aku hampir saja mati berdiri karena merasakan sesak dadaku, kak!" sahut Arshinta.


"Maaf, sayang! Maaf kan suami kamu ini! Kamu menjadi korban atas orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu," kata Barram. Barram memeluk erat istrinya. Dia sangat sedih ketika istrinya terkena imbas nya karena kenakalan nya dulu.


"Aku jadi takut, kak! Jika suatu hari nanti ada seseorang wanita yang datang benar-benar dari masa lalu kakak Barram," ucap Arshinta.


"Astaghfirullah!! Maafkan aku, sayang! Masa laluku membuat kamu selalu membuat kamu dalam kekhawatiran," kata Barram.

__ADS_1


"Karena aku tidak mau kehilangan kamu, kak Barram! Aku tidak mau berbagi suami. Dan tidak mau kalau suami ku direbut oleh wanita lain," ucap Arshinta. Barram yang mendengar ucapan Arshinta yang penuh kejujuran itu menjadi tersenyum. Namun di balik senyuman itu, Barram pun juga ikut mengkhawatirkan dirinya sendiri. Bagaimana jika apa yang dikahwatirkan oleh istrinya itu suatu hari akan menjadi kenyataan.


"Ini sudah konsekuensi yang harus aku Terima. Semoga saja, istriku bisa bersabar dan kuat menghadapi segala masalah rumah tangga ini," batin Barram.


__ADS_2