
Hari ini puasa terakhir di bulan ramadhan tahun ini. Siang itu seperti biasa Arshinta masih bekerja menjadi asisten pribadi Barram.
"Setelah ini ikut aku!" ajak Barram. Arshinta mengerutkan dahinya dengan perintah bos nya.
"Kemana kak?" sahut Arshinta.
"Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan ke mall. Aku akan mencari baju muslim sekalian membelikan kamu baju muslimah. Sekalian berbelanja buat lebaran untuk kamu. Yah anggap saja ini bonus lebaran buat kamu karena sudah bekerja bersama dengan ku menjadi asisten pribadi ku," jelas Barram. Arshinta mengerutkan dahinya.
"Tapi saya sudah janji dengan ibu dan kak Boy setelah pulang kerja kami akan jalan, berbelanja sekalian buka puasa. Jadi, maaf kak! Aku harus cepat pulang setelah seharian bekerja kak," protes Arshinta. Barram melebar bola matanya seolah-olah ajakan nya tidak suka kalau ditolak oleh Arshinta.
"Tidak ada penolakan atas ajakan ku ini. Ini perintah! Jadi mau tidak mau, kamu harus mengikuti perintah ku. Karena kamu adalah asisten pribadi ku," ucap Barram.
__ADS_1
"Tapi, kak Barram! Ini sudah diluar jam kerja, kak! Saya juga memiliki kehidupan pribadi selain bekerja dengan kakak di sini," sahut Arshinta.
"Tidak ada tapi tapian dan tidak ada protes!" ujar Barram. Arshinta hanya bisa mendengus kesal. Namun karena mengingat dirinya sedang berpuasa, Arshinta harus bisa menahan diri dari amarah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Saat pulang dari kantor, Barram benar-benar mengajak Arshinta berbelanja ke pusat perbelanjaan di kota. Bahkan terlihat Barram banyak membeli dan memborong banyak pakaian wanita muslimah. Entah semuanya diperuntukkan untuk siapa. Namun yang jelas, pakaian wanita itu ukurannya disesuaikan dengan Arshinta. Pikir Arshinta pakaian Muslimah itu Barram sengaja membelikan untuk calon istrinya yaitu Jeje.
"Nah, sekarang kita cari gamis warna putih. Kamu pasti akan terlihat lebih anggun jika mengenakan pakaian Muslimah berwarna putih di saat sholat idul Fitri," ucap Barram. Arshinta mengerutkan dahinya saat mendengar Barram mengatakan hal itu.
"Eh maksud aku untuk calon istriku," ralat Barram.
__ADS_1
"Oh, mbak Jeje yah? Aku pikir ukuran mbak Jeje lebih besar dari badan ku kak. Apa lagi mbak Jeje sedang hamil," ucap Arshinta.
"Kalau kekecilan untuk Jeje, busana wanita muslimah ini untuk kamu saja," kata Barram. Arshinta menyipitkan bola matanya saat Barram mengatakan itu. Seolah-olah ini hanyalah alasan atau alibi saja. Tujuan awal sebenarnya Barram sengaja memberikan semua pakaian Muslimah yang telah ia pilihkan itu untuk Arshinta. Namun karena rasa gengsi nya dan takut ditolak oleh Arshinta, Barram memiliki alasan itu. Dimana dia memilih dan membelikan banyak pakaian wanita muslimah itu untuk calon istrinya.
Dalam lubuk hati kecil Barram yang paling dalam, calon istri nya adalah Arshinta bukan Jeje.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ibu, kak Boy! Aku tunggu di mall yah! Kita ketemuan di sini saja sekalian buka bersama. Sekarang aku masih menemani tuan muda Barram berbelanja. Benar! Ini tuan muda Barram sedang berbelanja banyak pakaian Muslimah untuk mbak Jeje. Jadi dia meminta aku ikut membantu memilih kan pakaian muslimah yang cocok untuk mbak Jeje. Dan supaya pas dengan ukuran," ucap Arshinta melalui sambungan di handphone nya berbicara dengan ibu nya.
"Ok, ibu! Kita ketemu di mall yah! Assalamu'alaikum!" ucap Arshinta mengakhiri telepon nya. Barram masih sibuk memilih pakaian muslim lagi yang dia rasa bagus. Padahal sudah hampir sepuluh baju muslimah telah cocok dan sudah siap di bayar.
__ADS_1
"Ayo, sepertinya pakaian dalam wanita harus aku belikan juga!" kata Barram seraya menarik tangan Arshinta menuju ke bagian bra dan segitiga pengaman untuk wanita. Arshinta mengerutkan dahinya tanpa bisa memprotes ajakan dari bos nya itu.
"Astaghfirullah! Tuan muda Barram mau membelikan bra dan juga segitiga pengaman untuk mbak Jeje? Apa tidak malu?" pikir Arshinta seraya mengerutkan dahinya saat melihat Barram mulai melihat lihat pakaian pribadi wanita itu.