
"Papa mama jahat! Kenapa kalian membawaku ke luar negeri? Dan kenapa kalian tega membunuh janin yang masih berada di dalam rahimku, pa ma? Astaga mama papa! Kalian benar-benar jahat sekali! Kalian tega memisahkan aku dengan Barram! Padahal aku sangat mencintai Barram, ma pa!" ucap Jeje histeris saat sudah tersadar dari obat biusnya.
Saat ini bahkan Jeje masih berada di kamar rumah sakit setelah selesai melakukan aborsi yang dilakukan oleh papa mama nya. Bahkan Jeje sejak keberangkatan nya selalu dicekoki obat bius. Dan keberangkatan orang tua Jeje membawa Jeje ke luar negeri dengan menyewa pesawat jet secara pribadi.
Pak Musdiono dan bu Marina hanya menarik nafasnya melihat putrinya masih keras kepala.
"Barram, Barram terus! Tidak ada pria lain apa yang lebih bagus lagi dari Barram? Cukup kamu mikir pria yang tidak mencintai kamu itu. Sekarang lebih baik kamu fokus kembali dengan karier kamu sebagai model. Papa mama sangat menyayangi kamu, Jeje. Jadi kejarlah cita-cita kamu dulu Jeje. Jangan buru-buru menikah muda. Apalagi punya anak terlebih dahulu," kata pak Musdiono.
"Papa mama jahat sekali! Bahkan setelah menikah dengan Barram pun, aku bisa melanjutkan karier ku sebagai model. Dan kenapa papa mama harus mengaborsi janin yang masih ada di dalam rahimku? Bahkan anakku tidak bersalah pa ma. Hiks hiks hiks!" ucap Jeje.
"Pokoknya aku ingin pulang! Aku ingin kembali ke tanah air. Aku ingin menikah dengan Barram," ucap Jeje.
"Itu sudah tidak mungkin lagi! Papa dan mama sudah menggagalkan pernikahan kamu dengan Barram. Papa mama sudah meminta kompensasi pada orang tua Barram senilai satu triliun sebagai ganti rugi karena kamu telah dihamili oleh Barram," kata pak Musdiono.
"Hah? Astaga papa mama! Kalian super tega. Ini seperti menjual kebahagiaan ku dengan uang. Kebahagiaan ku jika menikah dengan Barram, pa ma! Astaga!" ucap Jeje.
"Cukup! Barram Barram terus! Mungkin saja laki-laki itu sangat senang tidak jadi menikah dengan kamu. Karena kami sangat tahu kalau Barram tidak menginginkan pernikahan dengan kamu," kata bu Marina. Jeje masih menangis tersedu-sedu karena menyadari bahwa dirinya sudah gagal menikah dengan Barram.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Bagaimana ini pa? Undangan pernikahan Barram dengan Jeje sudah tersebar. Bahkan panitia penyelenggara pernikahan juga sudah siap. Lusa Barram harus menikah.Apakah benar-benar harus kita gagalkan, pa? Namun kenyataan nya, orang tua Jeje lah yang telah menggagalkan pernikahan Jeje dengan Barram. Jeje telah dibawa pergi ke luar negeri oleh pak Musdiono dan juga tante Marina," ucap mama Elza.
"Tidak apa-apa bu! Biar orang-orang ku yang akan mengurus semua ini. Mereka akan aku suruh memberikan pengumuman baik melalui media sosial maupun spanduk untuk menginformasikan bahwa pesta pernikahan Barram dengan Jeje telah dibatalkan. Beres kan?" ucap pak Atta.
"Astaghfirullah, papa ini menggampangkan semuanya. Kita pasti sangat malu loh pa, jika membatalkan pernikahan Barram," kata mama Elza.
"Tenang saja, ma! Yang terpenting Barram terlihat bahagia saat mengetahui bahwa dirinya tidak jadi menikah dengan Jeje," ucap pak Atta.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
"Mama papa, bagaimana kalau pernikahan ini tetap berlangsung," kata Barram. Mama Elza dan papa Atta saling berpandangan.
"Maksud kamu apa, Barram?"sahut mama Elza.
" Maksudnya aku tetap menikah di hari tanggal bulan tahun itu. Serta di gedung dan panitia yang sama. Namun yang berbeda adalah pengantin wanita nya yang berbeda, ma pa!" ucap Barram.
"What? Astaghfirullah, kamu jangan bercanda dong Barram!" sahut pak Atta.
"Iya, Barram! Kamu bercanda nya kelewatan banget!" sambung mama Elza.
"Aku tidak bercanda ma pa! Sebenarnya selama ini yang aku harapkan sebagai calon istri dan pengantin ku itu adalah..." kata Barram. Namun dia belum menyebutkan nama calon istri yang dia inginkan.
"Arshinta? Yah Arshinta. Mama juga sangat berharap memiliki menantu seperti Arshinta," sambung mama Elza. Barram nyengir kuda.
"Mama setuju kan kalau pengantin wanita nya adalah Arshinta?" ucap Barram.
"Tentu dong sayang! Selain Arshinta cantik. Dia juga sholehah. Mama sangat menyukai Arshinta," sahut mama Elza.
"Tapi masalah nya, mau tidak kalau Arshinta yang kalian maksudkan itu mau menikah dengan Barram?" tanya pak Atta.
"Mau dong pa!" jawab Barram dan mama Elza secara bersama-sama. Barram dan mama Elza saling pandang lalu sama-sama tertawa lalu saling toss.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu mau kan menikah dengan ku, Arshinta?" tanya Barram tiba-tiba.
__ADS_1
"Hah? Kenapa kakak bertanya soal mengenai itu kak? Bagaimana dengan mbak Jeje? Bahkan lusa kak Barram dan mbak Jeje telah menikah. Tolong jangan bercanda dan mempermainkan perasaan ku dong, kak!" sahut Arshinta.
Saat ini di pagi hari, di ruang kantor Barram. Barram kembali memberikan buket mawar putih pada Arshinta. Kembali Barram menyatakan cinta dan perasaan nya. Bahkan Barram langsung mengajak menikah dengan Arshinta.
"Jadi seperti itu Arshinta! Aku telah menjelaskan masalahnya bukan?" kata Barram yang kembali menceritakan duduk permasalahan nya kenapa dirinya mengajak menikah dengan Arshinta. Pernikahan Barram dengan Jeje dibatalkan karena Jeje sekarang ini berada di luar negeri.
"Bagaimana aku harus menjawabnya, kak?" sahut Arshinta.
"Kamu jangan bingung dong! Sekarang katakan kamu mau tidak jika menjadi istriku, menjadi pengantin ku?" tanya Barram. Arshinta mengangguk pelan.
"Alhamdulillah! Kalau begitu itu sudah jelas jawabannya. Nanti malam mama papa ku dan juga aku akan ke rumah kamu untuk membicarakan hal ini. Sekalian melamar kamu. Jadi di hari tanggal bulan tahun yang sama, lusa aku tetap menikah. Namun pengantin nya bukan Jeje melainkan kamu, Arshinta," ucap Barram.
"Tapi kak? Apakah bapak ibu ku merestui kita?" sahut Arshinta.
"Kamu takut jika bapak ibu kamu tidak memberikan ijin dan restu untuk menikah secepatnya?" tanya Barram. Arshinta kembali mengangguk cepat. Barram tersenyum lebar.
"Jangan khawatir! Aku yakin bapak ibu kamu akan menyerahkan segala keputusan ini terhadap kamu. Aku yakin itu!" kata Barram.
"Kak Barram yakin?" sahut Arshinta.
"Benar! Senyum dong!" kata Barram.
"Tapi, kak Barram yakin kalau menyukai aku juga?" tanya Arshinta kembali.
"Sumpah Demi apapun Arshinta! Aku tidak pernah merasakan kegilaan ini saat jatuh cinta dengan seorang wanita. Aku mencintaimu Arshinta, sejak pandangan pertama," ucap Barram.
"Ih mulai gombal deh, kak Barram ini!" sahut Arshinta seraya mencubit lengan Barram. Barram tersenyum merasakan kebahagiaan bersama dengan Arshinta satu langkah lagi.
__ADS_1