
"Kalau ingin menjadi pribadi yang baik, bukan berarti aku dilupakan bukan? Ini yang aku dengar, Barram mulai melirik wanita lain. Ini sangat membuat aku sedih dan kecewa, Odjie!" curhat Jeje.
"Ya sudah, sabar yah! Nanti siang, silahkan buktikan kalau kamu hamil. Nanti siang silahkan datang ke kantor. Aku akan bantu supaya nona bisa berbicara dengan tuan muda Barram. Oke?" sahut Odjie.
"Baiklah! Nanti siang aku akan datang ke kantor menemui Barram setelah periksa memastikan bahwasanya aku telah hamil," kata Jeje dengan mata berbinar. Dia ada sedikit harapan untuk bisa kembali lagi bersama dengan Barram.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Arshinta terlihat malu-malu menerima buket mawar dari Barram. Entah apa alasan Barram memberikan buket mawar itu pada Arshinta. Arshinta menjadi berbunga-bunga setelah mendapatkan sikap romantis dari Barram. Hanya memberikan buket mawar, Arshinta merasa seperti terbang. Apalagi Barram selalu saja mencuri-curi pandang pada Arshinta yang saat ini berada di dalam ruangannya, yang mendapatkan tugas dari Barram untuk mengetik laporan.
"Nanti mengajinya di rumah kamu atau di rumah mama? Atau di rumahku?" tanya Barram mencoba memberikan pilihan pada Arshinta.
"Terserah kak Barram saja, di mana menurut kak Barram nyaman dan enak untuk belajar mengaji al-quran," sahut Arshinta.
__ADS_1
"Ya sudah, hari ini ke rumah kamu saja. Sekalian buka puasa di rumah kamu. Boleh kan? Kangen masakan ibu kamu, sayur asem," kata Barram. Arshinta menyipitkan bola matanya lalu menengok ke belakang melihat ke arah Barram.
"Tapi hari ini ibu belum tentu masak sayur asem, kak!" sahut Arshinta.
"Hem, nanti kita dijalan mampir beli lauk dan sayur yah. Oh iya, makanan kesukaan ibu dan bapak kamu apa sih?" tanya Barram.
"Ibu dan bapak serta kak Boy paling suka sambal Pete. Apalagi ditambah semur jengkol. Ayam goreng kalah jika dibandingkan semur jengkolnya," kata Arshinta.
"Hahaha, kamu juga suka jengkol?" sahut Barram.
"Duh, bagaimana rasanya sih? Aku sejak kecil gak pernah menyentuh makanan itu. Apalagi Pete. Pasti bau banget yah setu makan dua jenis makanan itu?" tanya Barram.
"Kalau ingin menghilangkan bau jengkol, kakak bisa makan Pete. Demikian juga, sebaliknya. Kalau kakak mau menghilangkan bau mulut karena makan Pete, kakak bisa makan jengkol yang banyak," kata Arshinta. Tiba-tiba Barram mengusap kepala Arshinta yang terhalang hijab pasmina nya. Barram tersenyum seraya menatap dengan teduh ke Arshinta.
__ADS_1
"Itu sama saja, adik cantik. Jengkol dan Pete sama-sama bau. Astaghfirullah!" sahut Barram. Arshinta cekikikan saja mendapati bos nya itu nyengir kuda.
Namun tiba-tiba di saat kedua nya semakin akrab dan dekat itu, pintu ruangan kerja Barram itu diketuk.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk saja!" sahut Barram. Odje masuk bersama dengan Jeje. Ditangannya ada amplop. Arshinta tentu terkejut dengan kedatangan Jeje yang datang bersama Odje, yang juga merangkap manager serta asisten pribadi Barram. Sebelum Arshinta dianggap sebagai asisten pribadi Barram, Odje lebih dahulu yang mengurus jadwal kegiatan Barram.
"Kamu Odje dan kamu Jeje? Ada apa?" tanya Barram. Barram kini kembali duduk di kursi kerjanya. Jeje saat ini hanya diam dan hanya menyodorkan hasil yang ia dapat saat pemeriksaannya di dokter kandungan.
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Barram.
"Lihat dan baca saja!" jawab Jeje dengan mata yang menatap angkuh pada Arshinta.