HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 21


__ADS_3

"Arshinta! Jika aku bisa memilih. Sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan ini dengan Jeje. Karena aku sudah jatuh hati dengan kamu, Arshinta! Aku mencintaimu, Arshinta. Katakan padaku, Arshinta! Kamu sebenarnya juga mencintai aku bukan?" ucap Barram.


"Cukup kak! Aku mencintai kak Barram atau tidak. Itu tidak mempengaruhi bahwasanya sebentar lagi kak Barram akan menikah dengan mbak Jeje," kata Arshinta.


"Tapi katakan dengan jujur, Arshinta! Apakah kamu juga mencintai aku kan? Kamu ingin mengundurkan diri menjadi asisten pribadi ku supaya kamu tidak melihat aku setiap hari bukan?" ucap Barram sedikit menyudutkan Arshinta.


"Kak Barram!" gumam Arshinta.


Barram tiba-tiba saja dengan nekat merengkuh tubuh Arshinta. Barram memeluk tubuh langsing nya. Arshinta sesaat menikmati kehangatan pelukan Barram. Namun akhirnya Arshinta mendorong pelan Barram.


"Maaf, Arshinta! Kalau boleh, aku meminta. Walaupun nanti kita tidak berjodoh. Tetaplah di sini, Arshinta! Aku belum siap jika kamu menjauh dariku. Aku menyukai kamu Arshinta!" ucap Barram sedikit merengek.


"Kak Barram! Maaf, aku tidak bisa kak. Aku harus pergi dari kehidupan kak Barram! Aku takut, jika aku dan kak Barram semakin dekat dan tidak bisa saling melupakan," kata Arshinta.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Tok.


"Eh em, masuk!" sahut Barram. Masuk seorang pria muda yang tidak lain adalah Boy.


"Kak Boy!" gumam Arshinta.


"Maaf, tuan muda! Saya hanya ingin menjemput adik saya, Arshinta!" ucap Boy berbicara selayaknya karyawan dengan pimpinan nya. Barram Mendengus kesal saat Boy berniat hendak mengajak pulang Arshinta. Sedangkan Barram sendiri merasa belum selesai berbicara dan membujuk Arshinta.


"Syarat? Syarat apa, tuan Barram?" sahut Boy.


"Arshinta tetap bekerja di sini sebagai asisten pribadi ku. Karena aku masih membutuhkan Arshinta. Aku tidak menerima surat pengunduran diri dari Arshinta. Karena sekali. lagi, aku berhak menolak dan mengabulkan nya," kata Barram.


Kembali Boy dan Barram saling berpandangan. Lalu Boy hanya bisa pasrah dan mengangkat kedua bahunya tanda tidak bisa memaksa bos nya untuk mengabulkan pengunduran diri dari adiknya.

__ADS_1


"Maaf, tuan muda Barram! Sebenarnya saya tidak berhak ikut campur urusan pribadi tuan muda dengan adik saya. Namun saya paham betul dengan karakter adik saya. Saya tidak ingin adik saya merasa tidak nyaman saat bekerja di sini bersama tuan muda. Apalagi tuan muda Barram sebentar lagi akan menikah dengan non Jeje," ucap Boy panjang lebar.


"Lalu kenapa kalau aku sudah menikah dengan Jeje?" sahut Boy.


"Eh? Em?" Boy bingung harus berkata jujur atau tidak.


Bahwasanya Arshinta sudah jatuh hati dengan Barram. Namun karena Barram sebentar lagi akan menikah dengan Jeje dan bahkan Jeje telah mengandung atau hamil anak Barram, Arshinta tidak ingin terlalu dekat-dekat dengan Barram. Itu akan membuat hati Arshinta semakin hancur.


"Jadi benar, kalau Arshinta menyukai aku? Kamu juga takut kalau adik kamu menjalin hubungan dengan suami orang? Atau kamu mengkhawatirkan aku, kalau aku akan mempermainkan Arshinta seperti wanita-wanita lain sebelum ini?" ucap Barram.


Barram menatap tajam Boy dan Arshinta secara bergantian. Tatapan tajam itu belum pernah Arshinta melihat nya selama ini. Ini sungguh menakutkan bagi Arshinta.


"Bagaimana ini kak?" tanya Arshinta yang merasa sudah tersudut.


"Ya sudahlah, dik! Sementara ini kamu tetap bekerja saja di sini. Kakak yakin kalau tuan muda Barram sudah berubah. Dia sudah berbeda dari yang dahulu," bisik Boy di dekat telinga Arshinta. Barram masih tetap menatap tajam adik kakak itu yang seperti sedang berdiskusi.

__ADS_1


__ADS_2