HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA

HIJRAH NYA SANG CEO CASANOVA
BAB 17


__ADS_3

"Boleh kan ma, kalau aku menikah? Di dalam perut Jeje ada janin keturunan ku. Aku harus bertanggung jawab atas semua yang sudah aku lakukan terhadap Jeje," ucap Barram.


"Bagaimana kalau tidak hanya Jeje saja yang mengaku hamil? Apakah kamu juga akan menikahi semua wanita yang datang kepada mu. Dan mengaku telah dihamili oleh kamu?" kata mama Elza. Barram menyipitkan bola matanya. Sedangkan Jeje mulai khawatir, jika apa yang dikatakan oleh mama Elza benar adanya. Sedangkan yang Jeje tahu, bukan dirinya saja yang selama ini berhubungan dengan Barram. Selain Jeje, ada gadis-gadis cantik yang pernah berkencan dengan Barram. Tentu saja mereka berupaya untuk mendapatkan Barram sebagai pria mapan, matang, punya perusahaan dan juga memiliki wajah yang rupawan.


"Kamu tidak bisa menjawabnya kan, Barram? Sekarang, mama ingin memastikan sendiri. Apakah benar yang dikatakan oleh Jeje bahwasanya dia telah hamil? Dan memastikan hasil pemeriksaan nya benar-benar valid. Besok pagi ikut dengan mama ke dokter kepercayaan mama untuk memastikan kebenarannya," ucap mama Elza panjang lebar. Jeje mengerutkan dahinya. Dalam hati Jeje ada kekhawatiran.


"Tapi tante? Besok pagi saya ada pemotretan. Saya tidak bisa jika harus ijin meninggalkan jadwal pemotretan," sahut Jeje.


"Kenapa? Kamu takut jika kebohongan kamu terbongkar, yang sebenarnya kamu tidak hamil dan hanya berusaha membohongi putraku saja? Hanya sebentar saja kok melakukan melakukan pemeriksaan. Aku rasa bisa dimaklumi oleh mereka," ucap mama Elza. Jeje dan Barram saling berpandangan. Barram pun berharap kalau Jeje hanya membohongi dirinya saja dan besok saat diperiksa oleh dokter kepercayaan mama Elza, akan diketahui kebenarannya.


"Semoga Jeje tidak hamil.Supaya aku tidak menikah dengan Jeje," batin Barram dalam hati.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi, Jeje benar-benar hamil? Astaghfirullah! Barram, kamu akan menikah dengan wanita seperti Jeje? Mama kok tidak yakin, apakah Jeje bisa menjadi istri dan ibu yang baik? Astaghfirullah, Barram! Kenapa dari dulu kamu mencari wanita yang tidak jelas seperti dia sih?" omel mama Elza.


"Mama, jangan begitu dong ma! Maaf kalau selama ini Jeje masih suka gonta-ganti wanita. Masih suka main-main dan tidak serius. Menjalin hubungan dengan wanita tanpa memperhatikan kepribadian nya, sifatnya maupun kebiasaannya. Padahal seorang wanita harus bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak nya dan juga bisa menjadi istri yang bisa melayani suaminya. Tidak sekadar menuntut haknya saja tanpa memenuhi kewajiban nya," urai Barram.


Mama Elza terlihat menangis. Dia kecewa karena anak laki-laki nya telah terbukti menghamili anak gadis orang. Apalagi wanita yang akan menikah dengan Barram, putra nya gadis yang bukan disukai oleh mama Elza. Padahal ada seorang gadis yang mama Elza merasa cocok dengan nya dan punya harapan bisa menjadi istri dari Barram. Gadis itu tidak lain adalah Arshinta.


"Mama kecewa, Barram! Tapi mau bagaimana lagi? Lagipula kamu sih, kenapa dari dulu suka sekali mengobral cinta dengan banyak wanita," omel mama Elza.


"Yah, kamu harus bertanggungjawab dong! Bagaimana pun juga, apa yang sudah kamu lakukan, harus kamu Pertanggungjawabkan. Yah walaupun sebenarnya, mama tidak menyukai Jeje jika menjadi istri kamu," ucap mama Elza.

__ADS_1


"InsyaAllah, Jeje akan menjadi ibu dan istri yang baik, ma! Aku akan berusaha mendidiknya ma!" sahut Barram.


"Ya, ya, kamu harus bisa menjadi imam yang baik dan pemimpin keluarga yang bisa mengarahkan dan mengajari istrimu ke jalan yang diridhoi oleh Alloh," kata mama Elza.


"InsyaAllah, ma!" sahut Barram.


"Jadi, kapan aku harus menikahi Jeje, ma?" tanya Barram.


"Setelah lebaran tiba, kamu dan Jeje harus secepatnya menikah sebelum perut Jeje semakin membesar," sahut mama Elza.


"Baik, ma! Aku dan Jeje akan mempersiapkan semuanya untuk pernikahan kami nanti setelah lebaran," kata Barram.

__ADS_1


"Lusa, kita harus melamar Jeje pada orang tua nya. Kita memastikan tanggal bulan pernikahan kamu dan Jeje," sahut mama Elza.


"Baik, ma! Maafkan aku ma! Aku sudah mengecewakan mama," kata Barram sambil bersimpuh di kaki mama Elza.


__ADS_2