
Barram bersama mama papa nya kini telah bertandang di rumah orang tua Jeje. Tuan besar Atta bersama istrinya nyonya Elza datang ke rumah Jeje bermaksud untuk meminang Jeje. Tuan besar Atta dan nyonya Elza mau tidak mau harus menikahkan Barram dengan Jeje karena Barram telah menghamili Jeje.
"Setelah ini berhenti bermain-main dengan wanita, Barram! Sudahi petualangan kamu, bersenang-senang dengan gadis-gadis yang mendekati kamu. Setelah kamu memutuskan menikah, kamu harus menjadi pribadi yang baik. Suami yang setia dengan pasangan nya. Masa lalu yang suram harus kamu sudahi dan berhijrah ke jalan yang diridhoi," ucap tuan besar Atta. Barram serius mendengarkan nasihat dari papa nya itu.
"InsyaAllah, pa!" sahut Barram serius.
Setelah bertemu dan berbicara dengan orang tua Jeje, mama Elza, papa Atta dan juga Barram kembali ke kediaman orang tua nya. Bulan suci ramadhan sudah diujung. Hari raya Idul Fitri tiga hari akan tiba. Alhasil pembicaraan dengan orang tua Jeje, Barram dan Jeje akan menikah setelah lebaran atau hari raya Idul Fitri.
__ADS_1
Duduk di ruang tengah Barram bersama dengan tuan besar Atta. Kedua pria dewasa beda generasi dan usia itu sama-sama menikmati batang rokok sesuai selera masing-masing. Sedangkan mama Elza sedang membuatkan kopi untuk suami dan sekaligus putra nya. Memang di rumah itu ada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu. Namun urusan membuat kopi, tuan besar Atta selalu meminta dibuatkan oleh istrinya, mama Elza.
"Papa lihat kamu sekarang ini sudah mulai berubah. Selain mama kamu telah menceritakan nya pada papa, papa melihat sendiri perubahan dari kamu, membuat papa cukup lega. Kamu sudah mulai belajar agama, mengaji dan berusaha menjauhi teman-teman kamu yang mengajak hal-hal yang kurang bermanfaat. Kamu lebih terlihat tenang, kalem, dan dewasa. Apalagi papa, lihat! Kamu semakin serius mengurus perusahaan di cabang.
"Odje juga berperan membantu aku, pa! Semua karena odje juga, sehingga aku sedikit-sedikit mulai kembali berubah dan belajar menjadi lebih baik," sahut Barram.
"Namanya Arshinta, pa! Cuma sekarang aku harus melupakan Arshinta. Karena sebentar lagi, aku menikah dengan Jeje. Bagaimana pun juga aku harus lebih baik lagi. Menjadi suami dan bertanggung jawab atas semua yang sudah aku lakukan," sahut Barram.
__ADS_1
"Hahaha, jadi sebenarnya kamu telah jatuh hati dengan gadis berjilbab itu? Tapi pada akhirnya harus menikah dengan Jeje lantaran kamu telah menghamili Jeje?" ucap tuan besar Atta.
"Ah sudahlah, pa! Mengingat itu membuatku sedih. Entah setelah Jeje, apakah masih ada wanita-wanita yang sempat berkencan padaku minta aku nikahi dan aku harus bertanggung-jawab dengan semua nya," kata Barram. Tuan besar Atta hanya terkekeh mendengar ucapan Barram yang penuh penyesalan.
"Kamu terlalu sembrono dan kurang berhati-hati saat itu, Barram. Tapi ya sudahlah! Jika suatu saat nanti ada wanita datang mengaku telah hamil atau wanita itu datang bersama seorang anak. Kamu mau tidak mau harus bertanggung-jawab. Dan calon istri kamu, Jeje harus paham akan masa lalu kamu. Jika sewaktu-waktu ada beberapa wanita datang bersama anak-anak keturunan kamu," ucap tuan besar Atta dengan maksud menggoda Barram.
"Astaghfirullah, papa! Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi," sahut Barram. Tuan besar Atta tertawa terpingkal-pingkal hingga mama Elza yang baru saja datang membawa dua cangkir kopi ikut tersenyum saja.
__ADS_1