
"Hahaha, jadi sebenarnya kamu telah jatuh hati dengan gadis berjilbab itu? Tapi pada akhirnya harus menikah dengan Jeje lantaran kamu telah menghamili Jeje?" ucap tuan besar Atta.
"Ah sudahlah, pa! Mengingat itu membuatku sedih. Entah setelah Jeje, apakah masih ada wanita-wanita yang sempat berkencan padaku minta aku nikahi dan aku harus bertanggung-jawab dengan semua nya," kata Barram. Tuan besar Atta hanya terkekeh mendengar ucapan Barram yang penuh penyesalan.
"Kamu terlalu sembrono dan kurang berhati-hati saat itu, Barram. Tapi ya sudahlah! Jika suatu saat nanti ada wanita datang mengaku telah hamil atau wanita itu datang bersama seorang anak. Kamu mau tidak mau harus bertanggung-jawab. Dan calon istri kamu, Jeje harus paham akan masa lalu kamu. Jika sewaktu-waktu ada beberapa wanita datang bersama anak-anak keturunan kamu," ucap tuan besar Atta dengan maksud menggoda Barram.
"Astaghfirullah, papa! Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi," sahut Barram. Tuan besar Atta tertawa terpingkal-pingkal hingga mama Elza yang baru saja datang membawa dua cangkir kopi ikut tersenyum saja.
🌼🌼🌼🌼🌼
"Tunggu Arshinta, jangan pergi!" ucap Barram saat Arshinta mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai asisten pribadi Barram. Arshinta menghentikan langkah nya saat Barram memanggilnya.
__ADS_1
"Tetaplah di sini, Arshinta! Aku masih membutuhkan kamu," kata Barram.
"Maaf, kak Barram! Sepertinya aku harus mengundurkan diri. Aku tidak bisa, kak kalau terus menerus di sini," ucap Arshinta. Barram mengerutkan dahinya lalu merangkum kedua pipi Arshinta.
"Tapi kenapa, Arshinta? Apakah kamu jadi membenciku gara-gara aku hendak menikah dengan Jeje?" tanya Barram.
"Eh, em tidak! Tidak seperti itu, kak Barram! Aku, aku, aku tidak bisa kak! Aku tidak bisa kalau harus bekerja dengan kakak," ucap Arshinta.
"Tidak! Kak Barram salah! Aku tidak ingin bekerja di sini lagi karena aku sudah diterima bekerja di tempat lain," ucap Arshinta beralasan.
"Kamu jangan berbohong, Arshinta! Kamu tidak bisa berbohong atau membohongi aku," kata Barram.
__ADS_1
"Arshinta! Jika aku bisa memilih. Sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan ini dengan Jeje. Karena aku sudah jatuh hati dengan kamu, Arshinta! Aku mencintaimu, Arshinta. Katakan padaku, Arshinta! Kamu sebenarnya juga mencintai aku bukan?" ucap Barram.
"Cukup kak! Aku mencintai kak Barram atau tidak. Itu tidak mempengaruhi bahwasanya sebentar lagi kak Barram akan menikah dengan mbak Jeje," kata Arshinta.
"Tapi katakan dengan jujur, Arshinta! Apakah kamu juga mencintai aku kan? Kamu ingin mengundurkan diri menjadi asisten pribadi ku supaya kamu tidak melihat aku setiap hari bukan?" ucap Barram sedikit menyudutkan Arshinta.
"Kak Barram!" gumam Arshinta.
Barram tiba-tiba saja dengan nekat merengkuh tubuh Arshinta. Barram memeluk tubuh langsing nya. Arshinta sesaat menikmati kehangatan pelukan Barram. Namun akhirnya Arshinta mendorong pelan Barram.
"Maaf, Arshinta! Kalau boleh, aku meminta. Walaupun nanti kita tidak berjodoh. Tetaplah di sini, Arshinta! Aku belum siap jika kamu menjauh dariku. Aku menyukai kamu Arshinta!" ucap Barram sedikit merengek.
__ADS_1
"Kak Barram! Maaf, aku tidak bisa kak. Aku harus pergi dari kehidupan kak Barram! Aku takut, jika aku dan kak Barram semakin dekat dan tidak bisa saling melupakan," kata Arshinta.