
"Jadi benar? Aku melihat diantara kamu dengan tuan muda sama-sama telah memiliki rasa. Itu yang aku lihat. Apalagi sorot mata tuan muda Barram begitu mengagumi kamu. Aku rasa bukan kamu yang sakit jika tuan muda Barram benar-benar harus menikah dengan Jeje dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah tuan muda Barram lakukan. Tapi tuan muda Barram pun akan sedih karena harus menjauh dari kamu dan memutuskan menikah dengan Jeje yang hamil anak tuan muda Barram," ucap Odje panjang lebar.
Kembali Arshinta menangis tersedu-sedu dengan apa yang sudah Odje katakan. Benar! Dalam hati kecil Arshinta telah timbul benih-benih rasa suka. Dari sering nya bertemu dengan Barram akhirnya mulai terbiasa. Dan perasaan damai, tentram nyaman datang di antara keduanya. Baik Arshinta maupun Barram.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Apa? Kamu telah menghamili wanita ini?" ucap mama Elza saat Barram hendak meminta ijin untuk menikahi Jeje lantaran saat ini Jeje telah mengandung anak Barram.
__ADS_1
"Maaf, tante! Kami telah khilaf!" sahut Jeje yang berpura-pura menyesal telah melakukan hubungan badan dengan Barram. Mama Elza menyipitkan bola matanya saat Jeje bilang kalau mereka melakukan nya lantaran khilaf.
"Khilaf? Jangan kalian pikir, aku tidak tahu selama ini kalian sering ketemuan di hotel. Bahkan kamu sering menggoda putraku dengan datang ke mansion nya," sahut mama Elza.
"Tapi saya datang ke tempat tinggal Barram lantaran memang di suruh Barram datang ke sana, tante!" bela Jeje.
"Halah! Kalian berdua sama saja. Barram dan kamu sama-sama bersalah," sahut mama Elza sambil menjatuhkan pinggulnya duduk di sofa ruangan itu setelah berdiri berkacak pinggang lantaran emosi.
__ADS_1
"Boleh kan ma, kalau aku menikah? Di dalam perut Jeje ada janin keturunan ku. Aku harus bertanggung jawab atas semua yang sudah aku lakukan terhadap Jeje," ucap Barram.
"Bagaimana kalau tidak hanya Jeje saja yang mengaku hamil? Apakah kamu juga akan menikahi semua wanita yang datang kepada mu. Dan mengaku telah dihamili oleh kamu?" kata mama Elza. Barram menyipitkan bola matanya. Sedangkan Jeje mulai khawatir, jika apa yang dikatakan oleh mama Elza benar adanya. Sedangkan yang Jeje tahu, bukan dirinya saja yang selama ini berhubungan dengan Barram. Selain Jeje, ada gadis-gadis cantik yang pernah berkencan dengan Barram. Tentu saja mereka berupaya untuk mendapatkan Barram sebagai pria mapan, matang, punya perusahaan dan juga memiliki wajah yang rupawan.
"Kamu tidak bisa menjawabnya kan, Barram? Sekarang, mama ingin memastikan sendiri. Apakah benar yang dikatakan oleh Jeje bahwasanya dia telah hamil? Dan memastikan hasil pemeriksaan nya benar-benar valid. Besok pagi ikut dengan mama ke dokter kepercayaan mama untuk memastikan kebenarannya," ucap mama Elza panjang lebar. Jeje mengerutkan dahinya. Dalam hati Jeje ada kekhawatiran.
"Tapi tante? Besok pagi saya ada pemotretan. Saya tidak bisa jika harus ijin meninggalkan jadwal pemotretan," sahut Jeje.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu takut jika kebohongan kamu terbongkar, yang sebenarnya kamu tidak hamil dan hanya berusaha membohongi putraku saja? Hanya sebentar saja kok melakukan melakukan pemeriksaan. Aku rasa bisa dimaklumi oleh mereka," ucap mama Elza. Jeje dan Barram saling berpandangan. Barram pun berharap kalau Jeje hanya membohongi dirinya saja dan besok saat diperiksa oleh dokter kepercayaan mama Elza, akan diketahui kebenarannya.
"Semoga Jeje tidak hamil.Supaya aku tidak menikah dengan Jeje," batin Barram dalam hati.