Horror Disturbing

Horror Disturbing
Karma Atau Kutukan?


__ADS_3

Note: Gambaran menurut cerita yang Bima Sampaikan, yang kini sedang di tulis oleh bodyguard suruhan Stefan


"Tuan, saya minta maaf karena sudah menganggu waktunya. Tapi mengenai rasa sakit pada badan saya ini tidaklah bohong, sejujurnya saya melakukan hal seperti ini. Meminta-minta, karena saya kesulitan sekali dalam mendapatkan pekerjaan!" terang pengemis itu dengan raut sedih.


"Sakit, sakit sudah kubilang itu hanyalah..."


Deg..


Pak Nabe merasakan sensasi berbeda saat dirinya berbicara hingga menahan perkataannya barusan.


Pengemis itu lalu menangis yang pada akhirnya memohon agar dirinya diberi uang untuk makan, sayangnya Pak Nabe tidak menyahut omongannya.


Beliau lebih memilih meninggalkan pengemis itu tanpa berkata sepatah kata lagi.


Keesokan harinya, di hari Minggu.


"Pa kenapa wajah bapak terlihat lebam, terus dahi bapak terlihat ada bentolan kecill?" tanya Nia anak sulung pak Nabe.


"Hanya lebam tidak usah dipikirkan, kamu tenang aja. Bapak sekarang ini nampak baik-baik saja. Bentolan kecil mungkin disebabkan oleh gigitan nyamuk!"


Nia kembali melanjutkan sarapan bersama dengan ayahnya yang terlihat lahap sekali saat makan, ia merasa ada yang berbeda dengan ayahnya, karena beliau makan terlalu cepat seakan tak ada jeda.


Hanya suara denting sendok dan garpu di menit setelahnya, Nia bahkan tidak berani untuk menggubris ayahnya yang menurutnya hari ini berperilaku tidak seperti biasanya.


Siang itu cuacanya sangat panas pak Nabe keluar rumah untuk mencari udara segar, sementara anaknya bernama Bima memergoki sang ayah sedang menggaruk wajah seperti tidak ada salah.


Lama kelamaan hingga dirinya melihat wajah sang ayah berdarah-darah akibat garukan yang semakin lama semakin berdampak itu.


"Apa yang sedang ayah lakukan?!" ucapnya dengan rasa kesal bercampur shock setelah sampai ke tempat ayahnya berada, yaitu dibelakang rumah tengah duduk di sebuah pondok kecil.


Ditambah melihat wajah ayahnya penuh luka dan darah membuatnya jadi menyesal tidak mencegah ayahnya dari awal.


"Ayah cuma kepanasan nak, hari ini sangat panas sekali."


Jawaban sang ayah tidak memuaskan Bima malahan terdengar absurd ditelinga anaknya.


Chop! chop! chop!


Pukul 01.30 dini hari.


Bima terbangun dari tidurnya karena mendengar suara seseorang sedang memotong sesuatu. Suaranya semakin jelas saat dirinya mulai menguap.


Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan berinisiatif untuk mengecek sumber suara yang menurutnya terdengar dari arah dapur, tak salah lagi.

__ADS_1


Karena terburu-buru dan penasaran Bima lupa untuk memencet tombol saklar hingga dirinya langsung masuk ke dapur.


"Hmm."


"Ayah, apa yang sedang ayah lakukan?" tanyanya dengan keringat dingin setelah mencium bau anyir, sembari mundur perlahan menuju ke arah saklar.


Klek!


Bukan terkejut lagi Bima tertegun hingga mematung di tempat melihat ayahnya sedang menguliti dirinya sendiri. Bahkan parahnya lagi memotong-motong kulit yang terkelupas tersebut.


"Kamu terlalu dini untuk bangun nak, besok bukannya kamu harus sekolah?" jawab pak Nabe sambil mengelap keringatnya dengan telapak tangan penuh darah.


Terdengar suara langkah kaki menuju ke dapur rupanya berasal dari langkah kaki Nia yang terbangun di malam hari lalu pergi menuju kemari.


Sesampainya disana ia sangat terkejut sampai pingsan terhadap apa yang dilihatnya saat itu juga, melihat darah pada lantai, wastafel, dan tangan ayahnya.


Bima langsung menangkap adiknya dan pada saat ayahnya mendekat dirinya berucap penuh emosi meminta agar ayahnya menjauh.


Esok harinya Bima menelpon pamannya untuk membantu membawa pak Nabe ke rumah sakit, lebih tepatnya untuk diobati secara fisik maupun mental.


Mendapati luka jahitan pada tangannya setelah melalui operasi pak Nabe merasa tenang-tenang saja seperti halnya kemarin malam dia tidak berbuat sesuatu, bahkan hal gila menurut pendapat kerabatnya.


Hari-hari berlalu.


Bagian dahi pak Nabe pun dipenuhi oleh bentolan lumayan besar dengan jumlah lebih dari hitungan jari, dan dipenuhi nanah yang terlihat menjijikkan bagi perawat maupun seseorang yang melihatnya.


Wajahnya berubah 180° dan sangat berbeda dengan awal sebelum dia mengalami hal aneh seperti ini. Psikiater menjelaskan kepada Bima bahwa ayahnya telah mengalami gangguan obsesi kepada suatu hal dan itu adalah rasa sakit.


Psikiater itu menegaskan kembali jika saja pak Nabe tidak merasakan rasa sakit dalam satu hari maka dipastikan akan ada hal buruk yang akan terjadi.


Bima tidak terlalu percaya pada omongan psikiater itu malahan menganggap hal tersebut adalah masalah sepele.


Satu bulan berlalu.


Kondisi pak Nabe semakin parah hingga membuat sanak saudaranya dan kedua anaknya khawatir. Pasalnya pak Nabe sekarang ini hanya memiliki setengah kaki dari kedua kakinya.


Dikabarkan obsesinya pada rasa sakit semakin menggila sampai berbuat nekat, saat ada celah dirinya mendapatkan kesempatan untuk lari dari kurungan.


Dirinya menuju ke lantai tiga rumah sakit dan loncat dari sana, bahkan putrinya secara kebetulan melihat ayahnya jatuh dari ketinggian dengan mendaratkan kedua kaki.


Hingga dokter spesialis memutuskan untuk mengamputasi setengah kedua kaki pak Nabe.


Takut terjadi hal buruk pada ayahnya Bima terpaksa mencetuskan ide pada seluruh kerabat keluarga ayahnya maupun ibunya dikala mereka semua sedang berada di ruang tamu.

__ADS_1


Yaitu sebuah ide untuk mengurung diri pak Nabe di kamarnya dengan kedua tangan diikat.


Mereka pun membahas lebih lanjut hal tersebut hingga setengah jam lamanya.


Keputusan final lalu didapat melalui hasil mufakat, akhirnya semuanya setuju dengan usulan Bima. Aturannya cukup sederhana pak Nabe akan makan dan minum yang cukup setiap harinya dan akan ada seseorang yang mengantarnya secara bergilir.


Sebisa mungkin menyuapinya, karena tangan pak Nabe dan setengah kakinya akan diikat serta seluruh tubuh diselimuti dengan kain hangat.


Ada juga yang bertugas memandikan pak Nabe dengan alasan logis mencegah hal tidak diinginkan bisa saja terjadi. Serta memantau tindakan pak Nabe agar mampu melewati masa sulitnya, guna menekan obsesi dirinya pada rasa sakit.


Berharap agar obsesi pak Nabe sepenuhnya menghilang bila perlu berkurang secara signifikan.


Satu Minggu kemudian.


Pak Nabe kini sudah berbicara lancar dengan seluruh kerabatnya maupun anaknya.


"Akhirnya perjuangan kita selama ini tidak sia-sia ya, ada buah yang kita petik dari hasil kerja keras dan kesabaran!" ucap kakak tertua dari keluarga pak Nabe.


"Benar sekali, semuanya ada proses untuk mencapai tujuan," di sahut oleh sanak saudara dari mendiang istri pak Nabe.


Hari ini giliran Bima mengawasi ayahnya sambil menyuapinya makan siang, bahkan ayahnya meminta tambah saat sepiring nasi dan lauk sehat telah dihabiskannya.


Tentu saja Bima senang saat mendengar hal itu dari ayahnya ia pun langsung pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan lauk-pauk.


Sampai tambah makan yang ketiga kalinya kini pak Nabe merasa cukup dan mengatakan hal itu pada anaknya.


Menjelang sore hari dimana hanya ada beberapa sanak saudara dirumah kediaman pak Nabe dan anaknya, Bima masuk kedalam kamar ayahnya yang sekarang ini sudah di dekor ulang.


Hanya ada ranjang dan nakas berisi obat dari rumah sakit.


Melihat ayahnya yang sedang tertidur pulas dirinya langsung mendekat dan menyentuhnya, tak lama bulir air mata mengalir di pelupuk matanya tanpa ia sadari.


Merasa iba saat melihat bekas tali pada pergelangan tangan ayahnya Bima berinisiatif untuk melonggarkan tali pada ikatan ayahnya tersebut.


Klep!


Pintu terkunci dari luar setelah Bima meninggalkan kamar ayahnya, namun tidak disangka pak Nabe langsung membuka matanya.


Keesokan harinya pak Nabe ditemukan dalam keadaan meninggal dan dari hasil keterangan visum mengatakan jika beliau memaksakan tubuh bagian belakangnya dari kepala hingga bagian perut, terkelupas pada dinding rumahnya.


Sehingga keadaan beliau ditemukan dalam kondisi tubuh bagian belakang yang terkikis parah dan penuh darah hingga terlihat tulang rusuk, karena terlalu lama bergesekan pada dinding.


Di duga beliau melakukannya selama berjam-jam tanpa henti hanya sekedar untuk lepas dari kain yang menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Dan demi menuruti obsesi dirinya yang sudah mencapai puncaknya terhadap rasa sakit


__ADS_2