Horror Disturbing

Horror Disturbing
Pembunuh Berantai Part 2


__ADS_3

Suara langkah kaki seseorang mendekati kamar tempat mereka berdua bersembunyi dibawah tempat tidur.


Seseorang itu masih terlihat berdiri disana dan Hani berusaha untuk menahan nafasnya agar tidak terlalu berlebihan ia takut jika suaranya dapat didengar.


Sempat dirinya dibuat hampir berteriak lantaran serangga kecil melintas didekatnya yang untungnya Horison dengan sigap menutup mulut Hani.


Serangga barusan kemudian mendekati orang itu tak disangka dia menundukkan badannya untuk menangkap hewan kecil merayap tak jauh dari tempatnya tersebut.


Grep.


Tangan kanannya replek menangkap serangga kecil itu dalam hitungan detik momen tersebut pun membuat jantung Hani terpacu lantaran khawatir jika saja orang itu mengecek bagian bawah tempat tidur.


Kres... kres...


Keringat dingin bercucuran saat suara tersebut Hani bayangkan suara kunyah seseorang memakan serangga yang ditangkapnya barusan.


Brak!


Hening tidak ada suara, pintu kamar akhirnya ditutup oleh orang itu kemudian keluar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar dalam keadaan gelap gulita. Tengah bersembunyi dari orang tidak diketahui asal-usulnya yang dirasa berbahaya.


"Ini aneh, ponselku tidak memiliki sinyal sama sekali setelah aku gunakan berbagai cara!" gumam Horison dengan suara sekecil mungkin, tapi Hani masih mendengarnya jelas.


Ponsel yang sudah dalam mode senyap dan kecerahan nol persen Hani atur sedemikian rupa untuk antisipasi.


Horison lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar tempatnya bersembunyi mengatakan kepada Hani jika keadaan akan baik-baik saja, saat dia mulai bernegosiasi dengan si pembunuh.


Yah. Horison langsung berpendapat bahwa orang itu adalah si pembunuh keluarga konglomerat ini, yang menurutnya telah melakukan kejahatan barusan.


Hani masih belum berbicara lagi ia hanya mengingat kembali suara seorang polisi di lantai bawah terdengar seperti halnya dicekik oleh seseorang, sebelum lampu dikediaman ini mati total.


Membuat dirinya maupun Horison dalam keadaan menyulitkan dan kekhawatiran akibat terjadi dua peristiwa dalam satu waktu yang sama.


Samar-samar melihat pandangan didepannya Hani sempat menahan kaki Horison agar dirinya tidak pergi meninggalkannya sendirian dalam gelap gulita tak diketahui kapan berakhirnya.


Sayangnya Horison memaksakan diri untuk tetap pergi dia sempat berjongkok untuk melepaskan genggaman dari Hani.


Krett...

__ADS_1


Kini Horison pergi meninggalkan Hani sendirian didalam kamar ini Hani berharap dia dapat menemukan tombol stop kontak untuk dapat menyalakan lampu kembali.


Beberapa saat, dan Hani mengecek jam pada ponselnya. Mengartikan jika Horison belum kembali selama sepuluh menit dan tidak ada kabar sama sekali darinya lagi, setelah kepergiannya sebelumnya.


Hani dibuat cemas lantaran nafasnya terasa sesak dalam keadaan gelap seperti sekarang ini, dirinya bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk dapat keluar dari rumah ini.


Perasaan delima pun menghantui dirinya memilih antara dua pilihan nekat atau menunggu bala bantuan datang.


Hanya saja jika harus menunggu entah sampai kapan hal yang dialaminya akan berakhir maka Hani menguatkan tekad dan keberaniannya untuk berusaha kabur sembari mencari rekan barunya.


"Aku harus berusaha sendiri untuk lari dari tempat ini, aneh sekali jika sebelumnya seseorang terbunuh. Bukannya dua polisi lainnya yang berada tak jauh darinya akan bergerak meringkus orang itu?" ucap Hani dalam hati berusaha untuk memberanikan dirinya bergerak dalam kegelapan sekaligus menghilangkan rasa kekuatiran dalam dirinya.


Ia sempat menangkap sebuah kejanggalan dimana suara orang tercekik sebelumnya meninggalkan berbagai pertanyaan di kepalanya yang bermunculan.


Namun Hani memutuskan untuk mengungkapnya secara perlahan-lahan.


Keluar dari kamar nyatanya tidak semulus yang ia harapkan Hani mengira bahwa akan ada cahaya penerangan dari luar untuk membantunya menemukan pintu keluar, tapi sekarang ini keadaan di sekitarannya sangat gelap sekali.


Seolah-olah dirinya berada dalam satu ruangan gelap dan terkunci maupun sendirian didalamnya. Hal ini menurutnya sangat menyiksa.


"Hihihi..."


Ia langsung berlari sembarangan mencari tempat persembunyian bila perlu keluar dari tempat ini dengan cara apapun segera, dikarenakan perasaan mulai tidak enak.


Napasnya memburu disaat dirinya menabrak sesuatu didepannya hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.


Sementara saat Hani menemukan sebuah tongkat baseball dan menekan tombol on pada ponsel. Dengan cepat, ia bergulir mencari flash kemudian mengarahkannya pada arah perempuan yang mengejarnya.


"Aakkkk!!!"


Perempuan itu teriak begitu nyaring sementara Hani menahannya, meksipun itu sangat menyakitkan bagi kedua telinganya. Ia paham bahwa wanita bermulut penuh darah itu yang tak lain adalah arwah jahat merasa kesakitan saat terkena sorot cahaya.


Saat Hani memberanikan diri bahkan mulai mendekati arwah itu dan berniat untuk memukulnya.


Wus...


Arwah itu menghilang sembari meninggalkan bekas noda darah kental pada lantai.

__ADS_1


Klek!


"Tidak menyala, apa saat ini sedang mati lampu? Tapi... keadaan di luar sepertinya baik-baik saja."


Merasa dirinya seperti sedang diawasi oleh banyaknya seseorang Hani kemudian melanjutkan langkahnya dengan buluk kuduk merinding dan berusaha mencari pintu keluar.


Hani kemudian dihantui oleh tangisan anak kecil lebih dari satu secara acak, lalu sekelebat bayangan melintas cepat didepannya tak disangka-sangka.


Luasnya rumah ini membuat Hani kesulitan untuk mencari tempat keluar yang menurutnya sangat aneh mengetahui dirinya berada di tempat berbeda semenjak ia menyalakan lampu flash ponselnya.


Harusnya posisi Hani tidak terlalu jauh dari pintu depan rumah ini mengingat dirinya sebelumnya hanya menaiki lantai atas saja, itupun mengecek kamar tempat ditemukannya korban seorang anak kecil terbunuh.


Sebuah catatan ia temukan pada nakas saat dirinya mencari senter saat mendapati daya ponselnya mulai menurun secara drastis.


Hani kemudian membaca catatan tersebut sembari menyanggah kan ponselnya secara miring menghadap pintu kamar tempatnya sekarang ini.


Berisi bahwa keluarga ini melakukan perjanjian dengan arwah jahat yang meminta tumbal nyawa setiap tahunnya.


Sayangnya saat investasi mereka mulai merosot tiga tahun ini mereka tidak memberikan tumbal kepada arwah jahat berwujud seorang wanita menyeramkan.


Hingga pada malam hari arwah itu mulai menyerang mereka satu persatu dalam gelapnya malam dan menjadikan jiwa mereka sebagai arwah penasaran.


"Tunggu, ada yang aneh. Lalu siapa yang menulis catatan ini jika mereka semua terbunuh?"


"Jadi... pembunuh berantai yang disebut polisi sebagai pembunuh keluarga di kediaman ini adalah arwah jahat itu..."


Ruangan kamar tersebut tiba-tiba bergemuruh lalu terasa terguncang mengakibatkan ponsel yang sebelumnya menyoroti arah pintu kini entah kenapa mati saat terjatuh.


Hani berusaha menyalahkan senter sayangnya dalam kondisi tidak menyala membuatnya semakin panik.


Grep!


"Eghh..."


Satu tangan mencekik leher Hani dalam kegelapan membawanya ke atas hingga melayang dan semakin kuat cengkeraman tangannya.


Hani berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari cengkraman kuat yang terasa mulai membunuh dirinya.

__ADS_1


Jleb!


Banyak serangkaian gangguan yang dialaminya di rumah ini hingga Hani melihat jam pada ponselnya dirinya dibuat


__ADS_2