
Hani berniat menyelesaikan tugasnya setelah pulang dari sekolah untuk yang terakhir kalinya yaitu mengerjakan PR mata pelajaran matematika.
Setidaknya kewajibannya tersebut tidak ia abaikan begitu saja saat tujuan utamanya menyamar sebagai murid telah selesai, mengingat dulu ketika dirinya masih sekolah ia adalah anak yang rajin. Hingga sampai dia lulus sekolah menengah atas belum pernah mengabaikan PR sama sekali semasa sekolahnya.
Baginya hal itu adalah suatu kesenangan tersendiri agar dirinya menjadi orang yang disiplin dan rajin, begitulah pendapat Hani tentang dirinya.
"Selesai, aku akan memberikan PR ini kepada orang suruhan Stefan yang baru."
Masih mengenakan seragam sekolah Hani lalu merebahkan tubuhnya pada sofa setelah memberikan buku tulisnya kepada seorang bodyguard, dikarenakan wali barunya diketahui sedang sibuk menangani urusan penukaran murid.
"Non, makanannya sudah siap. Mari makan siang agar non bisa kembali beraktivitas dengan baik!" ucap seorang pembantu kepada Hani dengan sopan.
Hani kemudian makan siang yang memang di jam istirahat kedua dirinya tidak sempat mengisi perutnya lantaran mengurusi iblis dalang dibalik murid-murid kesurupan.
Usai makan secukupnya ia bergegas untuk mandi tanpa tidur siang setelahnya, berinisiatif untuk menyelesaikan bahan berita tentang "Sekolah yang dirumorkan terkena kutukan" sampai selesai.
Drrtttt...
Di tengah melakukan pekerjaannya Hani mendapati panggilan telepon dari seseorang hanya saja nomor yang tertera tersebut seingatnya tidak pernah tersimpan pada kontak ponselnya.
"Apa kita bisa bertemu, aku sangat menantikan dirimu. Ada sebuah berita menarik yang harus kamu ulas, Hani!"
"Eh, tapi kamu siapa? Dari mana kamu tahu nomor ini?"
"Salah satu bodyguardmu sengaja memberikannya kepadaku, katanya siapa tahu saja aku bisa membantu. Biar aku perkenalkan, aku adalah seorang detektif amatir dan aku senang menemukan misteri-misteri di kota ini. Sudah lima misteri yang telah aku temui, namun sampai sekarang aki belum bisa menjelaskannya dengan logika!"
Hani tertarik pada pria yang menelponnya tersebut hingga memutuskan untuk bertemu dengannya pada sebuah tempat pertemuan.
Menurutnya jika bekerjasama dengannya ia akan cepat mendapati sebuah bahan berita yang dibutuhkan membuatnya dapat kembali pulang dengan cepat.
Hani terlihat berpikir seperti orang yang sedang dibuat penasaran dan kebingungan, setelah mematikan sambungan telepon barusan.
Lantas apa yang membuatnya berpikir demikian?
__ADS_1
Pukul 15.23 Hani bertemu dengan pria yang menyebut dirinya sendiri adalah seorang detektif amatir.
Kini mereka bertemu disebuah kafe berada di persimpangan jalan bernama Happy Cafe. Setelah saling sapa keduanya pun duduk pada set tempat duduk disana kemudian berkenalan sebelum lebih dekat lagi, berbasa-basi.
"Sebelum kita membahas soal dirimu yang bisa membantuku memudahkan mencari bahan berita, aku mau tanya, apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Hani disela-sela menunggu pesanannya kepada Horison seorang detektif.
"Bagaimana ya aku mengatakannya, ehem sebenarnya diriku ingin bekerjasama dengan perusahaan tempat dirimu bekerja, maksudku melalui dirimu agar diriku dapat diterima setelah menunjukkan kepiawaian diriku mencari bahan berita dalam pekerjaanku sebagai detektif!"
Hani diam sejenak kemudian menghela nafas dan hendak membuka mulutnya untuk berbicara.
"Baik. Saya akan menilai tuan saat melakukan pekerjaan sebagai detektif, niscaya saya juga akan Merekomendasikan tuan kepada bos saya."
Horison lalu membicarakan tentang kasus yang akhir-akhir ini sempat membuat masyarakat resah, namun belum tersebar secara luas.
Kasus itu diduga berhubungan dengan seorang pembunuh berantai dianggap telah merencanakan perbuatannya sebelum melakukan kejahatan secara keji, membunuh seluruh keluarga konglomerat dan menjadikan mereka sebagai boneka.
"Kenapa mereka dijadikan boneka, apa maksudnya?" tanya Hani masih bingung.
"Dari hasil otopsi mayat mereka ditemukan dalam keadaan mengerikan dengan tubuh di sayat pada bagian perut sampai leher, parahnya lagi organ tubuh mereka diketahui hilang dan digantikan dengan baju, uang, perhiasan, serta harta benda lainnya yang tergolong bernilai ratusan juta!"
Ia kemudian mengatakan deduksi nya kepada Horison.
"Si pelaku mungkin memiliki hubungan dengan korban bisa itu sahabat, tetangga, atau mungkin kerabatnya!" ucap Hani.
"Bisa saja, aku juga sempat berpikir seperti itu."
Lama berbincang mereka akhirnya menuju tempat kejadian pembunuhan terhadap keluarga konglomerat dengan jumlah korban sepuluh lebih.
Sore hari pukul 17.34 mereka berdua sampai disana.
Horison memiliki ijin khusus yang memungkinkan dirinya berada di tempat tersebut.
Sebuah rumah besar lumayan jauh dari gerbang masuk utama berdiri megah bak istana namun didepan rumah ini sudah dipasangi garis polisi.
__ADS_1
Selain membawa buku catatan untuk mencatat hal penting Hani juga membawa sebuah kamera berguna untuk memotret rumah megah ini sebelum ia mendekatinya.
Saat memasuki rumah tersebut mereka berdua bertemu dengan seorang polisi sedang melakukan penyelidikan berjumlah tiga orang yang dilihat oleh Hani.
Hani kemudian bertanya kepada salah seorang polisi untuk mendapatkan informasi terkini mengenai penyelidikan sembari memperkenalkan dirinya yang bekerja di sebuah Perusahaan besar.
Hal itu ia lakukan agar polisi tersebut merasa segan kepadanya maupun tidak akan mempersulit proses pencarian bahan berita mengenai kasus pembunuhan.
Bahkan Hani sempat menunjukkan identitasnya untuk memperkuat perkataannya barusan, lalu polisi menjelaskan kronologi sementara yang mereka dapatkan dari hasil investigasi dan penyelidikan dari pagi bersama seorang penyidik.
"Lihat ini. Aku menemukan suatu petunjuk penting sepertinya!" ujar Hani mendapati sebuah botol berisi cairan merah didalamnya. Berada di pojok perapian tertutupi oleh kayu.
Horison dengan nekatnya membuka botol itu tercium bau menyengat membuatnya menunjukkan ekspresi mual.
"Ini darah, anda mendapatkan salah satu petunjuk penting!" ucap Horison sembari mengambil masker pada saku bajunya.
Mereka kemudian menyisir lantai atas dimana korban anak kecil ditemukan didalam kamarnya dalam keadaan mulut terjahit pertama kali pihak berwajib melakukan penyelidikan.
Namun disaat mereka berdua sibuk mencari petunjuk terdengar suara polisi dari bawah seperti orang tercekik.
"Ekkk!!"
Membuat Hani sedikit panik dan dengan hati-hati melihat keadaan dibawah, apa yang terjadi sebenarnya. Sementara Horison menyarankan agar Hani tidak melihatnya.
Langit yang sudah gelap membuat rumah ini semakin gelap saat lampu dimatikan secara keseluruhan begitupun dengan jaringan pada ponsel yang tak ada sinyal sama sekali.
"Ayo, ayo... kenapa ngga ada sinyal sih!" ucap Hani dengan suara kecil bersembunyi dibawah tempat tidur bersama dengan Horison saat mendengar suara langkah kaki.
"Matikan dulu ponselmu, dia menuju kemari!"
Rumah ini sebenarnya lumayan jauh dari tempat ramai penduduk hanya ada dua rumah sebagai tetangga di sekitar sini.
Semakin Hani pikirkan ia malah jadi kesal sendiri pada dirinya yang selalu gegabah dalam melakukan tindakan.
__ADS_1
Sialnya, kali ini ia dalam posisi membahayakan nyawanya sendiri lagi.