
"Kalian ternyata menyembunyikan harta berharga ya, bukannya kalian terlalu serakah jika memakannya berdua saja. Bagaimana jika kita berbagi. Kami bertiga tidak akan memberitahukannya kepada yang lain!" ucap pria terlihat seumuran Bradley mengusulkan merahasiakan makanan berharga itu, namun dirinya dan dua temannya yang lain ikut kebagian jatah.
"Apa yang kau sebut harta, ini hanyalah kerajinan dari tanah liat yang sengaja aku bawa!" sahut Bradley berbohong.
"Hehe, memangnya aku akan tertipu olehmu. Kami ini sudah mencurigai kalian dari awal!"
"Cih, ternyata benar dugaanku. Kalian memang penguntit. Tapi apa kalian bisa dipercaya, lalu harus dengan persetujuan sahabatku?"
Pria itu terdiam lalu membuka mulutnya dia berusaha untuk menyakinkan Bradley maupun Agung.
Yang pada akhirnya mereka bertiga telah dipercaya itupun dari sumpah salah satu dari ketiganya, dia bilang dirinya akan mati mengenaskan jika memberitahukan hal ini kepada pekerja lain.
Meraka berlima lalu menyusun jadwal dimana memakan dodol ini secara bergantian agar tidak dicurigai.
Mengusulkan bahwa setiap mereka bertiga menuju ke tempat persembunyian ini Bradley maupun Agung akan bertukar dengan mereka. Beberapa hari kedepan.
Untuk memastikan kepercayaan mereka.
Enam hari berlalu. Di dalam tempat ini sudah seperti medan perang dengan seorang prajurit yang gugur. Bedanya, kini para pekerja tambang yang meninggal dunia lantaran kelaparan maupun kehausan.
Lima orang diketahui telah meninggal secara alami tanpa dibunuh ataupun diakibatkan kekerasan dari pekerja lain.
Situasi bahkan diperparah saat diketahui persediaan air tinggal dua botol saja.
Salah satu regu lain menyarankan hal gila dan menjijikkan agar semua orang dapat mendapatkan air.
Yang mana menjadi perdebatan diantara mereka hingga beberapa orang terluka. Tapi pada akhirnya, usulan itu diberlakukan dan disetujui oleh regu lain.
Kecuali dua regu, yang salah satunya adalah regu berjumlah lima orang. Berisikan Agung sebagai ketua, Bradley penasehat, Lusa penarik perhatian para pekerja, Bima pencari informasi, dan Alvin mewaspadai orang lain.
Satu regu lainnya menolak usulan itu karena alasan masing-masing sebenarnya mereka adalah regu baru, yang terbentuk dari campuran regu lain.
Kini mereka berlima memikirkan cara bagaimana mengatasi krisis cairan bagi tubuh yang sangat penting, yaitu air.
"Kita telusuri area rawan itu, disana seperti belum dimasuki oleh banyak orang, kalian tahu. Tanah kedalaman yang belum di keruk dengan baik memiliki kandungan air didalamnya, kita bisa memanfaatkan itu!" ucap Bradley berpendapat.
"Ide yang cemerlang, aku setuju," sahut Bima nampak antusias.
__ADS_1
"Hmm, aku setuju. Hanya saja resikonya terlalu besar, salah langkah bisa membuat kita berakhir tertimbun!" ujar Lusa terlihat serius menatap keempat rekannya.
Mereka semua sedang duduk dan berkumpul bersama membentuk lingkaran.
"Benar, resikonya terlalu besar. Kita ini berjuang sekeras ini demi hidup bukan?" ucap Alvin bergidik ngeri sepertinya dia membayangkan hal negatif yang terjadi padanya.
Sementara Agung sebagai ketua masih diam mencerna perkataan teman maupun rekannya barusan.
"Oke. Kita akan menuju ke tempat itu!" ucap Agung sembari beranjak wajahnya terlihat serius.
"Hei... bukannya berisiko jika kita pergi kesana?" tolak halus Alvin mewakili satu temannya, Bima yang kini memilih untuk tidak pergi kesana.
"Kalian mau mati! Tanpa air tubuh manusia akan rentan terhadap hal negatif lainnya. Jika kalian berlagak seperti bayi, lebih baik jangan berharap untuk hidup!" timpal Bradley agak kesal perkataannya membuat yang lain tertunduk dengan seribu bahasa.
"Lagian jika kita berhati-hati bisa meminimalkan resiko itu, dan kita akan aman-aman saja," imbuhnya.
Setuju dengan perkataan Bradley karena tak ada pilihan lainnya mereka berlima bergegas menuju ke tempat yang belum selesai dijadikan perluasan itu.
Sebelum dicurigai oleh pekerja lain.
Hal buruk menimpa mereka lantaran dua orang tertimbun tanah setelah mendapatkan air yang cukup untuk beberapa hari kedepan.
Sementara Bima sempat bernafas setelah diselamatkan namun beberapa menit kemudian nyawa tidak tertolong.
Rupanya kepalanya mengalami pendarahan yang sangat parah.
Tinggal Agung, Bradley, dan Lusa yang masih tersisa dari regu mereka.
"Aku akan memberitahukan semuanya kepada orang-orang, jika dirimu membunuh!" ancam Lusa sembari menunjuk Bradley, dia marah karena kedua teman dekatnya tewas hanya karena mencari tiga botol air.
Bradley terlihat tenang-tenang saja lalu dia berjongkok seolah mengambil sesuatu, aksinya tertutupi dengan berpura-pura membenarkan tali sepatu.
"Terserah. Bukannya sudah ku bilang untuk berhati-hati, tapi ya... mereka bertindak ceroboh. Jadi hal ini adalah nasib mereka, takdir!" sahut Bradley tanpa ekspresi.
"Kau! Kau bilang takdir, ini semua karenamu, matilah!!" ucap Lusa sembari mengambil cutter dari sakunya, mendekati Bradley dan hendak membunuhnya.
Tapi, Bradley berhasil menghindar sembari melakukan aksi balasan hingga membuat Lusa tewas di tempat. Sebelumnya, Bradley memukul kepalanya dengan batu sangat keras.
__ADS_1
"Hahaha akhirnya, mereka mati. Hei... tinggal dirimu yang harus aku tanyai, kenapa dirimu tidak mencegahku saat hendak memukul Lusa dengan batu?" tanya Bradley menoleh ke arah sahabatnya yang sedang berdiri sementara dirinya berdiri dengan dua lutut, dekat jasad Lusa.
Aneh, karena dia curiga pada sahabatnya yang seolah membiarkannya melakukan aksi pembunuhan. Bahkan dirinya memahami jika Bima maupun Alvin tewas lantaran mengikuti instruksi dari Agung sebelumnya, saat mereka berdua menunggu tetesan air pada bagian rawan.
Agung mengakui perbuatannya, dirinya mengakui telah membuat Bima maupun Alvin tewas serta sengaja tidak mencegah aksi nekat temannya.
Dia bahkan berujar bahwa kejadian ini akan terjadi sebelum menimpa para pekerja yang bertugas di sektor ini.
Disini terungkap jika Agung adalah anak si pemilik penambangan ini hanya saja, dia adalah anak haram.
Menyebabkan dirinya selalu disakiti oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
Sampai-sampai dia berencana akan membunuh kedua orang tuanya, namun hal itu tidak terlaksana.
Hingga pada suatu kesempatan dia sengaja melakukan rencana jahatnya, membuat para pekerja terkurung di dalam tempat ini.
Agar ayahnya rugi besar serta di cap sebagai ayah yang buruk, karena Agung sudah meninggal jejak buruk bagi ayahnya.
Dia mengatakan dengan tegas bahwa dirinya rela terkubur dan mati di tempat ini, karena ada yang menemaninya.
Bradley yang menyadari hal itu dari mulut sahabatnya sangat tercengang tak bisa berkata-kata lagi. Setahunya Agung adalah anak yang cerdas, multitalenta, dan banyak keunggulan lain pada dirinya.
Hanya saja ada pengalaman pahit dalam hidupnya selama ini dan dia terus merahasiakannya sampai di bongkar kepada temannya disaat seperti ini.
"Aku mengerti, kau adalah korban, aku tidak bisa memberimu nasehat, maaf. Tapi rencana mu balas dendam ini kurang memuaskan, kau tahu Gung?"
"Huh? Kau bilang..."
"Harusnya kau membuat mereka sangat menderita sampai-sampai hidup segan mati tak mau, begitulah mereka harusnya."
"Kau... kau... ternyata sudah gila..."
Perkataan dan sorot mata Bradley sukses membuat Agung ketakutan seraya mundur perlahan kebelakang hingga dirinya tak sengaja menginjak batu lancip, membuatnya kesakitan dan jatuh.
Lalu di saat Bradley hendak membantunya dengan uluran tangan...
"Mari kita lewati kematian ini dengan menyenangkan sobat..." ucap Bradley dengan senyum ramah sembari mengulurkan satu tangannya guna membantu sahabatnya berdiri.
__ADS_1
Jleb!