
Suara gaduh pistol yang telah digunakan kembali terdengar oleh Hani kini membuatnya khawatir dan gelisah, apalagi Stefan tidak kunjung kembali.
"Kemana sih orang itu, masa disaat-saat seperti ini dia malah meninggalkan aku sendirian... ku mohon kembali Stefan..." gumam Hani sembari bersiap untuk antisipasi diri dengan bersembunyi lebih awal.
Kembali pada Karl dan Robin yang sebelumnya berselisih hingga saling menodongkan senjata.
Tak disangka Robin kembali membunuh seseorang untuk kedua kalinya lantaran Karl tewas setelah lehernya tertembak.
"Dia terlalu meremehkan mantan militer sepertiku, aku ini pensiun atas kemauan diriku sendiri sebenarnya!" ungkap Robin sesaat setelah Karl tergeletak tak bernyawa kemudian ia menutup mata Karl yang masih melotot.
Di satu sisi.
Jonathan kesal mengetahui rekannya tewas dihadapan mantan militer itu kini dirinya sedang berada di layar monitor mengantikan Karl yang sedang turun tangan.
Mengetahui Karl telah tiada dia langsung mengebrak meja.
"Sialan!! Ku bunuh dia dengan tanganku sendiri, mencari orang sebagai pengganti Karl memang banyak diluaran sana, tapi yang setia sepertinya sangat langkah. Akan menambah beban bagiku jika rekan-rekanku terus terbunuh. Tsk... kali ini ku gunakan mereka!" ucap Jonathan penuh kemarahan terhadap kematian Karl beserta pembunuhnya, terakhir ia memiliki rencana yaitu dengan melepaskan subjek ekperimen berbahaya.
Tak jauh dari kandang babi terdapat kadang besar berisikan orang-orang yang telah di transplantasi kan otaknya dengan hewan-hewan buas.
Di modifikasi sedemikian rupa dengan wujud beragam membuat siapa saja yang melihatnya dipastikan akan menjerit histeris dan mungkin saja mengira ini adalah mimpi buruk paling buruk.
Berbeda dengan Prof, Valen otak dari segala kegilaan ini serta orang yang telah menyarankan tindakan ilegal seperti ini adalah wujud dari penghapusan dosa.
Menurutnya cerminan para kriminal yang mempunyai dosa besar ataupun sedang dengan kesempatan mengurangi dosanya itu setelah dijadikan semacam ekperimen dari rasa sakit, tangis, dan sebagainya.
Gila memang, tapi itulah yang membuat Prof, Valen terus melanjutkan aksinya yang tanpa disadari dia menumpuk dosa besar setiap harinya dan seiring berjalannya waktu.
Kini ia tengah disibukkan dengan rancangan dari subjek eksperimennya manusia digabungkan dengan hewan.
Tak disangka Stefan muncul dari dalam dinding kemudian menghampirinya. Suara manusia yang ketakutan dan penuh harap terdengar, membuat Prof, Valen menengok kebelakang.
"K-kau!? Kenapa bisa memasuki ruangan ini?" tanyanya dengan ekspresi ketakutan jelas terpampang dari wajahnya. Seperti halnya melihat malaikat pencabut nyawa, bahkan menghentikan total kesibukan.
Menatap lekat Stefan dengan wajah masam kemudian mundur kebelakang.
Dor!
Tak!
"Ka-kau... bukan manusia!?" wajah yang sebelumnya ia buat ketakutan agar mengurangi penjagaan seseorang itu kini sungguhan ia tunjukan, dikarenakan saat pelatuk pistol ditekan dan peluru melesat tepat ke arah Stefan. Peluru itu tembus.
__ADS_1
Seketika Prof, Valen menjatuhkan pistol lantaran tangannya dibuat gemetaran serta dirinya yang terguncang.
"Ah... sepertinya aku harus bermain-main dengan dirimu terlebih dahulu, Pak tua!" ucap Stefan tatapan matanya mengintimidasi.
Shut..
Pistol yang tergeletak pun ia buat menghampirinya kemudian ia tangkap dan arahkan pada kaki Prof, Valen.
"Tu-tunggu, aku menyerah! Kamu sepertinya memang bukan orang sembarangan yang bisa aku lawan, bagaimana jika kita membuat kesepakatan. Aku akan jadi..."
Dor!
Dor!
"Ahh!!!"
"Sayang sekali, tanganku sangat licin saat memegang pistol ini. Anda kira saya tidak tahu maksud perkataan anda tertuju ke arah mana, hanya akal-akalan dan rencana busuk agar lolos dari situasi kan... hehehe tapi sayangnya aku takkan pernah melepaskan orang segila dirimu begitu saja. Jadi persiapan dirimu menjadi korban eksekusi!" tegas Stefan tanpa keraguan sedikitpun.
Prof, Valen bahkan dibuat berkeringat dingin serta mengompol dalam posisinya saat ini. Serta meringis kesakitan lantaran satu kakinya tertembak di bagian paling menyakitkan, lebih dari satu tembakan.
Beliau tak menyangka akan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa secepat ini, pikirnya.
Saat Stefan sedang memeriksa alat-alat yang digunakan Prof, Valen untuk memodifikasi subjeknya.
"Katakan, berapa banyak uang yang kamu mau anak muda?"
"Oi, masih berani melakukan tawar menawar denganku, apa kau tidak takut aku membunuhmu dengan cepat!" sahut Stefan seraya menoleh yang malah mengancam Prof, Valen dengan mata tajam sembari mendekatkan belati ke lidahnya.
"Bu-bukan itu maksud... huh...!? Tunggu dulu, aku sepertinya mengenalmu, kamu adalah..."
"Ingatanmu masih bagus ternyata, ya aku ini CEO yang dulu kau caci!"
Sebuah flashback dimana pertama kalinya Stefan diangkat menjadi CEO penerus dari ayahnya yang memutuskan untuk pensiun.
Hari melelahkan itu semakin melelahkan menurutnya lantaran ia mendapati perilaku buruk dari rekan Ayahnya, Prof, Valen.
Mengatakan bahwa Stefan tak layak menjadi seorang CEO penganti.
Banyak cibiran yang ia lontarkan kepada Stefan namun siapa sangka Stefan menganggapnya seperti suara burung berkicau.
Memilih untuk pergi meninggalkan rekan ayahnya begitu saja.
__ADS_1
Beberapa hari hingga satu bulan penuh ia seringkali mendapati banyak celaan dan gunjingan lantaran pada saat itu, dirinya masih belum layak menjadi seorang CEO seperti sekarang ini.
Rekan ayahnya pun ikut turut membuatnya kerepotan.
Sampai ayah Stefan wafat pada akhirnya rekan ayahnya itu tidak membantu sama sekali padahal posisinya ditekankan untuk mengurus perusahaan lebih lanjut bersama dengan anak mendiang.
Lalu Prof, Valen menghilang begitu saja dari lingkungan masyarakat.
"Ka-kamu... bukannya sudah tiada!? Jangan-jangan... kamu...?"
Jleb!
"Argh!!"
"Tidaklah penting, kau mengubah tawar menawar barusan dengan pertanyaan tidak berarti!" jawab Stefan sembari berjongkok dan mengambil belati tadi yang ia lempar pada telapak tangan Prof, Valen.
"Uggh...!'
"Jadi... aku boleh tawar menawar?"
"Kali ini aku ijinkan, katakan penawaran mu! Tapi jika membosankan aku akan menolak, dan bagian terburuknya menyiksamu tanpa ampun! Atau kau pilih tidak melakukan tawar menawar dan hukuman yang kau dapat akan ringan!"
"Aku pilih tidak melakukan tawar menawar!" langsung Prof, Valen katakan pilihannya.
"Yakin?"
"Ya saya sangat yakin."
"Kalau begitu selamat, anda mendapatkan penyiksaan sedikit demi sedikit heh...!"
"Ka-kamu mengelabui ku?"
Di saat bersamaan Gerry mendapatkan ancaman dari para hewan predator berwujud aneh antara manusia dan hewan.
Lebih menyulitkan lagi dan membuatnya lari terbirit-birit, dikarenakan hewan-hewan predator itu terdapat bom dan senjata api jarak jauh dengan menggunakan remote control yang membuatnya tunggang langgang.
Kakinya terkena jebakan tikus hingga darah segar keluar dari kakinya.
Sementara yang mengejarnya semakin mendekat.
Sedangkan senjata api yang dibawanya mendadak tak berfungsi sejak kedatangan hewan-hewan predator berwujud tak lazim dan aneh itu.
__ADS_1