Horror Disturbing

Horror Disturbing
Gangguan Dari Gadis Sekolah Part 2


__ADS_3

Bekas itu ternyata bukan sebuah kebohongan belaka, tapi terbukti sesuai apa yang dikatakannya.


Bekas itu lumayan dalam terdapat tiga bekas cakaran.


"Kamu mengatakan jika bukan kamu saja yang mengalami gangguan supranatural?" tanya Hani menganti topik pembahasan.


"Ya, bukan saya saja. Ada kelima teman saya yang mengalami hal serupa dengan saya, persis."


"Berarti pernah di ganggu oleh gadis sekolahan yang sama?" timpal salah satu bodyguard.


"Benar, mereka di ganggu oleh gadis sekolahan itu setiap malam, sama sepertiku."


"Apa boleh saya meminta alamat rumah teman-teman kamu guna menanyai mereka beberapa hal, aku akan mencatatnya!"


Usai Hani berbicara Dimas seakan terganggu pada permintaan Hani barusan dia sempat diam beberapa saat sembari melihat ke arah lain.


Melihatnya Hani langsung menatapnya tanpa berkedip sembari menunggu jawaban dari Dimas.


"...saya agak lupa pada alamat mereka. Maksud saya tidak semua alamat kediaman teman-teman saya ketahui, bahkan hanya sedikit informasi mengenai detail tempatnya saat mereka mengatakannya!" ucap Dimas dengan raut wajah gelisah dia bahkan tidak sanggup saat menatap Hani dikala dirinya berbicara.


Yang akhirnya salah satu bodyguard mengatakan kepada Dimas bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu berhubungan dengan hal yang dialaminya.


Serta bohong pada perkataannya "tidak mengetahui semua alamat rekannya" hal itu membuat Dimas terdiam.


"Sebenarnya dirimu menceritakan hal supranatural yang kamu alami guna mendapati sebuah uang tambahan bukan?!"


"Bagaimana bisa om mengetahuinya?"


"Saya masih muda, itu hanya sebuah keahlian semata."


Terdesak, Dimas akhirnya mengatakan dengan jujur semua hal yang disembunyikan olehnya.


Berawal dari pertama kali dirinya mengalami gangguan supranatural saat malam hari di saat dirinya melakukan sebuah operasi pada seorang gadis sekolah yang akan melahirkan.


Bersama dengan keenam temannya, hal itu dilakukanlah lantaran gadis sekolah itu memaksa agar dirinya cepat segera ditangani. Padahal kelima temannya maupun dirinya adalah mahasiswa yang magang.


Dimas mengakui, jika dirinya melakukan operasi ilegal itu karena terpaksa mengikuti temannya yang memaksa dirinya untuk ikut melakukan operasi pada gadis itu.


Dikarenakan teman magangnya ada tiga perempuan yang mengatakan bisa menangani gadis itu, yang pada akhirnya membuat Dimas mempercayainya.


Selesai, itulah pengakuan Dimas yang belum semuanya dia katakan menurut Hani lantaran dirinya tidak sanggup lagi. Kini terlihat bulir air mata di wajahnya.


Dikarenakan kondisi Dimas saat ini tidak stabil Hani pun pamit pergi setelah menenangkan kliennya sekaligus mendapati alamat kelima temannya.


Di perjalanan pulang Hani sempatkan berdiskusi dengan Bodyguardnya.

__ADS_1


Pukul 22.00 di kediaman Dimas.


Dirinya tidak bisa tidur sama sekali mendengar suara tangisan bayi cukup keras yang hanya didengar olehnya.


Di kamarnya dengan lampu yang sudah di matikan perasaan Dimas menjadi was-was.


Memilih untuk mengabaikan suara tangisan bayi itu Dimas meringkuk di ranjang tempat tidurnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut secara keseluruhan.


Merasa ada yang menyandarkan kepala pada bahunya iapun dibuat gemetaran dengan keringat dingin mulai terasa mengalir pada tubuhnya.


Tidak mampu untuk melihat siapa yang bersandar pada bahunya dan rasa takutnya yang semakin membuat kesadaran dirinya perlahan menghilang.


Akhirnya Dimas tak sadarkan diri setelah menahannya beberapa saat.


Keesokan harinya, Hani mendapati informasi mengejutkan dari rumah sakit tempat Dimas magang.


Yaitu ditemukannya jasad pasien dalam keadaan mengerikan kedua mata tertusuk jarum suntik sementara jasad lainnya dengan perut tersayat hingga organ dalamnya keluar.


Hal itu dialami oleh seorang gadis dan seorang pria paruh baya.


Pagi pukul 05.45 Hani dibuat terkejut mendengar informasi tersebut dari salah satu Bodyguardnya.


Di jam 09.00 pula di tengah Hani bekerja ia mendapati informasi mencengangkan tentang kelima teman magang Dimas yang diketahui meninggal dunia di kediaman mereka masing-masing.


Mereka meninggal seperti halnya menjadi korban pembunuhan dan jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.


Drrtttt...


"Hallo?"


"Nona, saya telah melakukan penyelidikan mendalam tentang kelima korban yang tewas mengenaskan itu, mereka adalah teman magang Dimas. Sementara Dimas sendiri diketahui selamat!"


"Baik, terimakasih untuk informasinya. Maaf, saya tutup panggilannya dikarenakan sedang sibuk!"


"Sama-sama nona, silahkan."


Stefan memasuki ruangan tempat kerja Hani, sebelumnya dia melewati para karyawannya yang sempat hormat padanya, meskipun mereka sedang disibukkan dengan pekerjaannya.


"Sebentar lagi jam istirahat, aku ada waktu luang. Jika kamu butuh bantuan aku akan membantumu!" ucap Stefan terdengar menyakinkan dirinya kini sedang bersandar pada dinding.


"Tidak. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."


"Ya... meskipun begitu pasti ada hal yang dapat membuat pekerjaanmu cepat selesai jika aku membantumu?" ucap Stefan lagi meyakinkan Hani yang masih fokus pada layar monitornya tanpa melihat ke arah Stefan saat bicara. Jika saja karyawan lain melihatnya Hani mungkin dibully.


"Aku serius, diriku juga terbantu dengan adanya para bodyguard yang bisa aku suruh-suruh. Jadi aku berterimakasih untuk itu padamu."

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi untuk bahan berita selanjutnya aku akan membantumu!"


Sepulang nya dari tempat bekerja Hani sempatkan waktu untuk mampir ke kediaman Dimas dengan diantar oleh seorang supir sekaligus bodyguard.


Sampai disana rupanya tengah ramai dipadati oleh warga pada halaman luar kediaman Dimas, tujuh mobil polisi pun terparkir disana.


Bahkan rumah Dimas dipasangi oleh garis polisi.


Karena dia ketahui terlibat dalam pembunuhan seorang gadis sekolah di sebuah rumah sakit swasta.


Serta melakukan operasi ilegal bersama dengan kelima temannya.


Hani kini dalam mode penyamarannya, memakai kacamata dan rambutnya diganti model lain, ponytail.


Melepas jazz yang dipakainya karena dirinya memakai kemeja putih, sekarang ini ia terlihat seperti seorang wartawan. Kemudian menanyai berbagai pertanyaan kepada seorang polisi.


Terungkap bahwa Dimas dan ketiga teman magang laki-lakinya adalah orang yang membuat gadis sekolah itu mengandung.


Kronologi sementara didapatkan oleh Hani mengenai mayat gadis sekolah itu yang di mutilasi dan dimasukkan kedalam toilet rumah sakit.


Hani lalu melihat Dimas keluar dengan kedua tangannya yang di borgol dan dikawal oleh beberapa polisi.


Dirinya mendapati banyak makian saat berjalan keluar hingga polisi berusaha menengahi masa.


Hanya saja ekspresinya membuat Hani terdiam dalam lamunan.


"Aku merasa jika Dimas tidak bersalah, dia hanya korban yang disalah artikan statusnya. Semoga saja pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini!" ucap Hani dalam hati.


"Pak, apa pelaku tersisa akan dikenakan pasal berlapis?" seorang wartawan menanyakannya kepada polisi yang sedang menjelaskan perihal kasus ini.


"Hukuman berlapis pastinya, lebih buruknya hukuman mati!"


Di malam hari pada sel khusus.


Dimas terus menyesali perbuatannya, dia tidak menangis hanya memegang kedua kelapanya dengan perasaan menyesal yang sangat dalam.


Tidak di sangka dalam gelap dan dinginnya sel itu dia berjumpa dengan seorang gadis tak asing baginya. Muncul secara tiba-tiba di depannya.


Mengenakan seragam sekolah dan dalam keadaan normal-normal saja.


"Ayu, maafkan aku... aku tidak bisa melindungimu... hiks... aku tidak bisa melindungi pacarku dari kejahatan teman-temanku sendiri. Dan diriku sekarang ini telah hancur, di tuduh sebagai pelaku..."


Gadis itu mendekati Dimas lalu berjongkok dan mengelusnya, kemudian membuat Dimas berdiri.


Disaat mereka berdua saling menatap gadis itu menyeka air mata kekasihnya lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Tak usah khawatir, kamu bisa ikut pergi bersamaku... dan kita akan bersama-sama selamanya," ucapnya mempererat pelukan dibalas oleh Dimas dengan lembut.


Keesokan harinya, Dimas ditemukan tak bernyawa didalam selnya dan itu sangat mengejutkan polisi mengira jika Dimas memilih jalur bunuh diri sebagai penebusan dosa.


__ADS_2