
"Jelas kamu yang salah, humph. Oh ya, sedikit lagi aku bisa keluar dari tempat ini kan, berapa kira-kira berita sesuai perjanjian yang harus aku tulis lagi?" tanya Hani bersemangat di pertengahan akhir ucapannya. Menatap Stefan dari samping yang tengah melihat koran, sembari menunggu jawaban darinya.
"Masih belum berkurang banyak, kamu hitung saja pengurangannya sendiri. Lagian hal itu bukan urusanku."
Usai bicara Stefan langsung beranjak dari sofa kemudian meninggalkan Hani yang nampak menganga.
Tak memikirkan Stefan Hani berinisiatif untuk mandi tanpa sarapan pagi, baginya sereal saja sudah cukup.
Selesai mandi, ia memoles wajahnya sedikit dengan riasan secukupnya dan berpakaian rapi. Kini Hani siap memulai harinya, apalagi hari ini adalah waktu mempublikasikan berita yang telah ia tulis semalam.
Tentang ikan-ikan berukuran besar yang terdampar di pantai, namun anehnya isi perut ikan itu berisi bayi manusia. Dan masih menjadi tanda tanya.
Hani menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan mengenai kejadian kemarin selagi dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
Hani tidak punya waktu selama dirinya masih di jam kerja, kecuali meminta ijin kepada atasannya secara langsung. Tapi Hani tidak berani.
Wajah Stefan di pagi hari tadi sungguh membuatnya tidak enak untuk bertemu dengannya.
Di jam delapan, Hani sukses mempublikasikan berita itu. Meskipun baru saja di publikasikan, tapi perolehan pembaca terus meningkat.
Dari nol dalam dua menit setelahnya menjadi sepuluh ribu seratus tiga puluh lima.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Hani yang sebelumnya tengah fokus menatap layar monitor.
Sekaligus membuatnya gelagapan, karena Hani mengunci pintu ruangan ini dari dalam. Hingga iapun beranjak dan bergegas menuju ke arah pintu.
"Ste... tuan!? Ada apa kemari?" ucap Hani berganti ekspresi dalam sekejap sembari menunjukkan senyuman manis.
"Ini tentang dirimu yang menyuruh seseorang untuk pergi kesana, pantai maupun laboratorium guna mendapati informasi terbaru mengenai kejadian itu, apa aku benar?" ucap Stefan setelah dirinya masuk lalu duduk menyilang di sofa yang berada ruangan tempat kerja Hani.
"... itu benar sih, cuma kenapa ya... kamu selalu tahu!?" ucap Hani menekan kata di akhir sembari mendekatkan wajahnya kepada Stefan dengan raut mengintimidasi. Serta ada raut wajah bingung.
__ADS_1
"Aku memang selalu tahu, tapi tidak usah kamu pikirkan. Karena kita berdua hari ini akan menyelidikinya, bagaimana?"
Tentu saja Hani sangat menginginkan hal itu sampai-sampai ia bersorak ria dalam hati terhadap ucapan Stefan barusan.
Hani malu untuk bersorak ria di hadapan Stefan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan sekali, itulah mengapa ia bersikap kebalikannya saat ini.
"Bukan berarti aku mau ya, cuma aku terima kesempatan ini. Aku menganggapnya sebagai cuti sehari!"
"Terserah kamu mau menganggap apa, yang penting hari ini kita pergi ke tempat dimana informasi mengenai kejadian itu berkembang."
Keduanya kini dalam perjalanan menuju laboratorium sebelum menuju ke pantai tempat ikan-ikan terdampar itu berada.
Niatnya ingin mencari informasi berkaitan dengan kejadian aneh kemarin. Padahal di kota ini masih banyak kejadian aneh yang belum terekspos oleh publik.
Stefan yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga mereka berdua sampai disebuah laboratorium.
Mengingatkan Hani pada wabah laba-laba yang sempat ia tangani beberapa hari yang lalu.
Disini mereka berbincang dengan seseorang mengenai perkembangan sampel penelitian ikan itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ikan-ikan yang terdampar dan hal aneh menyelimutinya.
Yang padahal jenis ikan tersebut aslinya tidak memiliki ukuran sampai sebesar itu.
"Dari hasil penelitian, ikan itu memang yang menciptakan bayi dalam perutnya. Ada bekas permulaan benih hingga ke tahap akhir, hanya saja kami belum bisa memastikan. Apakah ikan ini adalah sebuah eksperimen biologis atau mungkin... anomali alam!"
"Aneh, ikan mana mungkin melahirkan bayi manusia. Lalu bagaimana dengan keadaan bayi-bayi itu sekarang pak, katanya ada yang diteliti?" tanya Hani masih penasaran dan ingin lebih bertanya banyak hal.
"Inilah yang membuat saya dan tim lain bingung, karena bayi itu tidak bertahan lama setelahnya. Hanya berselang tiga jam setelah dirinya dikeluarkan dari perut ikan itu!"
Hingga satu jam lamanya mereka berdua berada di laboratorium. Hani bahkan telah puas bertanya.
Hanya saja masih penasaran mengenai ikan itu seperti asal, penyebab tubuh besar di luar ukuran normal, bayi didalam perut, dan kematiannya.
Peneliti bilang ikan itu mati sebelum terdampar di pantai.
__ADS_1
Untuk penyebabnya, masih sebatas dugaan yang tak berujung penjelasan logis maupun ilmiah.
Dari kejauhan Hani melihat pantai itu yang kini sepi tak ada pengunjung lagi. Mungkin pihak berwenang telah menutup pantai yang setiap harinya selalu ramai itu.
Lantaran sebuah temuan aneh untuk sementara waktu.
Sementara bangkai ikan-ikan baru kini masih terlihat belum di angkut.
"Kalau tiap hari ada ikan terdampar dengan isi perutnya yang berisi bayi, apa mungkin pertanda buruk Stefan...?" tanya Hani masih fokus melihat luar jendela mobil.
"Jangan salah, ada keuntungan bagi pihak tertentu juga. Bahkan bayi yang masih bertahan hidup kemungkinan akan di asu oleh kaum yang belum dikaruniai anak, dari informasi yang aku dapatkan alasan mereka mengadopsinya karena, anak itu mereka kira sebagai pembawa keberuntungan. Di sisi lain di anggap sebagai pertanda buruk dan sebagainya seperti anggapan dirimu tadi!"
Mereka memasuki wilayah yang dilarang bagi para pengunjung yang tidak memiliki ijin khusus untuk masuk, dan penjagaan disana sangatlah ketat sebenarnya.
Hanya saja bagi Stefan hal itu bukan masalah baginya ia tetap diijinkan masuk bersama Hani sekaligus.
Kemudian menuju bangkai itu untuk melihatnya dari dekat. Pastinya sebelum menuju ke sana Stefan sempat menanyai keyakinan Hani dalam melihat ikan itu, jika masih ragu ia tidak memperbolehkan Hani untuk melihatnya.
Dan jawaban Hani adalah "siap menerima apapun" asal bisa membunuh rasa penasarannya.
Belum lama melihat bangkai ikan itu Hani nampak merasa mual, namun ia tahan agar Stefan tidak menyuruhnya untuk pulang.
Seperti ikan pada umumnya tidak ada kecurigaan lain dari tampilan luarnya, Hani berpikir jika ikan ini hasil eksperimen mungkin saja bagian luarnya bisa diidentifikasikan.
"Kamu sudah mengerti?" ucap Stefan yang mana membuat Hani kebingungan plus menatapnya lekat.
"Apanya?"
"Huh... Sudah dua puluh menit tiga detik kamu mengamati dan melihat-lihat sekeliling bangkai ikan ini, tapi tidak menemukan hasil maupun kesimpulan!"
"Normal kok. Ilmuan dan peneliti pun kesusahan dalam memecahkan kejadian ini, apalagi aku."
"Harusnya jika aku tahu kamu memiliki peluang mengerti apa yang aku pikirkan."
__ADS_1
"Apa sih, aku ngga ngerti?"