Horror Disturbing

Horror Disturbing
Wabah Mengerikan Part 1


__ADS_3

Tut...


"Han, apa ini kamu?"


"Iya... ini aku, akhirnya aku bisa menghubungi dirimu lagi... hiks..."


"Jangan bersedih Han, aku saat ini terus mencari keberadaan dirimu yang entah ada dimana, tapi mendengar perkataan mu minggu lalu aku jadi berupaya keras untuk mencari mu langsung di kota di kota bernama Tragedy itu, yang sekarang berubah nama!"


"Mas, lebih baik kamu suruh polisi maupun orang pintar untuk menginvestigasi jurang tempat bercak darah diriku jatuh. Di bawah sana aku sempat ambruk kemudian pingsan, dan entah kenapa aku bisa berada di kota yang telah lama hilang ini setelah bangun?"


"Hmm, akan mas sampaikan pada pihak kepolisian setelah ini, tapi bagaimana keadaan kamu sekarang, Mas sangat mencemaskan dirimu?"


"Kondisi aku baik-baik saja Mas, hanya batin aku aja yang selalu ingin cepat-cepat keluar dari kota ini. Untuk sekarang aku dalam keadaan sehat seperti biasa!"


"Syukurlah, Mas jadi tenang sekarang."


Belum selesai berbicara dengan suaminya Hani kini di ganggu oleh suara jeritan seseorang dari luar apartemen yang ia tempati sekarang.


"Eh, ada apa?" ucap Hani terkejut hingga menatap Stefan yang tengah duduk di sofa.


"Mungkin dia melihat sesuatu yang mengerikan," jawab Stefan dingin.


"Ada apa Han? Kamu sepertinya terkejut akan sesuatu disana, bisakah kamu jelaskan situasinya, apa yang terjadi disana?"


"Itu... cuma suara perempuan yang menjerit Mas, yang membuat aku kaget barusan."


•••


Di luar apartemen.


Beberapa orang memasuki rumah salah satu tetangga yang terdengar suara teriakan dan jeritan keras barusan.


Beramai-ramai mereka mengecek keadaan si empunya rumah yang diketahui di tinggali oleh seorang wanita muda yang bekerja sebagai guru.

__ADS_1


Ternyata suara tersebut berasal dari dapur si empunya rumah yang sangat terkejut saat hendak memasuki dapur, ia melihat sarang laba-laba berdiameter tidak normal dari biasa.


Lima orang yang memasuki dapur si empunya pun terkejut saat melihat sebuah telapak tangan manusia yang berada di tengah jaring laba-laba seperti halnya pemilik sarang tersebut.


Berusaha untuk menenangkan wanita yang meringkuk ketakutan di sekitar pintu masuk dapur warga pun ada yang menelpon polisi maupun mengecek telapak tangan tersebut dengan seksama dari dekat.


Kembali pada Hani yang beranjak keluar rumah melihat keramaian di bawah tempat tinggalnya, apartemen yang di sewa Stefan memang memiliki lantai atas.


"Aku mau keluar sebentar, sepertinya apa yang kamu omongkan mungkin saja terjadi!" ijin Hani yang hendak menuruni tangga.


Sudah ada di luar, Hani kini dibuat kebingungan saat melihat banyaknya orang yang mengerumuni didepan rumah diduga sumber suara teriakan barusan berasal.


"Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Hani kepada pria paruh baya yang sedang berjinjit melihat keadaan didalam rumah tersebut.


"Itu, katanya si pemilik rumah ini ketakutan sampai menjerit keras gara-gara melihat sarang laba-laba di dapurnya. Terus yang mengerikan ditemukan pula telapak tangan manusia didalam!" jelas pria paruh baya tersebut dengan ekspresi ngeri dan Hani bisa menangkap itu dari raut wajahnya.


"Emm, makasih pak infonya. Aku akan mengecek keadaan didalam, karena kebetulan aku ini seorang polwan!"


Identitas palsu yang dibuat oleh Stefan tersebut rupanya masih bisa Hani gunakan kapanpun dia memerlukannya tanpa risau terlacak oleh pihak kepolisian, karena identitas tersebut sangat mirip seperti aslinya dan Stefan menggunakan pihak ketiga untuk memperkuat identitas tersebut.


Hani melihatnya, sebuah telapak tangan manusia yang bergerak seperti laba-laba pada sarangnya tengah di ganggu oleh salah satu warga.


"Astaga, apa ini ada hubungannya dengan wabah itu. Ini sangat-sangat mengerikan dari wabah yang pernah aku dengar."


Tanpa berpikir panjang Hani langsung menghimbau para warga di area dapur ini agar berhati-hati untuk tidak menyentuh telapak tangan tersebut.


Menggunakan alat capit yang bisa memanjangkan disesuaikan dengan kebutuhan akhirnya telapak tangan tersebut berhasil diamankan, dan kini dimasukkan kedalam kandang besi berbentuk persegi.


Selain mengambil beberapa foto telapak tangan tersebut dan sarang laba-laba dengan dalih untuk keperluan, Hani mencatat pula kronologi kejadian yang ia dapatkan dari kesaksian para warga dan si empunya rumah.


Meskipun masih dalam keadaan shock wanita tersebut masih sanggup untuk memberikan keterangan kepada Hani.


Hingga polisi datang terdengar dari suara keributan dari luar Hani akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa dicurigai, meskipun salah satu polisi mengetahui Hani sebelumnya menanyakan kesaksian kepada si empunya rumah dan warga layaknya pihak berwajib.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu kan, kejadian ini akan terjadi? Jadi apa ada hubungannya dengan wabah laba-laba yang sedang dirumorkan benar atau tidaknya?" tanya Hani setelah keluar dari rumah wanita itu dan berjumpa dengan Stefan yang sedang menunggu Hani di depan apartemen.


"Aku hanya menebak setelah dia menjerit, dan benar jika kejadian ini ada hubungannya dengan wabah itu, karena wabah yang dikira hoax itu benar-benar nyata!" jawab Stefan dengan ekspresi serius sehingga Hani mempercayai perkataannya.


Hani berpikir jika benar wabah laba-laba tersebut merebak maka dampaknya sangat membahayakan bagi seseorang yang terinfeksi.


"Umm, terus wabah itu bisa membuat seseorang mati kah? Aku dengar hanya berdampak pada pergelangan tangan saja?" tanya Hani lagi kali ini ia terlihat antusias sekali untuk mencari tahu informasi seputar wabah laba-laba.


Stefan yang melihatnya pun agak tersenyum sekilas lalu kembali pada mode dirinya seperti biasa.


"Bisa saja, menurut penyelidikan wabah tersebut bisa menginfeksi seseorang apabila tergigit laba-laba yang terinfeksi, selain itu sentuhan saja bisa berakibat fatal!"


Kemudian Stefan mengajak Hani untuk pergi kesebuah laboratorium guna mengambil penawar wabah laba-laba sebelum banyak korban yang berjatuhan maupun terjangkit wabah mematikan itu.


•••


Sampai di sebuah Laboratorium mereka berdua tengah sibuk saling bantu membantu, Hani berusaha dengan baik dalam membawa sesuatu yang diperlukan oleh Stefan.


Berencana meramu sebuah penawar wabah laba-laba yang sudah disempurnakan beberapa kali hingga bisa langsung digunakan.


Setengah jam kemudian, akhirnya penawar tersebut berhasil di selesaikan bahkan diperbanyak dengan jumlah 20% jumlah penduduk di kota besar ini.


"Berikutnya kita akan pergi ke sebuah desa yang penduduknya sudah terjangkit wabah laba-laba, dan kamu bisa menuliskan sebuah berita menarik juga disana. Melalui gambaran apa yang kamu lihat, tapi pertama-tama kita harus disuntik terlebih dahulu!" ucap Stefan menegaskan tujuan selanjutnya.


Keduanya lalu disuntik serum kekebalan tubuh terhadap virus mematikan yang telah menginfeksi laba-laba.


"Aku takut jarum suntik! Pokoknya aku nggak mau!" tolak Hani menolak untuk disuntik.


Stefan yang sedang terbaring lalu menghela nafas kasar dan berkata.


"Biarkan saja dia tidak disuntik, mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan suaminya lagi!"


"He... Ya udah aku mau disuntik!" ucap Hani sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2