Horror Disturbing

Horror Disturbing
Mimpi Absurd


__ADS_3

Akibat insiden beberapa hari lalu Hani mengalami tekanan mental yang melanda dirinya tak lama setelah kejadian itu pada malam harinya.


Malam itu ia bermimpi buruk ditemui oleh sosok menakutkan dalam mimpi hanya saja saat dirinya hendak lari kakinya sulit untuk digerakkan sehingga sosok menyeramkan tersebut selalu mempermainkan dirinya.


Berlanjut di hari kedua malamnya Hani agak sedikit ketakutan untuk tidur sampai menunggu jika matanya sudah lelah berkedip. Dia akan tidur dengan sendirinya.


Hal itu tanpa sepengetahuan Stefan yang sebelumnya berkata kepada Hani untuk tetap mengistirahatkan dirinya sampai sembuh total.


Entah itu batin maupun fisik keduanya sangat penting.


Namun di malam kedua ini Hani bermimpi buruk untuk yang kedua kalinya yaitu bertemu dengan seorang wanita, tak lama saat dia menatapnya begitu lekat wanita itu berubah menjadi sosok menyeramkan berwajah cantik dengan setengah wajahnya yang mengerikan.


"Huh... huh... aku bermimpi itu lagi..."


Ia terbangun di malam hari dengan nafas tersengal dan selalu memutuskan untuk tidak tidur setelah mengalami mimpi buruk barusan. Menurutnya mimpi itu terlalu nyata untuk ia sebut sebagai ekpektasi.


Malamnya lagi.


"Kamu mengalami mimpi buruk bukan, bagaimana kalau kamu ceritakan mimpimu itu kepadaku?" tanya Stefan saat melihat Hani menonton TV dengan raut ketakutan pada pukul 21.00 dan dirinya masih belum tidur.


Hani menggelengkan kepalanya cepat kemudian pergi ke kamarnya, namun dirinya tidak menyangka jika Stefan sudah berada di dalam kamarnya pada sebuah tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi.


"Aku tidak mau tidur... aku takut sama mimpi itu... seseorang tolong aku..."


"Bukannya kamu ini penakut sekali, takut dengan yang namanya mimpi, jadi bisakah kamu ceritakan mimpi itu?" ucap Stefan membuat Hani terkejut saat dirinya sudah meringkuk pada guling.


"A-aku tadi... cuma..."


"Aku sudah mengetahuinya di hari pertama kamu merasa tidak nyaman, melihat wajah dan keringat serta matamu aku pastikan kamu mengalami mimpi buruk dan mengerikan hari itu, bahkan malam keesokan harinya mimpi itu selalu mengunjungi tidur nyenyak mu."


Hani terperangah tak bisa berkata-kata lagi maupun membantah dirinya yang malu untuk mengatakan mimpi buruk yang dialaminya.


Serta Hani merasa aneh kepada Stefan yang memiliki informasi tentangnya, mengenai mimpi buruk.


Tak disangka selama ini Stefan memahami gerak-gerik Hani, meskipun Hani tidak bercerita padanya maupun memberitahukan secara terang-terangan.


Dan Stefan bisa mengetahuinya hanya dari sudut pandang pengamatan seorang psikiater.


Karena sudah ketahuan Hani pun memohon kepada Stefan agar dirinya terbebas dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya saat tidur.

__ADS_1


"Tolong bantu aku tuan, aku mohon... Aku yakin kamu bukan orang biasa dan bisa membantumu ku!"


Wajah memelas Hani dan tatapan menggoda itu, yang bahkan bisa meluluhkan hati pria manapun tidak mempan pada Stefan.


Dia hanya menganggap Hani adalah anak kecil yang belum dewasa dan tidak mengerti akan sisi hitam dunia. Menurutnya, banyak yang harus Hani pelajari.


Stefan lalu mengatakan "oke" yang kemudian mendapati kotak dari belakang tubuhnya. Berisikan alat dan sesuatu sebagai cara penghilang mimpi buruk.


Hani sempat kaget ia menganggapnya semacam trik sulap.


Di mulai dengan pemanasan ringan yaitu mengatur nafas panjang dan pendek lalu merilekskan pikiran dengan membayangkan sesuatu yang menyegarkan jika dilihat secara langsung.


Dilanjutkan dengan menunjukkan kepada Hani beberapa gambar yang membuat dirinya merasa kuat dari yang sebelumnya, entah gambar apa itu hanya Hani dan Stefan yang tahu.


Kini Hani tidur pulas beberapa menit yang lalu dan belum menunjukkan reaksi apapun, sementara Stefan berada di sampingnya setelah mengambil sebuah kursi.


Di alam mimpinya Hani berada di sebuah bioskop tua lebih tepatnya sudah berada di dalamnya tanpa seseorang selain dirinya.


Sendirian dalam keadaan gelap dan minim akan cahaya itupun berasal dari bulan.


Krett...


Terdengar suara pintu terbuka dengan sendirinya terlihat secara perlahan-lahan menimbulkan suara menakutkan.


Hani menelan salivanya kemudian berusaha untuk melarikan diri dari bioskop tua ini yang terlihat sudah lama tak ditinggali dan terurus.


Tap..tap..tap..


Deg.


Seakan jantungnya akan copot, Hani merasakan ada sesuatu dibawah yang menahan langkah kakinya tepat di pijakan ke tiga.


Di depan layar lebar itu muncul bayangan hitam sedang berlari-lari namun dalam keadaan setengah badan.


Hani sempat melihatnya saat dirinya menengok kebelakang, sementara yang menahan kakinya barusan tidak terasa lagi. Hanya bau anyir dan busuk yang ditinggalkan.


Hani terduduk saat melihat gadis kecil berwajah tidak simetris mulai mendekatinya kemunculannya pun secara tidak terduga.


Hani lalu menangis dan memeluknya lututnya.

__ADS_1


"Apa mimpi ini yang membuatmu ketakutan?"


Suara seorang terdengar seperti suara laki-laki tak asing terdengar oleh Hani, seketika membuatnya tenang saat melihat gadis itu yang masih berjalan mendekatinya.


Di wajahnya terlukis senyum manis lalu perlahan-lahan senyum itu merusak wajahnya.


Pada momen ini sebuah ketenangan Hani rasakan secara mendadak hingga mengikis rasa takutnya, suatu keadaan dimana kesadaran mimpinya sudah di ambil alih oleh dirinya sendiri.


Mengakibatkan ia mengetahui dirinya yang sedang bermimpi dan bebas melakukan apa saja didalamnya, tanpa menuruti alur yang seharusnya terjadi.


Kegelapan dalam tempat ini pun sirna saat lampu menyala dengan sendirinya dan sangat terang. Gadis tersebut terdiam berusaha untuk menghilang. Dan Hani menahannya.


"Heh, saatnya aku balas dendam kepadamu."


Senyuman itu dan seringai tak biasa Hani perlihatkan kepada gadis tersebut lalu saat Hani mengangkat satu tangannya gadis itu terhempas hingga menabrak kursi penonton.


Tempat itu kemudian berubah menjadi tempat menyenangkan dikala dirinya tidak berada didalam bioskop, melainkan di sebuah keramaian perkotaan.


Hani lalu menaruh gadis itu pada keramaian umum, sementara dirinya menyaksikannya dari atas gedung. Dan anehnya dirinya tidak diketahui oleh siapapun.


"Aku sedang bermimpi bukan, dan aku bisa melakukan apapun dalam mimpi ini, semauku tanpa rasa takut dihantui oleh gadis itu, yang sekarang ini telah mendapatkan karmanya," gumam Hani melihat gadis itu dikerubuti oleh orang-orang lalu lalang.


Dalam sebuah percobaan.


Hani membayangkannya sebuah gurun pasir yang tandus sebagai permulaan menentukan mimpinya, ia pun mencobanya lalu dalam sekejap dirinya sudah berada di tengah-tengah gurun pasir seorang dirinya.


Berganti tempat lagi pada sebuah sekolah dasar tempat dirinya dulu menimba ilmu guna bernostalgia, sayangnya hal aneh ditemui oleh Hani sewaktu dirinya memasuki kelas merujuk pada teman sekelasnya.


Murid yang tidak dikenal dan yang seharusnya tidak berada di kelasnya sedang mengobrol. Setahu Hani dia adalah teman akrabnya saat dirinya duduk di kelas sebelas, tapi sekarang terasa aneh saat dia berada di sekolah dasar dan bertemu dengannya di kelas.


Lalu entah mengapa dinding pada sekolah tempatnya roboh, dan dirinya merasa bersalah sekali dilanjutkan dengan dirinya yang secara tak sengaja menjatuhkan pas bunga di meja guru.


Kini Hani merasa seperti dirinya memiliki hutang besar di seluruh dunia padahal hanya memecahkan pas bunga saja.


Gelisah dan rasa khawatir bersarang pada dirinya saat ini, Hani lalu berganti tempat di mimpinya itu pada sebuah pandangan jalanan tak asing baginya dan seperti sering ia lewati.


Tiba-tiba saja saat Hani melihat jalanan perlahan buram hingga tidak terlihat lagi jalanan tersebut,


Mimpi yang sering dirasakan oleh anak kecil Hani mengalaminya lagi.

__ADS_1


Terlihat jalanan yang lurus dan mulus sehingga Hani merasa nyaman entah kenapa, namun disaat jalanan itu tidak rata dirinya merasakan perasaan tidak nyaman.


Dirinya kemudian terbangun di keesokan harinya dalam keadaan sedang di kompres oleh air dingin. Dan Hani merasa jika dirinya sudah membaik dan tidurnya sangat nyenyak.


__ADS_2