
"William dia... mengalami kecelakaan..." gumam Hani merasa lemas dalam sekejap mendengar perkataan William barusan dalam sambungan telepon.
Perkataannya mampu membuat pikiran Hani terbayang bagaimana keadaan William saat ini.
Serta membuat Hani bergidik ngeri membayangkan keadaan sopir pribadinya sekarang ini, walaupun sepenuhnya diberikan Stefan kepada Hani sebagai kemudahan dirinya. Tapi dirinya sekarang merasa bersalah, menganggap bahwa ia telah menyebabkan hal buruk yang menimpa supir itu.
Perasaan bersalah itu kini menghantui kepala Hani membuatnya tidak sadar jika dirinya masih berada didalam tempat wisata.
Matahari kini sudah terbenam dan langit sudah gelap gulita Hani tersadarkan lantaran dirinya mendengar suara alarm pengingat pada ponselnya.
Tentu saja mengetahui dirinya berada di tempat ini sendirian membuat Hani ketakutan dan hampir menjerit histeris.
Namun dirinya seperti halnya mengingatkan agar tidak berteriak dalam situasi ini.
Dalam keadaan gelap gulita ini Hani menggunakan flash pada ponselnya sebagai penerangan di sepanjang perjalanan.
Meskipun dirinya merasa akan pingsan akibat rasa takutnya yang ia tahan Hani tetap memaksakan diri untuk tidak takut dalam keadaannya sekarang.
Membusungkan dadanya dengan percaya diri bahwa dirinya bisa keluar dari tempat wisata ini.
Hani kemudian menekan kontak bertuliskan "bos dingin" yang tak lain adalah Stefan guna meminta bantuan dan mengabarinya kondisinya sekarang.
Sayangnya...
"Maaf... nomor yang anda tu, tu, tujuh sedang tidak aktif!"
Suara operator itu membuat Hani ketakutan hingga ia melemparkan ponselnya tanpa disengaja, sehingga dirinya harus mencari ponselnya terlebih dahulu yang jatuh pada rerumputan.
Mestinya terlihat jelas karena flash pada ponselnya masih menyala, tapi nyatanya sulit untuk Hani temukan.
"Aduh... dimana ponselku ya... padahal aku merasa melemparnya tidak jauh dari sini. Tapi kok ngga ada ya..." ucap Hani kebingungan mencari keberadaan ponselnya yang jatuh sebelumnya. Mendadak sulit ditemukan, padahal ponselnya itu adalah satu-satunya yang bisa ia gunakan sebagai penerangan.
Beberapa saat mencari Hani masih belum kunjung menemukannya membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jalan setapak.
Berharap menuntunnya pada pintu keluar tempat wisata ini.
Berjalan tanpa menoleh kebelakang maupun kesamping Hani berusaha untuk tetap tenang sembari mengatur pernafasannya.
Ia fokuskan diri pada pernafasannya itu dan memblokir segala pikiran negatif.
"Hihihi..."
__ADS_1
Suara cekikikan seperti seorang wanita terdengar tak jauh darinya.
"Jangan pedulikan, jangan pedulikan, jangan pedulikan, jangan pedulikan, jangan pedulikan..." ucap Hani dalam hati tetap pada pendiriannya tidak akan menoleh kebelakang, karena suara itu terdengar dari arah sana.
Tap..tap..tap..
Melihat didepannya ada seseorang berpakaian tentara sedang melakukan gerak jalan semakin membuat bulu kuduk Hani merinding.
Dirinya saat ini melawan mati-matian rasa takutnya yang sudah menyeruak ke seluruh tubuh.
Ia menghentikan langkah dan mundur kebelakang perlahan-lahan memperhatikan seseorang yang tak jelas rupanya dalam kegelapan itu masih melakukan gerak jalan dengan tenang.
Tentara itu lalu tak bergeming beberapa saat membuat Hani menelan salivanya dengan pelan sengaja dibuatnya tidak bersuara mungkin.
Sudah mundur beberapa langkah menjauhi tentara didepannya itu, ia dibuat tercengang saat tentara itu memutar kepalanya 280° derajat tepat menghadap Hani tak jauh darinya.
Hani panik, saat tentara itu bergerak melakukan gerak jalan sembari bergerak dalam posisinya saat ini. Dan menuju ke arahnya.
Membuat Hani lari terbirit-birit memikirkan keselamatannya terlebih dahulu ketimbang keluar dari tempat wisata ini, itulah yang dipikirkannya sekarang.
Sesekali menoleh tentara itu masih mengejarnya tanpa jeda sekalipun yang untungnya dia tidak berlari atau berjalan biasa, melainkan dengan gerak jalan.
"Huf... sepertinya aku sudah lolos dari tentara itu, syukurlah... aku masih bisa selamat," gumam Hani dengan suara kecil menyentuh kedua lututnya karena lelah berlari, dirinya untuk sekarang ini merasa lega.
Gangguan lain Hani temukan setelah pergi ke arah sebelumya berniat mengecek tentara itu yang ia duga adalah hantu, tidak salah lagi.
Mana mungkin ada orang berpakaian tentara dalam kegelapan di tempat wisata seperti ini, bahkan lebih seramnya dia bisa memutarkan kepalanya tanpa bantuan tangan.
Gangguan itu sendiri adalah suara-suara tangisan perempuan maupun laki-laki dewasa menurutnya.
Dor!
Suara tembakan sontak membuat Hani berjingkrak ketakutan sembari mencari asal suara itu dari arah mana.
Karena dirinya sekarang merasa hampir pada batasnya.
"Stefan... tolong aku... hu.. hiks..."
Pada akhirnya Hani tak sanggup menahan rasa takutnya lagi membuatnya melepaskan isi hati yang mengganjal.
Puk.
__ADS_1
Tepukan dari arah belakang membuatnya mematung seketika tubuhnya seperti mati rasa tak mampu untuk digerakkan.
Namun suara yang tak asing baginya menghilangkan rasa takut dalam dirinya setengahnya, meskipun belum di pastikan suara tadi memang suara orang yang Hani kenal.
Dan dia adalah Stefan yang anehnya berada di dekat Hani secara tiba-tiba.
Hani merasa aneh jika Stefan berada didepannya sekarang ini hanya saja instingnya mengatakan jika orang yang didepannya benar-benar Stefan.
Hani lalu memeluknya erat disertai tangisan kecil dan perasaan lega tersalurkan dalam dirinya.
"Baiklah, sudah cukup menangis-nya. Ingusmu mengotori bajuku!" ucap Stefan yang entah mengapa membuat Hani bahagia di saat seperti ini, ia tidak memperdulikan perkataan ejekan Stefan barusan.
"Ternyata memang benar kamu, aku sangat berterimakasih karena kamu berada di dekatku sekarang. Tapi, bagaimana caranya kamu kemari?"
"Itu tidaklah penting," sahutnya dingin seperti biasa yang sekarang ini malah Hani rasakan adalah sebuah kehangatan.
Karena kedua kaki Hani terasa kram serta salah satu kakinya keseleo, Stefan terpaksa mengangkat tubuh Hani seperti pasangan romantis.
Sementara dalam kegelapan itu Hani terlihat menunjukkan senyumannya yang tak pernah pudar semenjak Stefan berada didekatnya sebelumnya.
Tentara yang sebelumnya Hani temui kini terlihat lagi membuat Hani merinding sekaligus bergidik ngeri, ia pun menempelkan wajahnya pada bagian dada Stefan yang terhalang oleh pakaian yang dikenakannya.
Stefan tetap melangkah menuju ke arah tentara itu yang seakan menunggunya, bahkan tentara itu beraninya menodongkan senjata berjenis senapan dikala Stefan belum dekat dengannya.
"Stefan..."
"Tenang saja, hantu sepertinya tidak patut kita takuti. Kamu lebih baik tidur saja!" ujar Stefan.
Beberapa langkah lagi dari tentara itu Stefan lalu melototi ke arahnya hingga dalam sekejap tentara yang memang diduga hantu itu menghilang dengan sendirinya.
Stefan lalu melanjutkan perjalanan pulang seakan dia tahu tempat yang memang mengarah pada pintu utama.
Suara-suara gaduh dan cahaya berasal dari arah samping pada dua jalur membuat Hani penasaran.
"Kenapa kita ngga kesana?" tanya Hani dirinya masih dalam gendongan Stefan.
"Itu cuma penyamaran, hati-hati saat kita melihatnya di hutan, karena itu adalah pasar hantu. Biasanya sering dialami oleh orang pendaki di gunung, tapi hutan pun bisa saja dialami oleh siapa saja yang tersesat!" ujar Stefan, Hani yang mendengarnya antusias manggut-manggut.
"Sekarang kamu lebih baik pejamkan mata dan tidur sejenak!"
Ucapan Stefan barusan tiba-tiba saja membuat Hani merasa mengantuk kemudian ia memejamkan mata lalu terlelap.
__ADS_1