Horror Disturbing

Horror Disturbing
Bertemu Dengannya


__ADS_3

Hari yang cerah menyambut pagi Hani kali ini ia terlihat bersemangat sekali saat terbangun dari tidurnya.


Dan sepertinya Hani tidur nyenyak semalam.


Sementara Stefan tidak peduli pada Hani yang terus terusan tersenyum bahagia saat tengah menyantap sarapannya di meja makan.


Sebelumnya Hani berdandan layaknya anak sekolah dan memakai seragam almamater di bantu oleh para maid, entah mengapa Hani merasa dirinya seolah-seolah akan bertemu dengannya lagi.


Ingatan ketika dirinya belum pernah bertemu dengan suaminya akan terjadi di waktu ini, artinya berubah lebih cepat dibandingkan aslinya. Dan ingatan itu masih membekas sampai sekarang ini.


"Non, ini pita yang non minta."


"Iya Bi, makasih."


"Sama-sama Non, semoga hari pertama masuk Non bisa akrab dengan teman-teman di Sekolah, walaupun cuma sementara saja Non berada di sekolah," ucap Bi Sari seorang pembantu di rumah besar ini dengan ramah kepada Hani.


"Moga aja Bi, ini juga sebenarnya buat diriku agar... eh udah waktunya, aku berangkat ya Bi!"


"Iya, hati-hati di jalan."


Sudah waktunya bagi Hani untuk berangkat ke Sekolah yang dirumorkan tengah ramai di perbincangkan lantaran sering terjadi aktivitas supranatural.


Dan itu selalu terjadi setiap harinya, namun bagi Hani ia rela menahan rasa kekhawatirannya demi mendapatkan bahan berita guna mengurangi jumlah syarat dari Stefan.


Di kelas 11 lebih tepatnya di kelas B guru maupun murid dikejutkan dengan kedatangan seorang murid baru yang diantar langsung oleh Kepala Sekolah, hanya saja statusnya sebagai murid pertukaran.


Tapi mereka masih belum mengetahuinya sekarang.


"Perkenalkan, nama saya Hani dari sekolah xxx sebagai murid pertukaran sementara, mohon bantuannya..." ucap Hani diakhiri dengan senyuman manis yang mampu membuat murid laki-laki terpanah maupun hanyut dalam lamunan.


Mereka menyambut Hani dengan senyum bahagia bercampur antusias menerima murid baru dikelas mereka.


Namun ada satu dari mereka yang terlihat murung.


"Untuk penyelidikan nanti aku harus berhati-hati saat bertanya kepada mereka, lebih nyaman sih... pas jam istirahat!" ucap Hani dalam hati yang kini mendengarkan guru menjelaskan materi.


Dari informasi yang Hani ketahui merujuk pada aktivitas supranatural yang sering terjadi setelah jam istirahat pertama maupun kedua berakhir. Korbannya pasti menangis histeris dan tertawa.

__ADS_1


Seorang utusan Stefan pun pernah memberitahukan kepada Hani agar tidak melamun saat bel masuk istirahat berbunyi.


"Nostalgia banget, aku bisa merasakan hal ini lagi. Mendengar guru menjelaskan materi dan mengerjakan soal-soal. Tapi aku agak terganggu sama dia, entah kenapa laki-laki vibes sad boy itu selalu menatapku terus di waktu murid lain fokus pada yang didepan?" ucap Hani dalam hati.


Ting.. Ting..


Jam istirahat pertama Hani gunakan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Sekolah ini dari murid perempuan yang sudah ia targetkan.


"Begitu ya, jadi selalu di waktu bel istirahat masuk berbunyi."


Mendapati banyak informasi Hani lalu pergi menuju perpustakaan untuk mencatat poin penting yang dapatkan sebelumnya.


"Hanya seperti ini saja kan, dua hari ini aku pergi sekolah untuk mencari informasi, terus udah deh. Oh iya, mas Bram bentar lagi akan datang ke kantor Kepala sekolah, pokoknya aku harus bertemu dengannya!" ucap Hani dalam hati membulatkan tekad.


Saat ia beranjak entah kenapa matanya menjadi mengantuk, namun segera Hani tahan dan bergegas untuk pergi.


Masih ada 10 menit sebelum bel jam pertama istirahat pertama berbunyi.


"Aduh... kenapa aku jadi lemas begini, tunggu!? Apa aku yang bakalan kesurupan? Enggak, enggak aku harus melawan rasa lemas dan kehilangan kesadaran ini!" ucap Hani dalam hati melawan kondisi pada dirinya yang ia duga sebagai pertanda seseorang mengalami kesurupan.


Berjalan agak lunglai Hani sempat menyangga tubuhnya pada dinding dengan berpura-pura memandangi di bawah, dia sekarang ini berada di lantai 1 hendak turun.


Ketika bel istirahat selesai berbunyi terdengar suara tangisan histeris dan teriakan keras dari kelas yang Hani lewati.


"Ada apa dengan diriku, aku mulai kehilangan kesadaran diri. Um... aku harus kuat...!"


Suara-suara pada kepalanya berusaha membuat Hani memejamkan mata.


"Berikan saja dirimu padaku, kau bisa mendapatkan semuanya yang kau inginkan setelah itu!"


Seakan sebuah kemampuan psikis suara itu Hani asumsikan adalah dalang dibalik peristiwa kesurupan massal yang sering terjadi di Sekolah ini.


"Iblis, kamu pasti iblis! Aku tidak salah bukan?"


"Hehe ternyata kesadaran dirimu sangatlah kuat, harusnya dirimu masuk dalam perangkap tipu daya. Dan sayang sekali kau melewatkan kesempatan berharga..."


Hani merasa dirinya seperti tersadarkan dan dirinya kembali membaik seperti semula. Rasa kantuk, lemas, dan lainnya di detik seseorang akan tak sadarkan diri telah Hani lewati.

__ADS_1


"Aku mengerti sekarang, kenapa murid di sekolah ini sering kesurupan. Mereka pasti mengiyakan perkataan iblis itu, dan menurutku tangisan histeris mereka menggambarkan rasa haru terhadap perasaan mereka saat tidak sadarkan diri, sementara tawa mungkin kegembiraan yang mereka alami di dalam alam lain!" ucap Hani berspekulasi.


Mendengar suara histeris para murid membuat Hani berambisi untuk menyingkirkan iblis itu dari sekolah ini, apapun caranya.


Di satu sisi Hani berpikir kenapa dirinya bisa lolos dari pengaruh iblis dalam kepalanya sebelumnya?


Saat Hani berbalik dan hendak melanjutkan langkah ia menabrak sesuatu.


Bruk!


"Ah!"


"Kamu baik-baik saja, maaf aku sedang terburu-buru pergi! Sini aku bantu kamu berdiri."


"Mas... Bram?"


"Apa kamu menyebut namaku tadi?"


"Tidak, tidak aku hanya menyebut asal!" ucap Hani sembari mengibaskan kedua telapak tangannya didepan Bram.


"Wajahmu memerah, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Hani dibuat gelagapan padahal tujuannya pergi menuju arah kantor untuk bertemu dengan Bram.


Saat Bram menyentuh tangannya Hani langsung tak tahan kemudian pergi meninggalkan Bram dengan ekspresi kebingungan.


Sebenarnya dalam waktu asli Bram mengurungkan niatnya untuk bersekolah disini lantaran mendengar suara histeris murid di kelas-kelas lain seperti orang kesurupan.


"Apa kamu yakin tidak bersekolah di sini, tapi... menurut ayah adalah pilihan baik," ucap ayah Bram agak berbisik.


"Aku mau sekolah disini saja yah!"


"Apa? Bukannya kamu sebelumnya menolak dengan tegas untuk tidak sekolah disini dengan dalih tidak cocok?"


"Ya... tapi itu beberapa menit yang lalu. Ayah ingat apa yang pernah ayah katakan padaku, terkadang seseorang selalu berubah-ubah tidak tetap!"


Hani bergegas kembali ke kelasnya melewati keramaian pada kelas yang terdapat murid kesurupan.

__ADS_1


Kebetulan karena dikelasnya ada tiga orang kesurupan Hani pun memanfaatkan kesempatan ini untuk penyelidikan.


__ADS_2