
Merasa dirinya telah membuat Bi Asri teringat akan hal buruk yang pernah dialaminya Hani pun memutuskan untuk tidur.
Menyudahi obrolannya dengan Bi Asri dengan dalih dirinya sudah mengantuk berat, alhasil Bi Asri percaya dan bergegas pergi meninggalkan kamar Hani sembari mengucapkan selamat malam padanya.
"Jika benar cerita legenda yang dikatakan oleh Bi Asri, kalau begitu beliau takut menceritakannya kepadaku, karena bisa saja merenggut nyawanya," ucap Hani bergumam dengan suara kecil.
"Tapi aku penasaran sekali pada cerita legenda itu, jadi bagaimana ya aku mengetahui cerita itu dari orang lain yang tidak percaya pada takhayul? Hmm, oh iya, pertama-tama aku akan memastikan terlebih dahulu cerita itu. Terus mencari orang-orang dari kategori umur Bi asri maupun di bawahnya, dan aku memiliki cara selamat jika benar orang yang menceritakan cerita legenda itu akan mati!" lanjutnya bergumam panjang lebar antusias untuk memastikan kebenaran cerita legenda yang dikatakan oleh Bi Asri.
Sementara di satu sisi tak diketahui oleh siapapun Stefan sedang mendengarkan gumamam Hani dari depan pintu kamarnya.
Esoknya, Hani bekerja seperti biasa sebagai seorang penulis berita sekaligus terjun kelapangan untuk mencari bahan berita supranatural maupun aneh di kota ini.
Dirinya masih kepikiran mengenai Horison yang sampai sekarang ini belum ada kabar sama sekali.
Serta dirinya teringat akan lawakan mas Difan yang dengan segala kelucuannya seperti halnya seorang pelawak. Hani rindu pada perkataannya itu.
Di tempat kerjanya lebih tempatnya ruangan khusus Hani bekerja, ia sedang meninjau kembali para klien yang ingin bertemu dengannya.
Mereka mengirimkan ceritanya dalam sebuah aplikasi pesan untuk meyakinkan Hani, namun.
Memilih dari banyaknya klien untuk ia datangi dan meminta mereka menceritakan kisah supranatural maupun aneh dan sebagainya dengan sebuah bukti konkret. Sebagai penambahan.
Dengan ini kuota berita sebagai pengurangan agar dirinya keluar dari kota ini telah tercukupi, tinggal Hani selesaikan secara perlahan-lahan.
"Aku merasa sudah seperti akan terbebas saja dari pekerjaan ini, terus kembali kehidupanku yang dulu. Setelah keluar dari tempat ini."
Ruangan sebesar kamar kos-kosan itu lumayan nyaman dan tersedia beberapa kebutuhan para karyawan Perusahaan sehingga bisa dikatakan memanjakan mereka.
Bahkan ruangan setiap karyawan di bagian khusus ini kedap akan suara.
Istirahat sebentar setelah melakukan pekerjaannya selama tiga jam ini Hani menggunakannya untuk mencari artikel tentang kota Tragedy yang entah mengapa baru ia pikirkan lagi.
"Ck, kenapa nggak ada sama sekali!? Apa ada yang sengaja menghilangkan informasi mengenai kota tragedy secara keseluruhan? Kalau begitu siapa orangnya?" ucap Hani kesal melihat di layar monitornya tertulis tidak ada informasi terkait dari pencarian yang anda cari.
__ADS_1
Dirinya bahkan menyesal karena terlambat mencari tahu informasi tentang kota Tragedy sebelumnya.
"Arg, biarkan saja. Suka-suka orang itu mau menghapus informasi tentang kota ini, aku pasti akan mencari alternatif lain bwee..." kini Hani menjulurkan lidahnya didepan monitor sembari menaruh satu jarinya untuk menarik bagian bawah mata.
Sementara di saat bersamaan seseorang yang tengah duduk di kursi kebesarannya terlihat tersenyum menyeringai lalu ditutup dengan senyum simpul sekilas.
Ting!
Sebuah pesan muncul di layar ponselnya yang berada di dekat keyboard, Hani lalu mengeceknya.
Dua jam sebelumnya, Hani sempat memberi tugas kepada bodyguard yang dipekerjakan oleh Stefan, untuknya. Guna mencari informasi data diri seseorang dikisaran umur 46-50 tahun.
Membuka file khusus berisi data diri orang-orang dalam kisaran umur yang dibutuhkan, Hani lalu mengecek setiap data diri seseorang secara berurutan.
Informasi tersebut dengan mudah didapatkan oleh bodyguardnya lantaran ahli dalam bidang IT dan hack.
Di jam istirahat kedua Perusahaan, Hani tidak makan siang di Kantin biasanya. Ia malah keluar untuk membeli makanan di luar.
Namun belum menyanggupi niatannya itu Hani berpapasan dengan salah satu bodyguardnya, kebetulan mencarinya untuk membahas tentang data seseorang yang dibutuhkan.
Ternyata setelah di tanya bodyguardnya itu mengetahui apa tujuan Hani memintanya mencari data seseorang dalam kisaran tahun kelahiran dan umur tertentu.
Dia bernama Alexander seorang mahasiswa jurusan psikologi yang juga pandai dalam ilmu komputer.
Sampai di tempat tujuan ternyata orang itu sudah menunggu kedatangannya di halaman depan, lalu menyuruh Hani dan Alexander untuk masuk. Kemudian berucap hendak menceritakan kisah legenda kota ini.
Hanya saja ada ekspresi terlalu berlebihan yang ia lihat dari pria paruh baya yang duduk tak jauh didepannya ini.
Yang sebenarnya Alexander sudah melakukan mind control padanya sebelumnya.
"Tapi bapak tidak perlu menceritakan secara lisan, tapi tulis saja dalam sebuah buku!" pinta Hani.
"Huh? Bukannya saya sudah bilang tidak percaya pada mitos itu nona, jadi apa alasannya?"
__ADS_1
"Walaupun bapak bilang begitu dan sudah mendatangi perjanjian, saya merasa tidak enak jika mitos itu nantinya benar-benar nyata, maka saya menemukan ide sebagai pengaman!" jelas Hani terlihat meyakinkan.
Pria paruh baya itu lalu menulis cerita legenda kota Tragedy pada secarik kertas hingga usai.
Selesai menulis iapun beranjak bangkit untuk pergi ke kamar kecil sebentar, sementara Hani membaca isi secarik kertas didepannya.
Dikatakan kota ini dikutuk oleh seorang penyihir karena dendam pribadi yang tidak diketahui kejelasannya.
Mengakibatkan terjadinya kejadian aneh, karena sebab akibat di luar nalar dan makhluk astral seakan berkeliaran bebas menampakkan wujudnya. Serta berbagai hal supranatural lainnya.
"Jadi karena seorang penyihir mengapa kota ini menjadi seperti ini, walaupun terlihat aman-aman saja, tapi itu adalah covernya."
"Benar nona muda, saya sependapat. Um... saya ingin bertanya kepada nona, apa boleh?"
"Boleh, gapapa kok."
"Sebenarnya nona terjebak didalam kota ini bukan, ah maaf jika saya lancang."
Hani sedikit menundukkan wajahnya lalu detik berikutnya melihat Alexander dengan sedih, bukan bingung dan penasaran kenapa dia bisa mengetahuinya.
"Iya, aku ini terjebak di kota aneh ini..."
"Begitu ya, berarti anggapan saya benar. Tapi apa nona pernah berpikiran untuk keluar dari tempat ini, pasti nona memiliki kehidupan yang baik sebelum terjebak di kota ini!"
Tanpa sadar Hani sedang dalam pengaruh psikologi yang dilakukan oleh Alexander.
"Yaa, aku memilih kehidupan yang baik-baik saja. Namun ada masalah dalam kehidupan tenang-tenang itu. Itulah mengapa aku sedang berjuang keras untuk keluar dari tempat ini, dengan cara..."
Prang!
Belum usai Hani bicara ia dikagetkan dengan suara gaduh yang mengharuskan dirinya beranjak pergi ke sumber suara diikuti oleh Alexander.
Ternyata pria paruh baya itu tertindih oleh sebuah lemari besar berisikan koleksi pas bunga berbagai bentuk dan jenis.
__ADS_1
Setelah menyelamatkan pria itu dari jatuhan lemari Hani shock lantaran tubuh orang yang sebelumnya menulis cerita legenda mengenai kota Tragedy penuh akan pecahan pas bunga yang menancap.
Membuatnya tewas di tempat, sementara Alexander dengan sigap menenangkan Hani seraya memeluknya.